PANDEMI DAN RESOLUSI 2021
Oleh : Siti Dhomroh, S. Pd
Tahun
2020 merupakan tahun yang sangat bersejarah sepanjang kehidupan saat ini.
Bagaimana tidak, merebaknya virus corona pertama kali di Wuhan akhir tahun 2019
membuat guncang seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sekitar bulan Februari
2020 berita virus corona masuk Indonesia semakin membuat masyarakat gelisah.
Awal bulan Maret sampai pertengahan begitu genting situasi masyarakat dengan
merebaknya virus corona. Saat itu dunia Pendidikan pada jenjang SMA dan SMK
sedang melaksanakan Ujian Sekolah. Begitu Covid-19 ini ditetapkan sebagai
pandemi, saat itu juga semua aktivitas Pendidikan dihentikan total. Beberapa
sekolah yang tengah melaksanakan Ujian Sekolah terpaksa berhenti dan diganti
dengan alternatif penilaian yang lain. Pemberhentian aktivitas ini tidak hanya
di dunia Pendidikan, aktivitas ekonomi, sosial dan budaya tidak luput terkena
imbas dari pandemi ini. Pembatasan untuk aktivitas sosial saat itu sangat
dibatasi oleh pemerintah.
Pandemi
Covid-19 ini menjadi wabah yang menakutkan di tengah masyarakat. Orangtua
merasa khawatir dengan keselamatan anggota keluarganya. Karena aktivitas sosial
manusia dibatasi oleh pemerintah, maka menjadikan timbulnya peradaban baru.
Berbagai pekerjaan yang asalnya dilakukan secara tatap muka kini harus
dilakukan secara online. Tak terkecuali di dunia Pendidikan. Pemberhentian
aktivitas belajar mengajar di dunia Pendidikan, menuntut perubahan pola
pembelajaran baru, dari tatap muka di kelas nyata menjadi pertemuan maya
melalui sambungan internet. Hasilnya efektif atau tidak, tetap dilaksanakan dan
diselesaikan secara online.
Berbagai
permasalahan timbul akibat pola pembelajaran baru. Banyak sekolah, guru,
orangtua bahkan peserta didik yang mengeluhkan berbagai permasalahan antara
lain, tidak adanya akses internet, paket data internet yang minim dan tidak
memiliki HP android. Yang kesemuanya itu syarat untuk pembelajaran online. Seiring
berjalannya waktu permasalahan-permasalahan itu dapat diselesaikan dengan
berbagai macam solusi, yang terpenting peserta didik tetap dapat melaksanakan
aktivitas belajarnya. Diantaranya penggunaan dana BOS yang lebih fleksibel,
adanya system luring (TVRI dan RRI), adanya guru kunjung dan paket data dari
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk guru dan peserta didik.
Kebijakan
pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat pandemi Covid-19
untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), menuntut guru berupaya lebih
dari biasanya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini merupakan kombinasi dari
pembelajaran tatap muka dan online/dalam jaringan. Ada beberapa satuan
Pendidikan yang salah paham tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang
beranggapan bahwa PJJ adalah pembelajaran online. Akibatnya ada beberapa
peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi dan infrastruktur tidak dapat
mendapatkan hak yang sama dengan teman-temannya yang tergolong mampu. Padahal
mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan materi dan layanan dari
sekolah. Guru atau pihak sekolah dapat melakukan kunjungan ke rumah (home
visit) atau yang lebih popular saat pandemi ini adalah guru kunjung. Namun
kegiatan guru kunjung ini sangat banyak menyita waktu guru, di mana guru harus
melakukan perjalanan yang menantang dengan medan tempuh yang tidak seperti
biasanya dan peserta didik yang dikunjungi tersebar di wilayah yang berjauhan.
Saya sebagai orangtua sekaligus guru,
sangat merasakan betapa beratnya menjalankan kedua profesi itu di masa pandemi
ini. Saya harus melakukan pembelajaran online yang persiapannya jauh melebihi
persiapan dari pembelajaran tatap muka. Disamping pembelajaran online, beberapa
peserta didik yang menginginkan untuk guru kunjung juga harus dilayani.
