Rabu, 15 September 2021

PANDEMI DAN RESOLUSI 2021

 

PANDEMI DAN RESOLUSI 2021

Oleh : Siti Dhomroh, S. Pd

 

 

Refleksi 2020

            Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat bersejarah sepanjang kehidupan saat ini. Bagaimana tidak, merebaknya virus corona pertama kali di Wuhan akhir tahun 2019 membuat guncang seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sekitar bulan Februari 2020 berita virus corona masuk Indonesia semakin membuat masyarakat gelisah. Awal bulan Maret sampai pertengahan begitu genting situasi masyarakat dengan merebaknya virus corona. Saat itu dunia Pendidikan pada jenjang SMA dan SMK sedang melaksanakan Ujian Sekolah. Begitu Covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi, saat itu juga semua aktivitas Pendidikan dihentikan total. Beberapa sekolah yang tengah melaksanakan Ujian Sekolah terpaksa berhenti dan diganti dengan alternatif penilaian yang lain. Pemberhentian aktivitas ini tidak hanya di dunia Pendidikan, aktivitas ekonomi, sosial dan budaya tidak luput terkena imbas dari pandemi ini. Pembatasan untuk aktivitas sosial saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah.

            Pandemi Covid-19 ini menjadi wabah yang menakutkan di tengah masyarakat. Orangtua merasa khawatir dengan keselamatan anggota keluarganya. Karena aktivitas sosial manusia dibatasi oleh pemerintah, maka menjadikan timbulnya peradaban baru. Berbagai pekerjaan yang asalnya dilakukan secara tatap muka kini harus dilakukan secara online. Tak terkecuali di dunia Pendidikan. Pemberhentian aktivitas belajar mengajar di dunia Pendidikan, menuntut perubahan pola pembelajaran baru, dari tatap muka di kelas nyata menjadi pertemuan maya melalui sambungan internet. Hasilnya efektif atau tidak, tetap dilaksanakan dan diselesaikan secara online.

            Berbagai permasalahan timbul akibat pola pembelajaran baru. Banyak sekolah, guru, orangtua bahkan peserta didik yang mengeluhkan berbagai permasalahan antara lain, tidak adanya akses internet, paket data internet yang minim dan tidak memiliki HP android. Yang kesemuanya itu syarat untuk pembelajaran online. Seiring berjalannya waktu permasalahan-permasalahan itu dapat diselesaikan dengan berbagai macam solusi, yang terpenting peserta didik tetap dapat melaksanakan aktivitas belajarnya. Diantaranya penggunaan dana BOS yang lebih fleksibel, adanya system luring (TVRI dan RRI), adanya guru kunjung dan paket data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk guru dan peserta didik.

            Kebijakan pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat pandemi Covid-19 untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), menuntut guru berupaya lebih dari biasanya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini merupakan kombinasi dari pembelajaran tatap muka dan online/dalam jaringan. Ada beberapa satuan Pendidikan yang salah paham tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang beranggapan bahwa PJJ adalah pembelajaran online. Akibatnya ada beberapa peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi dan infrastruktur tidak dapat mendapatkan hak yang sama dengan teman-temannya yang tergolong mampu. Padahal mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan materi dan layanan dari sekolah. Guru atau pihak sekolah dapat melakukan kunjungan ke rumah (home visit) atau yang lebih popular saat pandemi ini adalah guru kunjung. Namun kegiatan guru kunjung ini sangat banyak menyita waktu guru, di mana guru harus melakukan perjalanan yang menantang dengan medan tempuh yang tidak seperti biasanya dan peserta didik yang dikunjungi tersebar di wilayah yang berjauhan.

Saya sebagai orangtua sekaligus guru, sangat merasakan betapa beratnya menjalankan kedua profesi itu di masa pandemi ini. Saya harus melakukan pembelajaran online yang persiapannya jauh melebihi persiapan dari pembelajaran tatap muka. Disamping pembelajaran online, beberapa peserta didik yang menginginkan untuk guru kunjung juga harus dilayani. Demikian juga sebagai orangtua yang memiliki putra putri juga sedang mengikuti pembelajaran online dari sekolah masing-masing.

Awal-awal melakukan pembelajaran online, guru kunjung dan mendampingi anak sendiri di rumah begitu sangat menyenangkan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan kami lalui dengan perjuangan yang sungguh luar biasa. Dengan berbagai macam tantangan dan hambatan kami atasi bersama menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa pembelajaran online seperti saat ini tidak maksimal. Menyampaikan materi dan menkondisikan peserta didik saat online, jauh dari harapan. Saya tidak dapat melihat langsung bahasa tubuh mereka, respon mereka bisa menerima atau tidak materi yang diajarkan sangat sulit, akibatnya sebagai guru harus menerima hasil apapun yang dicapai peserta didik. Guru harus percaya atas apapun usaha yang dilakukan peserta didik baik saat proses belajar online maupun saat penilaian.

