Rabu, 29 September 2021

KOPEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 


Ekosistem Sekolah

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

  • Murid
  • Kepala Sekolah
  • Guru
  • Staf/Tenaga Kependidikan
  • Pengawas Sekolah
  • Orang Tua
  • Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

  • Keuangan
  • Sarana dan prasarana 

Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya

1.     Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking)

Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

2.     Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking)

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. 

Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel berikut.

No

Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan

Berbasis pada aset

1.      

Fokus pada masalah dan isu

Fokus pada aset dan kekuatan

2.      

Berkutat pada masalah utama

Membayangkan masa depan

3.      

Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan – selalu bertanya apa yang kurang?

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

4.      

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain       

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

5.      

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

6.      

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

(Green & Haines, 2010) 

Implementasi Di Kelas, Sekolah dan Masyarakat Sekitar

Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.

Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru hendaknya mengidentifikasi kekuatan/aset yang dimiliki oleh Siswa dan kelasnya sehingga dalam proses pembelajaran tidak mengalami kesulitan. Kekuatan itu dijadikan sebuah acuan untuk Menyusun sebuah rencana perubahan yang diinginkan.

 Hubungan Pengelolaan Sumber Daya Dengan Kualitas Pembelajaran

Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Identifikasi sumber daya aset/kekuatan sangat diperlukan untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan itu.  Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya. Memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki akan menjadikan pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.

 Koneksi Antar Materi

Pada modul 1.1 : Sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya mengelola sumber daya (murid) dengan pendekatan berbasis kekuatan, karena sejatinya murid memiliki kelebihan dan kekuatan masing-masing yang harus dikembangkan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Pada modul 1.3 : Sebagai seorang pemimpin, hendaknya melakukan pendekatan dengan paradigma Inkuiri Apresiatif, yaitu sebuah pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri Apresiatif ini dikembangkan dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif dan pendidikan positif. Selain berbasis kekuatan juga merupakan model manajemen perubahan perbaikan dalam suatu system misalnya organisasi atau komunitas.. Inkuiri Apresiatif memulai perubahan dengan berdasarkan pertanyaan utama yang dijalankan dalam suasana positif dan apresiatif. Tahapan Inkuiri Apresiatif disingkat dengan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi).

Modul 1.4 : Pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya (murid) berbasis kekuatan menempatkan diri pada posisi control guru sebagai manager. Bertanya dan membuat kesepakan, bertanya tentang harapan dan mimpi, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki, menumbuhkan disiplin dari dalam diri dan motivasi intrinsik sebagai budaya positif.

Modul 2.2 : Sebagai pemimpin pembelajaran yang selalu melakukan pendekatan berbasis kekuatan akan melahirkan pemikiran-pemikiran positif tentang hal-hal yang dikerjakan. Jika setiap merencanakan segala sesuatu dilandasi dengan pemikiran positif, focus pada kekuatan dan kebaikan maka akan memunculkan kesadaran penuh. Dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stress, dan munculnya perasaan tenang dan stabil.

 Perubahan pada Diri

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pengelola sumber daya, saya sering berfikir atau bahkan melakukan pengelolaan sumber daya dengan pendekatan masalah. Sehingga yang terfikir adalah sisi negatif dan kelemahan atau kekurangan saja, selalu bertanya “apa yang kurang”. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang berkutat pada masalah dan tidak memikirkan sumber kekuatan yang dimiliki. Terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwa, sebagai pemimpin pembelajaran harus selalu focus pada aset dan kekuatan yang dimiliki, selalu berfikir positif untuk perubahan. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan identifikasi aset atau kekuatan yang dimiliki untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan itu. Fokusnya adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Rabu, 15 September 2021