Demikian juga sebagai orangtua yang memiliki putra putri juga sedang mengikuti
pembelajaran online dari sekolah masing-masing.
Awal-awal melakukan pembelajaran
online, guru kunjung dan mendampingi anak sendiri di rumah begitu sangat
menyenangkan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan kami lalui dengan perjuangan
yang sungguh luar biasa. Dengan berbagai macam tantangan dan hambatan kami
atasi bersama menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Sebagai seorang guru, saya merasakan
bahwa pembelajaran online seperti saat ini tidak maksimal. Menyampaikan materi
dan menkondisikan peserta didik saat online, jauh dari harapan. Saya tidak
dapat melihat langsung bahasa tubuh mereka, respon mereka bisa menerima atau
tidak materi yang diajarkan sangat sulit, akibatnya sebagai guru harus menerima
hasil apapun yang dicapai peserta didik. Guru harus percaya atas apapun usaha
yang dilakukan peserta didik baik saat proses belajar online maupun saat
penilaian.
Sebagai orangtua yang mendampingi
anak belajar online semua mata pelajaran, sungguh luar biasa. Saat profesi guru
menuntut belajar online atau saat berkunjung ke rumah peserta didik, sementara
anak sendiri membutuhkan pendampingan maka kepentingan yang lebih besar yang
didahulukan. Banyak orangtua saat ini baru menyadari, betapa luar biasanya
profesi seorang guru yang harus memahami berbagai macam karakter anak. Jika
satu kelas terdiri dari 36 peserta didik maka bapak ibu guru harus sabar
mendampingi dan menuntaskan materi untuk anak sebanyak itu. Sebagian besar guru
SMA atau SMK mengajar 3 – 12 kelas dalam seminggu.
Bagi orangtua yang awam, mereka tidak
dibekali ilmu pedagogic, bagaimana cara mengajar yang baik, bagaimana
menuntaskan materi-materi pelajaran yang beragam karena mereka berasal dari
berbagai profesi yang beragam. Bulan-bulan di akhir semester ganjil tahun
pelajaran 2020/2021 adalah bulan yang begitu menjenuhkan bagi para orangtua dan
peserta didik. Anak-anak merindukan teman-temannya, guru-gurunya dan lingkungan
sekolahnya, demikian juga dengan guru-guru yang begitu merindukan berkumpul
lagi dengan peserta didik.
Seiring dengan pengetahuan tentang
pandemi Covid-19 ini, maka pemerintah sedikit melonggarkan aktivitas sosial
dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat seperti 3 M yaitu Menjaga
jarak, Mencuci tangan dan Memakai masker. Beberapa daerah yang merupakan zona
orange, kuning dan hijau dapat melaksanakan tatap muka dengan menerapkan aturan
shift/blok dan tetap mentaati protocol kesehatan yang ditetapkan oleh
pemerintah. Bagi sekolah-sekolah yang dapat melakukan pembelajaran tatap muka,
ini merupakan momen melepaskan kerinduan dengan peserta didik yang selama ini
hanya ditemui melalui dunia maya. Dengan segala kemampuan dan batasan, guru
memanfaatkan waktu yang sangat terbatas dalam layanan tatap muka ini.
Dengan adanya pandemi Covid-19 ini
kita menyadari, bahwa anak-anak kembali ke madrasah pertamanya yaitu rumah.
Anak-anak kembali bersama dengan guru pertamanya yaitu ibu, yang mengajarkan
bagaimana belajar makan yang awalnya dengan pertolongan kemudian harus mandiri,
belajar berbicara secara berulang-ulang, belajar berjalan yang awalnya
dibimbing, jatuh bangun secara berulang, kemudian harus dilakukan sendiri, yang
mengajarkan kepada anak untuk tidak berputus asa. Semua itu adalah naluri
seorang ibu yang diajarkan secara turun temurun oleh kakek neneknya dengan
kondisi lingkungan yang ada. Untuk pembelajaran yang bersifat akademik, tidak
semua orangtua memiliki bekal ilmu pedagogic kecuali mereka yang melanjutkan
pendidikan tinggi di fakultas keguruan.