Sebagai orangtua yang mendampingi anak belajar online semua mata pelajaran, sungguh luar biasa. Saat profesi guru menuntut belajar online atau saat berkunjung ke rumah peserta didik, sementara anak sendiri membutuhkan pendampingan maka kepentingan yang lebih besar yang didahulukan. Banyak orangtua saat ini baru menyadari, betapa luar biasanya profesi seorang guru yang harus memahami berbagai macam karakter anak. Jika satu kelas terdiri dari 36 peserta didik maka bapak ibu guru harus sabar mendampingi dan menuntaskan materi untuk anak sebanyak itu. Sebagian besar guru SMA atau SMK mengajar 3 – 12 kelas dalam seminggu.

Bagi orangtua yang awam, mereka tidak dibekali ilmu pedagogic, bagaimana cara mengajar yang baik, bagaimana menuntaskan materi-materi pelajaran yang beragam karena mereka berasal dari berbagai profesi yang beragam. Bulan-bulan di akhir semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 adalah bulan yang begitu menjenuhkan bagi para orangtua dan peserta didik. Anak-anak merindukan teman-temannya, guru-gurunya dan lingkungan sekolahnya, demikian juga dengan guru-guru yang begitu merindukan berkumpul lagi dengan peserta didik.

Seiring dengan pengetahuan tentang pandemi Covid-19 ini, maka pemerintah sedikit melonggarkan aktivitas sosial dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat seperti 3 M yaitu Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Memakai masker. Beberapa daerah yang merupakan zona orange, kuning dan hijau dapat melaksanakan tatap muka dengan menerapkan aturan shift/blok dan tetap mentaati protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagi sekolah-sekolah yang dapat melakukan pembelajaran tatap muka, ini merupakan momen melepaskan kerinduan dengan peserta didik yang selama ini hanya ditemui melalui dunia maya. Dengan segala kemampuan dan batasan, guru memanfaatkan waktu yang sangat terbatas dalam layanan tatap muka ini.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini kita menyadari, bahwa anak-anak kembali ke madrasah pertamanya yaitu rumah. Anak-anak kembali bersama dengan guru pertamanya yaitu ibu, yang mengajarkan bagaimana belajar makan yang awalnya dengan pertolongan kemudian harus mandiri, belajar berbicara secara berulang-ulang, belajar berjalan yang awalnya dibimbing, jatuh bangun secara berulang, kemudian harus dilakukan sendiri, yang mengajarkan kepada anak untuk tidak berputus asa. Semua itu adalah naluri seorang ibu yang diajarkan secara turun temurun oleh kakek neneknya dengan kondisi lingkungan yang ada. Untuk pembelajaran yang bersifat akademik, tidak semua orangtua memiliki bekal ilmu pedagogic kecuali mereka yang melanjutkan pendidikan tinggi di fakultas keguruan.

Selama ini, sebelum Covid-19 merebak, selama 7 – 8 jam anak-anak berada di lingkungan sekolah, mereka belajar pembentukan karakter bersama guru dan lingkungan sekolahnya. Pandemi Covid-19 ini memberikan kesempatan kepada semua orangtua untuk kembali menanamkan karakter kepada anak-anak mereka, menebus semua kealpaan selama ini. Orangtua dapat menciptakan kebiasaan positif bersama anak-anaknya selama masa pandemi ini. Contoh kegiatan yang menghasilkan kebiasaan positif ini dapat berupa makan bersama, sholat berjamaah, mengaji dengan saling menyimak, membersihkan rumah dan pekarangan secara bersama-sama, olahraga dan kegiatan-kegiatan lain yang positif yang dilakukan bersama. Kebiasaan ini dapat menjadi bekal anak untuk menghadapi masa depannya dengan berbagai macam tantangan dan hambatan.

Dalam masa pandemi ini, tidak membuat guru menyerah begitu saja. Sebagai guru harus tetap menggali pengetahuan dan keterampilan untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan akses layanan belajar bagi guru dalam masa pandemi ini baik itu program guru belajar, guru berbagi maupun webinar-webinar. Banyaknya webinar yang diadakan oleh berbagai macam Lembaga atau instansi membuat guru harus pandai memilah dan memilih dengan tetap menjalankan tugas utamanya.

 Resolusi 2021

            Untuk membangun kehidupan sosial, beragama, berbangsa dan bernegara, dasarnya adalah Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses bimbingan yang tidak akan pernah berakhir dan selalu mengikuti denyut nadi kehidupan manusia. Dengan Pendidikan manusia akan memiliki kecerdasan, baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ), sehingga tercipta kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai dan tertata rapi. Pendidikan mampu mengubah dan merekontruksi pola pikir anak manusia menjadi lebih baik. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari segala upaya yang digunakan untuk mengembangkan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dilihat dari pendidikan yang digelutinya.