Sepenggal Rasa Sang Penggerak

 Sepenggal Rasa Sang Penggerak

Oleh

Siti Dhomroh

CGP SMAN 1 Gerung

 Pada awalnya saya tidak tertarik mengikuti diklat program guru penggerak. Tahun ini adalah titik kejenuhan untuk mengikuti semua kegiatan yang bernama diklat. Saya sudah tidak berfikir tentang kenaikan pangkat karena secara kepangkatan, pangkat saya tergolong tinggi lebih awal di antara teman lain. Namun saat pendaftaran program guru penggerak tinggal seminggu lagi, seorang pengawas memberikan motivasi kepada saya untuk mengikuti kegiatan guru penggerak ini karena di sekolah saya tidak ada satupun guru yang mengikuti. “Sekolah sebesar itu tidak ada satu gurupun yang ikut, apa kata dunia”, itu kalimat yang langsung menancap tajam di relung hati. Panas rasanya dihujani kalimat seperti itu.

Karena memang tipe saya adalah suka penasaran dan jiwa pembelajar yang tinggi, saya membuka SIM PKB. Ternyata undangan untuk mengikuti seleksi guru penggerak itu ada. Ku buka syarat administrasi, ternyata mudah untuk dilengkapi, dengan meminta ijin - dukungan kepala sekolah dan rekomendasi pengawas, maka surat itu langsung bisa diuploud. Administrasi berikutnya adalah menulis esai. Menulis esai ini adalah menulis pengalaman pribadi berdasarkan panduan pertanyaan. Saya menyelesaikan tulisan esai ini dalam waktu tiga hari sebanyak 5 nomor yang setiap nomor memiliki kurang lebih 5 pertanyaan. Total tulisan 20 halaman menggunakan spasi 1,5 TNR 12. Tulisan esai ini sebenarnya langsung dijawab di kolom pertanyaan, namun berdasarkan pengalaman awal, saya sering kehilangan tulisan saat jaringan internet memburuk, maka saya mensiasati untuk menulis terlebih dahulu di file docx.

Tes bakat skolastik saya jalani dengan lumayan memeras otak, tapi alhamdulillah semua bisa dilewati meski dengan susah payah. Dalam penantian pengumuman seleksi tahap I ini saya meyakini bahwa saya akan lulus, dan benar saya dinyatakan lulus tahap ini. Seleksi berikutnya adalah simulasi mengajar. Pada tahap ini saya jarang membuka SIM PKB, akibatnya saya tidak tahu jadwal simulasi mengajar sudah tiba. Saat jadwal simulasi mengajar, saat itu saya baru datang dari sekolah, tiba-tiba saya ditelpon oleh narahubung. Tanpa memperkenalkan diri, tanpa basa-basi di seberang sana seseorang ngomong terus tanpa henti, saat itu saya belum sadar kalau itu narahubung guru penggerak. Saat dia marah, mengira bahwa saya main-main ikut guru penggerak, maka saat itu juga saya minta maaf karena tidak pernah buka SIM PKB. Beliau menghubungi saya karena jadwal simulasi mengajar saya tiba hari itu, dan asesor sudah menunggu. Sempat saya dimarah oleh narahubung, karena dikira saya tidak serius mengikuti program guru penggerak ini.  Karena belum siap dengan administrasi dan kelengkapan lainnya, maka saya meminta untuk dimundurkan jadwal seminggu lagi. Saat itu sebenarnya saya sudah pasrah jika tidak lulus karena tidak mengikuti simulasi mengajar, meski telah melalui serangkaian tes yang sungguh memeras energi. Akhirnya atas ijin asesor, jadwal saya untuk melakukan simulasi mengajar mundur 1 minggu lagi. Alhamdulillah Yaa Allah….Engkau telah memberi kesempatan pada hamba untuk mengikuti program guru penggerak.

Dengan cepat saya menyusun RPP, kemudian RPP tersebut harus diuploud  melalui web guru berbagi sebagai syarat mengikuti simulasi mengajar. Akhirnya saat jadwal simulasi mengajar tiba yaitu sore hari, pagi harinya kembali narahubung menghubungi saya untuk mengingatkan bahwa sore hari adalah jadwal simulasi mengajar saya dengan didampingi 2 orang asesor. Saya menggunakan teras rumah sebagai tempat mengajar dengan dibantu oleh anak dan suami menyiapkan segalanya. Setelah simulasi mengajar selesai, dilanjutkan wawancara bersama asesor beberapa menit. Akhirnya selesai sudah tes simulasi mengajar saya dengan berbagai macam rasa di dada.