Selama ini, sebelum Covid-19 merebak,
selama 7 – 8 jam anak-anak berada di lingkungan sekolah, mereka belajar
pembentukan karakter bersama guru dan lingkungan sekolahnya. Pandemi Covid-19
ini memberikan kesempatan kepada semua orangtua untuk kembali menanamkan
karakter kepada anak-anak mereka, menebus semua kealpaan selama ini. Orangtua
dapat menciptakan kebiasaan positif bersama anak-anaknya selama masa pandemi
ini. Contoh kegiatan yang menghasilkan kebiasaan positif ini dapat berupa makan
bersama, sholat berjamaah, mengaji dengan saling menyimak, membersihkan rumah
dan pekarangan secara bersama-sama, olahraga dan kegiatan-kegiatan lain yang
positif yang dilakukan bersama. Kebiasaan ini dapat menjadi bekal anak untuk
menghadapi masa depannya dengan berbagai macam tantangan dan hambatan.
Dalam masa pandemi ini, tidak membuat
guru menyerah begitu saja. Sebagai guru harus tetap menggali pengetahuan dan
keterampilan untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan akses layanan belajar bagi guru dalam
masa pandemi ini baik itu program guru belajar, guru berbagi maupun
webinar-webinar. Banyaknya webinar yang diadakan oleh berbagai macam Lembaga
atau instansi membuat guru harus pandai memilah dan memilih dengan tetap
menjalankan tugas utamanya.
Untuk
membangun kehidupan sosial, beragama, berbangsa dan bernegara, dasarnya adalah
Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses bimbingan yang tidak akan pernah
berakhir dan selalu mengikuti denyut nadi kehidupan manusia. Dengan Pendidikan
manusia akan memiliki kecerdasan, baik itu kecerdasan intelektual (IQ),
kecerdasan emosi (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ), sehingga tercipta
kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai dan tertata rapi.
Pendidikan mampu mengubah dan merekontruksi pola pikir anak manusia menjadi
lebih baik. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari segala upaya yang digunakan
untuk mengembangkan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dilihat
dari pendidikan yang digelutinya.
Masa
depan Bangsa Indonesia ditentukan oleh generasi mudanya. Generasi muda ini
dibentuk dari mulai pendidikan dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Untuk
membentuk generasi muda yang kuat maka harus dimulai dari pendidikan dasar,
sebagai pondasi dalam menanamkan pendidikan karakter yang merupakan suatu
keharusan. Banyak peristiwa di dunia pendidikan yang menguras energi para ahli
untuk diselesaikan, antara lain perundungan (Bullying), perkelahian antar
pelajar baik di sekolah sendiri maupun di luar sekolah, pernikahan dini,
pergaulan bebas antar pelajar dan masih banyak lagi masalah lainnya.
Penanaman pendidikan karakter dapat
dimulai dengan menanamkan kearifan local daerahnya. Semenjak kecil ditanamkan
kecintaan dan kebanggan terhadap keunggulan local daerahnya. Tentang cerita
rakyat, legenda, cerita religi atau biografi tentang tokoh daerah, yang
memberikan motivasi mereka akan mimpi-mimpi mereka di masa depan.
Berikut harapan ditahun 2021 :
1. Kelas bawah setiap jenjang pendidikan (Kls
1, 7 dan 10) diajarkan oleh guru hebat DIKI (Dedikasi, Inovatif, Kreatif dan
Inspiratif).