            Masa depan Bangsa Indonesia ditentukan oleh generasi mudanya. Generasi muda ini dibentuk dari mulai pendidikan dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Untuk membentuk generasi muda yang kuat maka harus dimulai dari pendidikan dasar, sebagai pondasi dalam menanamkan pendidikan karakter yang merupakan suatu keharusan. Banyak peristiwa di dunia pendidikan yang menguras energi para ahli untuk diselesaikan, antara lain perundungan (Bullying), perkelahian antar pelajar baik di sekolah sendiri maupun di luar sekolah, pernikahan dini, pergaulan bebas antar pelajar dan masih banyak lagi masalah lainnya.

Penanaman pendidikan karakter dapat dimulai dengan menanamkan kearifan local daerahnya. Semenjak kecil ditanamkan kecintaan dan kebanggan terhadap keunggulan local daerahnya. Tentang cerita rakyat, legenda, cerita religi atau biografi tentang tokoh daerah, yang memberikan motivasi mereka akan mimpi-mimpi mereka di masa depan.

Berikut harapan ditahun 2021 :

1.     Kelas bawah setiap jenjang pendidikan (Kls 1, 7 dan 10) diajarkan oleh guru hebat DIKI (Dedikasi, Inovatif, Kreatif dan Inspiratif).

Pada jenjang SD kelas 1, 2 dan 3 disebut kelas rendah. Di jenjang inilah dasar Pendidikan kita. Berawal dari sinilah pendidikan anak Indonesia dimulai. Mempersiapkan peserta didik di kelas rendah dengan baik maka akan memudahkan untuk mempersiapkan jenjang Pendidikan berikutnya.  Begitu juga dengan jenjang SMP dan SMA/SMK, kelas bawah yaitu kelas 7 di jenjang SMP dan kelas 10 di jenjang SMA/SMK merupakan awal pembentukan karakter di jenjang itu, karena peserta didik baru cenderung berubah mengikuti kondisi lingkungan barunya.

Kelas bawah inilah yang harus diajar oleh guru-guru hebat yang memiliki dedikasi tinggi. Guru yang memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan, memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan peserta didiknya secara akademik, selalu berinovasi dalam proses belajar mengajar, kreatif dan selalu menginspirasi peserta didik maupun rekan sejawatnya. Di bawah bimbingan guru-guru hebat inilah akan terlahir anak-anak yang luar biasa. Seperti anak-anak yang belum lancar membaca dan menulis atau belum lancar berhitung, bukan merupakan masalah bagi guru-guru hebat, namun itu sebuah tantangan yang harus dicarikan solusi pemecahannya. Sehingga akan terbiasa mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah.

Demikian juga pada kelas bawah SMP dan SMA/SMK. Kelas ini merupakan kelas pembentukan pada jenjang masing-masing. Karena pada jenjang ini anak sudah harus memikirkan kelanjutan Pendidikannya yang lebih tinggi. Pengaruh lingkungan sosial begitu besar di jenjang ini, maka diperlukan sosok guru hebat yang mendampingi dan membimbing mereka sepenuh hati.

Pada jenjang SMA/SMK, peserta didik mulai kelas X harus mempersiapkan diri untuk memikirkan kelanjutan Pendidikan ke perguruan tinggi. Pada kelas bawah inilah diperlukan sosok guru-guru hebat yang menginspirasi mereka untuk menggapai mimpi-mimpinya. Sehingga pada kelas selanjutnya mereka akan memperbaiki diri dan terus meningkatkan prestasi demi masa depannya.

2.     Pengurangan struktur kurikulum.

Padatnya struktur kurikulum SMA saat ini membuat peserta didik tidak dapat belajar secara maksimal. Kelompok wajib A terdiri dari 6 mata pelajaran, kelompok wajib B terdiri dari 3 mata pelajaran, kelompok peminatan terdiri dari 6 mata pelajaran di kelas X dan 5 mata pelajaran di kelas XI dan XII. Beban belajar kelompok wajib A dan B adalah 24 JP, kelompok peminatan dan lintas minat adalah 18 JP di kelas X dan 20 JP di kelas XI dan XII. Ditambah lagi dengan muatan local daerah yang masing-masing kelas 2 JP, sehingga beban belajar kelas X adalah 44 JP, kelas XI dan XII adalah 46 JP.

