Senin, 13 September 2021

KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

KONEKSI ANTAR MATERI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

Oleh

SITI DHOMROH

SMAN 1 GERUNG

 

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Pratap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan pendidikan di Indonesia. Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Pandangan Ki Hajr Dewantara ini memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Situasi saat ini dengan beragamnya kemudahan teknologi dan media sosial, banyak memunculkan berbagai macam persoalan pembelajaran pada diri murid maupun sebagian guru yang juga merupakan bagian dari masyarakat umum. Kondisi ini pada akhirnya guru sering dihadapkan pada masalah-masalah di sekolah yang mengandung unsur dilema etika dan bujukan moral. Hal ini membuat peran guru sangat sentral dalam proses pendidikan. 

Guru sebagai seorang pamong dapat menggunakan sistem among dalam pembelajaran untuk menyampaikan terkait dengan karakter bagi para muridnya. Selain itu integrasi pratap triloka yang merupakan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi sangat penting dalam konteks sekolah terutama dalam pengambilan keputusan bagi guru sebagai pemimpin pembelajaran.

Ing ngarso sung tulodo, berarti seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (murid). Guru harus memulai dari dirinya sendiri yang kemudian terefleksikan dalam keteladanan setiap mengambil keputusan. Inilah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keteladanan menjadi sebuah hal yang penting karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya.

Ing madya mangun karsa, berarti guru (pemimpin) harus bisa bekerja sama dengan orang yang didiknya (murid). Sehingga pembelajaran yang dilakukan akan terasa mudah dan akan semakin mempererat hubungan antara guru dengan murid. Dengan menerapkan ing madya mangun karsa, guru diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus sebagai pengganti orang tua murid, sehingga guru mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap muridnya dalam mengambil keputusan termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika yang dihadapi muridnya.

Tut wuri handayani berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk maju dan berkembang. Memberikan ilmu dan bekal yang akan menambah wawasan dan kepintaran murid. Inilah fungsi seorang guru sebagai coach dan motivator, ia mampu mendorong kinerja murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Pengaruh nilai yang tertanam dalam diri terhadap prinsip yang diambil dalam pengambilan keputusan.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sejak kecil sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Kepribadian yang kuat akan menghasilkan keputusan yang kuat atau akuran. Dalam pengambilan keputusan diperlukan keberanian dan ketegasan. Pribadi yang memiliki nilai-nilai kuat sejak kecil maka akan melahirkan pribadi pemimpin yang memiliki keberanian dan ketegasan dalam pengambilan keputusan.

Kaitan bimbingan yang diberikan pendamping atau fasilitator dengan pengambilan keputusan.

Pendamping dan fasilitator telah banyak memberikan bimbingan berupa coaching, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif terkait permasalahan yang dialami. Coaching yang dilakukan dengan model TIRTA. Tahapan model TIRTA meliputi bertanya tentang Tujuan umum, Identifikasi masalah, Rencana Aksi dan Tanggung jawab untuk menggali potensi yang kami miliki agar dapat mengambil sebuah keputusan sesuai dengan harapan dan tidak menimbulkan permasalahan kembali. Pengambilan keputusan itu akan efektif jika melalui tahapan bimbingan (coaching) dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip dasar pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan.

Studi kasus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Nilai-nilai yang dianut seorang pendidik sejak kecil sangat mempengaruhi dalam hal pengambilan keputusan berkaitan dengan dilema etika dan bujukan moral. Kepribadian yang di dalamnya tertanam nilai-nilai yang kuat akan menghasilkan pendidik yang tegas dan berfikiran luas. Untuk mengambil sebuah keputusan, pendidik yang memiliki nilai-nilai kuat akan berfikir berdasarkan semua kepentingan dan kemaslahatan. Nilai moral, pendidikan, religious, budaya, keadilan, kejujuran, empati, dan lain-lain akan mempengaruhi paradigma, prinsip berpikir dan Langkah-langkah yang tepat dalam pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Cara pengambilan keputusan dengan melalui tahapan proses berpikir dan langkah-langkah pengambilan keputusan akan mempengaruhi hasil keputusan yang tepat dan efektif.

Agar dapat memperoleh keputusan yang tepat dan efektik, maka seyogyanya harus berdasarkan 4 paradigma sebagai berikut :

1.     Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.     Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.     Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.     Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Selain itu harus berpegang pada 3 prinsip dasar pengambilan keputusan, yaitu ;

1.     Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.     Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.     Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Untuk memandu dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan, yaitu

1.     Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.

2.     Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.     Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.     Pengujian benar atau salah.

a.      Uji Legal

b.     Uji Regulasi/Standar Profesional

c.      Uji Intuisi

d.     Uji Publikasi

e.      Uji Panutan

5.     Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

6.     Melakukan Prinsip Resolusi.

7.     Investigasi Opsi Trilema.

8.     Buat Keputusan.

9.     Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.

Tentunya hasil keputusan yang tepat akan menyenangkan banyak pihak dan  berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Kesulitan-kesulitan pengambilan keputusan terhadap kasus dilemma etika.

Kesulitan yang sering dialami adalah disaat menghadapi kasus yang harus secepatnya mengambil keputusan (mendesak) dan memutuskan sendiri. Terkadang mengabaikan fakta yang ada dan mengabaikan intuisi, sehingga pengambilan keputusan menjadi kurang tepat. Situasi dan kondisi emosional saat mengambil keputusan juga mempengaruhi hasil keputusan itu sendiri. Nilai-nilai yang bertentangan di lingkungan juga sangat mempengaruhi. Tidak mudah untuk bisa mengenali nilai-nilai yang bertentangan. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah yang sedang kita hadapi

Pengaruh pengambilan keputusan bagi kemerdekaan dan masa depan murid.

Sebagai pemimpin pembelajaran, dalam mengambil keputusan sangat mempengaruhi proses pembelajaran selanjutnya. Seorang guru, jika tepat dalam memutuskan sebuah permasalahan di kelas maka akan mempengaruhi proses berfikir murid. Posisi control guru sebagai manajer, akan membuat murid memiliki kemerdekaan dalam belajar dan melakukan suatu keputusan.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Sebagai manajer, seyogyanya guru menggali potensi murid untuk melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, sehingga murid dapat menentukan sendiri masa depannya. Orang tua dan guru hanya mendukung, tentang apa yang mereka putuskan.

Keterkaitan antar materi

Modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran terkait dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya semata-mata berpihak pada murid. Ini juga berkaitan dengan peran dan nilai guru. Keputusan yang berpihak pada murid akan menciptakan budaya yang positif di sekolah.  

Saat seorang pendidik akan mengambil sebuah keputusan maka seharusnya dalam keadaan emosional yang stabil karena akan mempengaruhi hasil keputusan selanjutnya. Dalam hal membantu murid mengambil keputusan, seorang guru harus melakukan coaching dengan model TIRTA dengan menggali potensi murid, agar keputusan yang akan diambil oleh murid sesuai dengan keinginan dan potensinya.

 



1 komentar:

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...