Pada jenjang SD kelas 1,
2 dan 3 disebut kelas rendah. Di jenjang inilah dasar Pendidikan kita. Berawal
dari sinilah pendidikan anak Indonesia dimulai. Mempersiapkan peserta didik di
kelas rendah dengan baik maka akan memudahkan untuk mempersiapkan jenjang
Pendidikan berikutnya. Begitu juga
dengan jenjang SMP dan SMA/SMK, kelas bawah yaitu kelas 7 di jenjang SMP dan
kelas 10 di jenjang SMA/SMK merupakan awal pembentukan karakter di jenjang itu,
karena peserta didik baru cenderung berubah mengikuti kondisi lingkungan
barunya.
Kelas bawah inilah yang
harus diajar oleh guru-guru hebat yang memiliki dedikasi tinggi. Guru yang
memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan, memiliki tanggung jawab
terhadap kemajuan peserta didiknya secara akademik, selalu berinovasi dalam
proses belajar mengajar, kreatif dan selalu menginspirasi peserta didik maupun
rekan sejawatnya. Di bawah bimbingan guru-guru hebat inilah akan terlahir
anak-anak yang luar biasa. Seperti anak-anak yang belum lancar membaca dan
menulis atau belum lancar berhitung, bukan merupakan masalah bagi guru-guru
hebat, namun itu sebuah tantangan yang harus dicarikan solusi pemecahannya. Sehingga
akan terbiasa mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah.
Demikian juga pada kelas
bawah SMP dan SMA/SMK. Kelas ini merupakan kelas pembentukan pada jenjang
masing-masing. Karena pada jenjang ini anak sudah harus memikirkan kelanjutan
Pendidikannya yang lebih tinggi. Pengaruh lingkungan sosial begitu besar di
jenjang ini, maka diperlukan sosok guru hebat yang mendampingi dan membimbing
mereka sepenuh hati.
Pada jenjang SMA/SMK,
peserta didik mulai kelas X harus mempersiapkan diri untuk memikirkan
kelanjutan Pendidikan ke perguruan tinggi. Pada kelas bawah inilah diperlukan
sosok guru-guru hebat yang menginspirasi mereka untuk menggapai mimpi-mimpinya.
Sehingga pada kelas selanjutnya mereka akan memperbaiki diri dan terus
meningkatkan prestasi demi masa depannya.
2. Pengurangan struktur kurikulum.
Padatnya struktur
kurikulum SMA saat ini membuat peserta didik tidak dapat belajar secara
maksimal. Kelompok wajib A terdiri dari 6 mata pelajaran, kelompok wajib B
terdiri dari 3 mata pelajaran, kelompok peminatan terdiri dari 6 mata pelajaran
di kelas X dan 5 mata pelajaran di kelas XI dan XII. Beban belajar kelompok
wajib A dan B adalah 24 JP, kelompok peminatan dan lintas minat adalah 18 JP di
kelas X dan 20 JP di kelas XI dan XII. Ditambah lagi dengan muatan local daerah
yang masing-masing kelas 2 JP, sehingga beban belajar kelas X adalah 44 JP,
kelas XI dan XII adalah 46 JP.
Pada kelompok peminatan,
adanya mata pelajaran lintas minat juga menambah beban tersendiri bagi sekolah.
Mata pelajaran lintas minat yang seyogyanya diberikan sesuai dengan minat
peserta didik, namun karena sekolah terkendala juga dengan jumlah tenaga
pengajar yang tidak sesuai dengan permintaan peserta didik terhadap mata
pelajaran lintas minat tersebut, akhirnya mata pelajaran lintas minat diberikan
kepada peserta didik berdasarkan jumlah tenaga pengajar yang tersedia.
Selain itu kebutuhan
tenaga pendidik juga sangat berpengaruh terhadap mata pelajaran yang ganda.
Misalnya pada mata pelajaran sejarah dan matematika. Pada kedua mata pelajaran
itu terpecah lagi menjadi sejarah indonesia sebagai mata pelajaran wajib dan
sejarah pada kelompok peminatan IPS. Demikian juga mata pelajaran matematika,
ada matematika di kelompok wajib dan ada matematika di kelompok peminatan MIPA.
Sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peminatan IPS dan atau MIPA yang lebih
banyak, maka akan kekurangan tenaga pengajar pada kedua mata pelajaran
tersebut.