Sebulan kemudian dilanjutkan dengan tes wawancara selama 1 jam bersama 2 orang asesor yang berbeda dengan asesor pada saat simulasi mengajar. Wawancara terkait kebenaran yang ditulis di esai. Wawancara bersama asesor saya lalui dengan lancar, saya menjawab pertanyaan asesor semudah seperti saya bercerita dengan teman. Mengalir begitu saja, bagai air mengalir tanpa sumbatan.

Akhirnya rangkaian tahapan seleksi program guru penggerak telah saya jalani, tinggal menunggu hasil. Dalam masa penantian pengumuman, saya meyakini akan lulus seleksi. Saat wawancara dengan asesor, saya dapat menjawab semua pertanyaan dengan lancar tanpa kesulitan. Dilihat dari tanggapan asesor tentang jawaban saya, seakan para asesor memberi sinyal bahwa saya layak mengikuti program selanjutnya.

Allah itu atas prasangka hambaNya. Sesuai dengan keyakinan saya jika saya akan lulus program guru penggerak memang menjadi kenyataan. Meski saat itu saya berfikir belum tahu pasti untuk apa saya mengikuti program guru penggerak. Satu hal yang ada dalam pikiran saya, yaitu penasaran seperti apa program guru penggerak itu. Seperti apa program diklat yang diunggulkan oleh Mas Menteri selama 9 bulan ke depan dengan program merdeka belajarnya.

Akhirnya program guru penggerak resmi saya ikuti diawali dengan kegiatan pembukaan secara virtual bersama Mas Menteri dan kegiatan lokakarya perdana. Pada lokakarya perdana dijelaskan rangkaian kegiatan guru penggerak dari awal sampai akhir. Ada 10 kali lokakarya dan 3 modul besar yang harus diselesaikan melalui LMS (Learning Manajemen System). Hal yang paling saya suka saat lokakarya adalah bertemunya semua guru penggerak dalam satu kabupaten. Pertemuan saat lokakarya ini penuh dengan muatan ilmu baru bagi saya. Namun ada hal yang paling berat saat tiba jadwal lokakarya, yaitu saya harus menjalani tes swab antigen. Hati rasanya deg deg an menghadapi tes swab itu. Pikiran was-was, jika nanti hasilnya postif. 10 kali lokakarya maka 10 kali itulah saya akan menjalani tes swab antigen.

Pola kegiatan belajar yang digunakan pada program guru penggerak adalah MERRDEKA, kepanjangan dari Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Refleksi terbimbing, Demonstrasi konstekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, Aksi nyata. Kegiatan dengan pola inilah yang harus dilalui dalam setiap menyelesaikan modul-modul guru penggerak. Setiap modul diawali dengan pre tes dan diakhiri dengan post tes.

Mulai dari diri adalah menggali pengetahuan dan kemampuan guru penggerak sebelum mempelajari modul. Eksplorasi konsep, seorang guru penggerak harus menggali konsep secara mandiri melalui LMS dengan menyimpulkan, menjawab pertanyaan refleksi dari setiap yang dibaca dan dilihat. Ruang kolaborasi adalah tempat untuk saling berdiskusi bersama kelompok dan fasilitator tentang modul. Refleksi terbimbing merupakan hasil pemikiran kesimpulan setelah mengekplor dan berdiskusi bersama. Demonstrasi konstekstual adalah karya guru penggerak untuk dapat dijadikan aksi nyata. Elaborasi pemahaman adalah sesi bersama para ahli, guru penggerak menggali konsep bersama pakarnya. Koneksi antar materi adalah sesi guru penggerak mengaitkan materi yang telah diperoleh sebelumnya dengan materi saat ini yang dipelajari. Aksi nyata ini adalah sesi puncak setiap modul. Pada aksi nyata inilah penerapan pembelajaran modul itu akan terlihat berhasil atau tidak.

Setiap hari fasilitator selalu memantau kegiatan guru penggerak di LMS. Jadwal mengerjakan tugas melalui LMS tertulis dengan detail setiap harinya tentang apa yang harus dikerjakan hari itu. Memang tidak ada patokan harus jam berapa mengerjakan tugas, namun jika pengerjaan tugas itu lewat sehari saja maka akan menumpuk di hari berikutnya. Apalagi jika beberapa hari tidak mengerjakan tugas maka akan menambah beban berat lagi untuk hari berikutnya. Sesi yang tidak bisa dilewatkan adalah saat jadwal kolaborasi bersama kelompok dengan dipantau fasilitator, karena kegiatan ini menggunakan meeting room. Demikian juga dengan jadwal elaborasi yang jadwalnya telah ditetapkan oleh P4TK ini tidak bisa dilewatkan.

Sebagai seorang guru, saya memiliki tugas utama bersama siswa setiap hari disamping beberapa tugas tambahan di sekolah yang menjadi tanggungjawab saya. Kesibukan menyiapkan bahan pembelajaran, program kegiatan di sekolah sangat menyita energi dan pikiran setiap hari. Kesibukan menjadi istri dan ibu rumah tangga juga tak kalah repotnya. Untuk mensiasati agar semua tugas bisa terlaksana dengan baik maka saya harus memiliki komitmen diri dan target pencapaian harian.

Jika saya melaksanakan tugas sekolah sampai siang hari maka tugas LMS guru pengerak akan saya selesaikan pada sore atau malam harinya. Memang berat, dari pagi sampai siang harus menyelesaikan tugas utama di sekolah belum lagi tugas rumah tangga yang harus diselesaikan. Ibarat pepatah, istri itu bekerjanya dari terbitnya matahari sampai terbenamnya mata suami. Maka triknya dalam mengerjakan LMS guru penggerak adalah membuka setiap hari LMS dan mengerjakan setiap hari sesuai jadwal dengan panduan pertanyaan di LMS. Tidak perlu takut salah dalam menjawab tugas di LMS yang penting sesuai dengan instruksi. Terkadang permintaan di LMS adalah membuat hasil karya, bisa berupa poster, rekaman audio, video, bagan, maping atau lainnya. Jika dalam membuat karya tugas di LMS, tidak menemukan ide sama sekali maka saya mencari ide melalui canal youtube. Saya pilih ide-ide itu yang mudah dengan membuat modifikasi sesuai dengan materi yang telah didapatkan.

Program kegiatan Mas Menteri guru penggerak begitu bagus dan sempurna, namun perjalanan panjang selama 9 bulan membuat kegiatan ini kadang menjenuhkan. Untuk mengatasi kejenuhan ini, saya mensiasati dengan mengikuti kegiatan lain sebagai variasi. Kegiatan lain yang saya ikuti juga mendukung dalam pemenuhan kebutuhan untuk menyelesaikan tugas utama mengajar dan tugas-tugas di LMS. Kegiatan-kegiatan itu antara lain diklat membuat presentasi menarik dengan Canva, diklat pemanfaatan Google Workspace for Education dengan akun belajar.id dan diklat Google Master Trainer bersama REFO Indonesia. Kegiatan ini semuanya bersifat online sehingga memudahkan saya mengatur waktu dan menvariasikan kegiatan harian di LMS Guru Penggerak.

Materi dan ilmu yang didapat melalui kegiatan diklat program guru penggerak sungguh luar biasa banyak dan sangat bermanfaat untuk kepentingan di dunia pendidikan. Modul-modul itu begitu sempurna dibuat untuk diselesaikan para peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Sebenarnya untuk menyelesaikan modul-modul itu, jika benar-benar total mempelajari maka waktu yang tertera di modul tidaklah cukup. Perlu waktu lebih untuk mempelajari dengan benar dan sempurna. Materi dari modul-modul itu antara lain modul 1 terdiri dari 4 sub modul yaitu 1.1 Pemikiran Ki Hajar Dewantara, 1.2 Peran dan Nilai Guru Penggerak, 1.3 Visi Guru penggerak dan 1.4 Budaya Positif di Sekolah. Modul 2 terdiri dari 3 sub modul, yaitu 2.1 Memenuhi Kebutuhan Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, 2.2 Kompetensi Sosial dan Emosional dan 2.3 Coaching. Modul 3 terdiri dari 3 sub modul, yaitu 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dan 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.