Pada kelompok peminatan, adanya mata pelajaran lintas minat juga menambah beban tersendiri bagi sekolah. Mata pelajaran lintas minat yang seyogyanya diberikan sesuai dengan minat peserta didik, namun karena sekolah terkendala juga dengan jumlah tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan permintaan peserta didik terhadap mata pelajaran lintas minat tersebut, akhirnya mata pelajaran lintas minat diberikan kepada peserta didik berdasarkan jumlah tenaga pengajar yang tersedia.

Selain itu kebutuhan tenaga pendidik juga sangat berpengaruh terhadap mata pelajaran yang ganda. Misalnya pada mata pelajaran sejarah dan matematika. Pada kedua mata pelajaran itu terpecah lagi menjadi sejarah indonesia sebagai mata pelajaran wajib dan sejarah pada kelompok peminatan IPS. Demikian juga mata pelajaran matematika, ada matematika di kelompok wajib dan ada matematika di kelompok peminatan MIPA. Sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peminatan IPS dan atau MIPA yang lebih banyak, maka akan kekurangan tenaga pengajar pada kedua mata pelajaran tersebut.

Struktur kurikulum untuk SMA perlu ditinjau ulang terutama jumlah beban belajar yang banyak dengan adanya mata pelajaran ganda (matematika dan sejarah). Sebaiknya kedua mata pelajaran itu dijadikan mata pelajaran wajib saja untuk seluruh peminatan tanpa harus menjadi mata pelajaran peminatan. Untuk mata pelajaran lintas minat, pada kelas X dan kelas selanjutnya, cukup dengan satu mata pelajaran dengan beban belajar yang sama dengan mata pelajaran peminatan. Jumlah jam pada mata pelajaran peminatan kelas X dan kelas selanjutnya sebaiknya disamakan sehingga waktu belajar seluruh kelas menjadi sama.

3.     Membangun iklim sekolah negeri seperti iklim di pesantren.

Suasana sekolah yang tenang dan nyaman adalah dambaan semua orang. Dengan suasana yang tenang dan nyaman, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan hati yang damai. Kedamaian ini akan dirasakan oleh seluruh warga sekolah, baik peserta didik, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikannya. Untuk menciptakan suasana yang tenang dan nyaman ini diperlukan sebuah penciptaan iklim dari seluruh warga sekolah layaknya suasana iklim di pesantren.

Pembiasaan praktik-praktik baik di pesantren bisa diadopsi untuk diterapkan di sekolah negeri. Misalnya, pembiasaan bersalaman dan mengucap salam kepada warga sekolah, pembiasaan sebelum memulai dan saat mengakhiri pembelajaran dengan membaca do’a dan surat-surat pendek yang dipandu oleh guru saat jam tersebut, sholat berjamaah, imtaq setiap hari jum’at dengan pembacaan Asma’ul Husna secara rutin, adanya program tahfidz yang dimotori oleh guru yang berkompeten di bidang itu di setiap kelas dan secara berkala dilakukan uji public dengan disaksikan oleh seluruh warga sekolah dan orangtua/wali, atau program-program lain yang bisa diterapkan melalui program pembiasaan.

Untuk sekolah-sekolah yang memiliki peserta didik beragama selain Islam, kegiatan-kegiatan keagamaan disesuaikan dengan praktik-praktik baik yang ada pada agama masing-masing dengan melibatkan guru-guru yang beragama sama.

Jika pembiasaan itu diterapkan di sekolah, akan berimbas pada pembentukan karakter peserta didik dan suasana iklim yang tenang dan nyaman di sekolah. Iklim inilah yang akan membawa suasana tenang untuk belajar mengajar dan akan terbawa juga saat peserta didik berada di lingkungan rumah dan masyarakat. Pembentukan karakter yang demikian di sekolah maupun di rumah dapat mengurangi permasalahan yang terjadi di dunia pelajar, misalnya perundungan (Bullying), perkelahihan, pergaulan bebas, dll.

4.     Tersedianya bahan bacaan kearifan dan keunggulan daerah secara elektronik.

Koleksi bacaan di perpustakaan yang itu-itu saja atau tidak up to date membuat peserta didik malas untuk mengunjunginya. Terlebih lagi sekarang semua peserta didik memiliki akses internet yang tidak terbatas. Harapan saya di tahun ini adalah adanya bahan bacaan buku cerita dari semua daerah di Indonesia yang di klasifikasikan berdasarkan usia. Bahan bacaan itu dapat berupa cerita religi, legenda, cerita tokoh pahlawan daerah atau cerita-cerita menarik lainnya yang mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia.

Dengan adanya cerita-cerita yang mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia, maka anak akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya dan bangga terhadap keberagaman Indonesia. Mereka akan termotivasi untuk menggapai mimpinya untuk membangun daerahnya. Bahan bacaan cerita yang menarik ini dapat dibuat secara elektronik, sehingga dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...