Struktur kurikulum untuk
SMA perlu ditinjau ulang terutama jumlah beban belajar yang banyak dengan
adanya mata pelajaran ganda (matematika dan sejarah). Sebaiknya kedua mata
pelajaran itu dijadikan mata pelajaran wajib saja untuk seluruh peminatan tanpa
harus menjadi mata pelajaran peminatan. Untuk mata pelajaran lintas minat, pada
kelas X dan kelas selanjutnya, cukup dengan satu mata pelajaran dengan beban
belajar yang sama dengan mata pelajaran peminatan. Jumlah jam pada mata
pelajaran peminatan kelas X dan kelas selanjutnya sebaiknya disamakan sehingga
waktu belajar seluruh kelas menjadi sama.
3. Membangun iklim sekolah negeri seperti iklim
di pesantren.
Suasana sekolah yang
tenang dan nyaman adalah dambaan semua orang. Dengan suasana yang tenang dan
nyaman, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan hati yang damai.
Kedamaian ini akan dirasakan oleh seluruh warga sekolah, baik peserta didik,
tenaga pendidik maupun tenaga kependidikannya. Untuk menciptakan suasana yang
tenang dan nyaman ini diperlukan sebuah penciptaan iklim dari seluruh warga
sekolah layaknya suasana iklim di pesantren.
Pembiasaan
praktik-praktik baik di pesantren bisa diadopsi untuk diterapkan di sekolah negeri.
Misalnya, pembiasaan bersalaman dan mengucap salam kepada warga sekolah, pembiasaan
sebelum memulai dan saat mengakhiri pembelajaran dengan membaca do’a dan
surat-surat pendek yang dipandu oleh guru saat jam tersebut, sholat berjamaah,
imtaq setiap hari jum’at dengan pembacaan Asma’ul Husna secara rutin, adanya
program tahfidz yang dimotori oleh guru yang berkompeten di bidang itu di
setiap kelas dan secara berkala dilakukan uji public dengan disaksikan oleh
seluruh warga sekolah dan orangtua/wali, atau program-program lain yang bisa
diterapkan melalui program pembiasaan.
Untuk sekolah-sekolah
yang memiliki peserta didik beragama selain Islam, kegiatan-kegiatan keagamaan
disesuaikan dengan praktik-praktik baik yang ada pada agama masing-masing
dengan melibatkan guru-guru yang beragama sama.
Jika pembiasaan itu
diterapkan di sekolah, akan berimbas pada pembentukan karakter peserta didik
dan suasana iklim yang tenang dan nyaman di sekolah. Iklim inilah yang akan
membawa suasana tenang untuk belajar mengajar dan akan terbawa juga saat
peserta didik berada di lingkungan rumah dan masyarakat. Pembentukan karakter
yang demikian di sekolah maupun di rumah dapat mengurangi permasalahan yang
terjadi di dunia pelajar, misalnya perundungan (Bullying), perkelahihan,
pergaulan bebas, dll.
4. Tersedianya bahan bacaan kearifan dan
keunggulan daerah secara elektronik.
Koleksi bacaan di
perpustakaan yang itu-itu saja atau tidak up to date membuat peserta
didik malas untuk mengunjunginya. Terlebih lagi sekarang semua peserta didik
memiliki akses internet yang tidak terbatas. Harapan saya di tahun ini adalah
adanya bahan bacaan buku cerita dari semua daerah di Indonesia yang di
klasifikasikan berdasarkan usia. Bahan bacaan itu dapat berupa cerita religi,
legenda, cerita tokoh pahlawan daerah atau cerita-cerita menarik lainnya yang
mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia.
Dengan adanya
cerita-cerita yang mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia, maka
anak akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya dan bangga terhadap
keberagaman Indonesia. Mereka akan termotivasi untuk menggapai mimpinya untuk
membangun daerahnya. Bahan bacaan cerita yang menarik ini dapat dibuat secara
elektronik, sehingga dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar