Rabu, 29 September 2021

KOPEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 


Ekosistem Sekolah

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

  • Murid
  • Kepala Sekolah
  • Guru
  • Staf/Tenaga Kependidikan
  • Pengawas Sekolah
  • Orang Tua
  • Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

  • Keuangan
  • Sarana dan prasarana 

Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya

1.     Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking)

Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

2.     Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking)

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. 

Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel berikut.

No

Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan

Berbasis pada aset

1.      

Fokus pada masalah dan isu

Fokus pada aset dan kekuatan

2.      

Berkutat pada masalah utama

Membayangkan masa depan

3.      

Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan – selalu bertanya apa yang kurang?

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

4.      

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain       

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

5.      

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

6.      

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

(Green & Haines, 2010) 

Implementasi Di Kelas, Sekolah dan Masyarakat Sekitar

Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.

Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru hendaknya mengidentifikasi kekuatan/aset yang dimiliki oleh Siswa dan kelasnya sehingga dalam proses pembelajaran tidak mengalami kesulitan. Kekuatan itu dijadikan sebuah acuan untuk Menyusun sebuah rencana perubahan yang diinginkan.

 Hubungan Pengelolaan Sumber Daya Dengan Kualitas Pembelajaran

Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Identifikasi sumber daya aset/kekuatan sangat diperlukan untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan itu.  Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya. Memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki akan menjadikan pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.

 Koneksi Antar Materi

Pada modul 1.1 : Sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya mengelola sumber daya (murid) dengan pendekatan berbasis kekuatan, karena sejatinya murid memiliki kelebihan dan kekuatan masing-masing yang harus dikembangkan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Pada modul 1.3 : Sebagai seorang pemimpin, hendaknya melakukan pendekatan dengan paradigma Inkuiri Apresiatif, yaitu sebuah pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri Apresiatif ini dikembangkan dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif dan pendidikan positif. Selain berbasis kekuatan juga merupakan model manajemen perubahan perbaikan dalam suatu system misalnya organisasi atau komunitas.. Inkuiri Apresiatif memulai perubahan dengan berdasarkan pertanyaan utama yang dijalankan dalam suasana positif dan apresiatif. Tahapan Inkuiri Apresiatif disingkat dengan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi).

Modul 1.4 : Pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya (murid) berbasis kekuatan menempatkan diri pada posisi control guru sebagai manager. Bertanya dan membuat kesepakan, bertanya tentang harapan dan mimpi, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki, menumbuhkan disiplin dari dalam diri dan motivasi intrinsik sebagai budaya positif.

Modul 2.2 : Sebagai pemimpin pembelajaran yang selalu melakukan pendekatan berbasis kekuatan akan melahirkan pemikiran-pemikiran positif tentang hal-hal yang dikerjakan. Jika setiap merencanakan segala sesuatu dilandasi dengan pemikiran positif, focus pada kekuatan dan kebaikan maka akan memunculkan kesadaran penuh. Dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stress, dan munculnya perasaan tenang dan stabil.

 Perubahan pada Diri

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pengelola sumber daya, saya sering berfikir atau bahkan melakukan pengelolaan sumber daya dengan pendekatan masalah. Sehingga yang terfikir adalah sisi negatif dan kelemahan atau kekurangan saja, selalu bertanya “apa yang kurang”. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang berkutat pada masalah dan tidak memikirkan sumber kekuatan yang dimiliki. Terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwa, sebagai pemimpin pembelajaran harus selalu focus pada aset dan kekuatan yang dimiliki, selalu berfikir positif untuk perubahan. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan identifikasi aset atau kekuatan yang dimiliki untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan itu. Fokusnya adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...