KONEKSI ANTAR MATERI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Oleh
SITI DHOMROH
SMAN 1 GERUNG
Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi
Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran.
Pratap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan pendidikan di Indonesia. Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Pandangan Ki Hajr Dewantara ini memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Situasi saat ini dengan beragamnya kemudahan teknologi dan media sosial, banyak memunculkan berbagai macam persoalan pembelajaran pada diri murid maupun sebagian guru yang juga merupakan bagian dari masyarakat umum. Kondisi ini pada akhirnya guru sering dihadapkan pada masalah-masalah di sekolah yang mengandung unsur dilema etika dan bujukan moral. Hal ini membuat peran guru sangat sentral dalam proses pendidikan.
Guru sebagai seorang pamong dapat
menggunakan sistem among dalam pembelajaran untuk menyampaikan
terkait dengan karakter bagi para muridnya. Selain itu integrasi pratap triloka
yang merupakan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi sangat penting
dalam konteks sekolah terutama dalam pengambilan keputusan bagi guru sebagai
pemimpin pembelajaran.
Ing ngarso sung tulodo, berarti seorang pemimpin (guru) haruslah
memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (murid). Guru harus memulai
dari dirinya sendiri yang kemudian terefleksikan dalam keteladanan setiap
mengambil keputusan. Inilah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang
guru. Keteladanan menjadi sebuah hal yang penting karena akan berpengaruh pada
tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya.
Ing madya mangun karsa, berarti guru (pemimpin) harus bisa
bekerja sama dengan orang yang didiknya (murid). Sehingga pembelajaran yang
dilakukan akan terasa mudah dan akan semakin mempererat hubungan antara guru
dengan murid. Dengan menerapkan ing madya mangun karsa, guru
diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus sebagai pengganti orang tua murid,
sehingga guru mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan
belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing
madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap
muridnya dalam mengambil keputusan termasuk keputusan yang mengandung unsur
dilema etika yang dihadapi muridnya.
Tut wuri handayani berarti memberi kesempatan kepada siswa
untuk maju dan berkembang. Memberikan ilmu dan bekal yang akan menambah wawasan
dan kepintaran murid. Inilah fungsi seorang guru sebagai coach dan
motivator, ia mampu mendorong kinerja murid untuk terus berkembang dan maju
serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan
potensi yang dimilikinya.
Pengaruh nilai yang tertanam dalam diri
terhadap prinsip yang diambil dalam pengambilan keputusan.
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri
kita sejak kecil sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil
dalam pengambilan keputusan. Kepribadian yang kuat akan menghasilkan keputusan
yang kuat atau akuran. Dalam pengambilan keputusan diperlukan keberanian dan
ketegasan. Pribadi yang memiliki nilai-nilai kuat sejak kecil maka akan
melahirkan pribadi pemimpin yang memiliki keberanian dan ketegasan dalam
pengambilan keputusan.
Kaitan bimbingan yang diberikan
pendamping atau fasilitator dengan pengambilan keputusan.
Pendamping dan fasilitator telah
banyak memberikan bimbingan berupa coaching, dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan reflektif terkait permasalahan yang dialami. Coaching
yang dilakukan dengan model TIRTA. Tahapan model TIRTA meliputi bertanya
tentang Tujuan umum, Identifikasi masalah, Rencana Aksi dan Tanggung jawab
untuk menggali potensi yang kami miliki agar dapat mengambil sebuah keputusan
sesuai dengan harapan dan tidak menimbulkan permasalahan kembali. Pengambilan
keputusan itu akan efektif jika melalui tahapan bimbingan (coaching) dengan
menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip dasar pengambilan
keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan.
Studi kasus pada masalah moral atau etika
kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik sejak kecil sangat mempengaruhi dalam hal pengambilan keputusan
berkaitan dengan dilema etika dan bujukan moral. Kepribadian yang di dalamnya tertanam
nilai-nilai yang kuat akan menghasilkan pendidik yang tegas dan berfikiran luas.
Untuk mengambil sebuah keputusan, pendidik yang memiliki nilai-nilai kuat akan
berfikir berdasarkan semua kepentingan dan kemaslahatan. Nilai moral,
pendidikan, religious, budaya, keadilan, kejujuran, empati, dan lain-lain akan
mempengaruhi paradigma, prinsip berpikir dan Langkah-langkah yang tepat dalam
pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Cara pengambilan keputusan dengan
melalui tahapan proses berpikir dan langkah-langkah pengambilan keputusan akan
mempengaruhi hasil keputusan yang tepat dan efektif.
Agar dapat memperoleh keputusan yang
tepat dan efektik, maka seyogyanya harus berdasarkan 4 paradigma sebagai
berikut :
1.
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2.
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3.
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4.
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Selain itu harus berpegang pada 3
prinsip dasar pengambilan keputusan, yaitu ;
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based
Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based
Thinking)
Untuk memandu dalam mengambil
keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika
ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan,
yaitu
1. Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam
situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau salah.
a. Uji Legal
b. Uji Regulasi/Standar Profesional
c. Uji Intuisi
d. Uji Publikasi
e. Uji Panutan
5. Pengujian Paradigma Benar lawan
Benar.
6. Melakukan Prinsip Resolusi.
7. Investigasi Opsi Trilema.
8. Buat Keputusan.
9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
Tentunya hasil keputusan yang tepat akan
menyenangkan banyak pihak dan berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Kesulitan-kesulitan pengambilan
keputusan terhadap kasus dilemma etika.
Kesulitan yang sering dialami adalah
disaat menghadapi kasus yang harus secepatnya mengambil keputusan (mendesak)
dan memutuskan sendiri. Terkadang mengabaikan fakta yang ada dan mengabaikan
intuisi, sehingga pengambilan keputusan menjadi kurang tepat. Situasi dan
kondisi emosional saat mengambil keputusan juga mempengaruhi hasil keputusan
itu sendiri. Nilai-nilai yang bertentangan di lingkungan juga sangat mempengaruhi.
Tidak mudah untuk bisa mengenali nilai-nilai yang bertentangan. Kalau kita
terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi seolah-olah kita terlalu
mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan
kecil. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan
tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah yang sedang
kita hadapi
Pengaruh pengambilan keputusan bagi kemerdekaan
dan masa depan murid.
Sebagai pemimpin pembelajaran, dalam
mengambil keputusan sangat mempengaruhi proses pembelajaran selanjutnya. Seorang
guru, jika tepat dalam memutuskan sebuah permasalahan di kelas maka akan
mempengaruhi proses berfikir murid. Posisi control guru sebagai manajer, akan
membuat murid memiliki kemerdekaan dalam belajar dan melakukan suatu keputusan.
Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil
keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Sebagai manajer, seyogyanya guru menggali potensi murid untuk
melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, sehingga murid dapat menentukan
sendiri masa depannya. Orang tua dan guru hanya mendukung, tentang apa yang
mereka putuskan.
Keterkaitan antar materi
Modul 3.1 pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran terkait dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa
sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya semata-mata berpihak pada murid. Ini
juga berkaitan dengan peran dan nilai guru. Keputusan yang berpihak pada murid
akan menciptakan budaya yang positif di sekolah.
Saat seorang pendidik akan mengambil
sebuah keputusan maka seharusnya dalam keadaan emosional yang stabil karena
akan mempengaruhi hasil keputusan selanjutnya. Dalam hal membantu murid
mengambil keputusan, seorang guru harus melakukan coaching dengan model TIRTA
dengan menggali potensi murid, agar keputusan yang akan diambil oleh murid
sesuai dengan keinginan dan potensinya.
penjabaran yang luar biasa ..
BalasHapusterima kasih bu