Menjadi guru penggerak merupakan hal yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Jiwa yang selalu haus untuk belajar dan berharap memiliki tambahan pengetahuan untuk diaplikasikan di dunia nyata pendidikan. Sepenggal harapan sebagai guru penggerak adalah dapat mengembangkan dunia pendidikan untuk menjadikan pembelajaran yang berpusat pada murid sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya melalui merdeka belajar. Program guru penggerak sangat bermanfaat bagi saya dengan pola yang dikembangkan melalui LMS dan lokakarya. Semoga program guru penggerak tidak berhenti dalam waktu 9 bulan saja, namun ada kelanjutan dalam program ini.

Sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa tugas pendidik adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak agar mereka bahagia dan selamat baik sebagai manusia secara pribadi maupun sosial. Mereka adalah para pemimpi masa depan yang harus selalu dijaga dan dibimbing agar bisa meraih mimpinya. Ibarat tanaman padi, murid adalah padinya dan guru adalah petaninya. Petani tidak mungkin bisa mengubah padi menjadi jagung, yang bisa dilakukan petani adalah menyirami, memberi pupuk, menjaganya dari hama, menyemai agar padi tumbuh subur dan selamat sampai musim panen tiba.


PANDEMI DAN RESOLUSI 2021

 

PANDEMI DAN RESOLUSI 2021

Oleh : Siti Dhomroh, S. Pd

 

 

Refleksi 2020

            Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat bersejarah sepanjang kehidupan saat ini. Bagaimana tidak, merebaknya virus corona pertama kali di Wuhan akhir tahun 2019 membuat guncang seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sekitar bulan Februari 2020 berita virus corona masuk Indonesia semakin membuat masyarakat gelisah. Awal bulan Maret sampai pertengahan begitu genting situasi masyarakat dengan merebaknya virus corona. Saat itu dunia Pendidikan pada jenjang SMA dan SMK sedang melaksanakan Ujian Sekolah. Begitu Covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi, saat itu juga semua aktivitas Pendidikan dihentikan total. Beberapa sekolah yang tengah melaksanakan Ujian Sekolah terpaksa berhenti dan diganti dengan alternatif penilaian yang lain. Pemberhentian aktivitas ini tidak hanya di dunia Pendidikan, aktivitas ekonomi, sosial dan budaya tidak luput terkena imbas dari pandemi ini. Pembatasan untuk aktivitas sosial saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah.

            Pandemi Covid-19 ini menjadi wabah yang menakutkan di tengah masyarakat. Orangtua merasa khawatir dengan keselamatan anggota keluarganya. Karena aktivitas sosial manusia dibatasi oleh pemerintah, maka menjadikan timbulnya peradaban baru. Berbagai pekerjaan yang asalnya dilakukan secara tatap muka kini harus dilakukan secara online. Tak terkecuali di dunia Pendidikan. Pemberhentian aktivitas belajar mengajar di dunia Pendidikan, menuntut perubahan pola pembelajaran baru, dari tatap muka di kelas nyata menjadi pertemuan maya melalui sambungan internet. Hasilnya efektif atau tidak, tetap dilaksanakan dan diselesaikan secara online.

            Berbagai permasalahan timbul akibat pola pembelajaran baru. Banyak sekolah, guru, orangtua bahkan peserta didik yang mengeluhkan berbagai permasalahan antara lain, tidak adanya akses internet, paket data internet yang minim dan tidak memiliki HP android. Yang kesemuanya itu syarat untuk pembelajaran online. Seiring berjalannya waktu permasalahan-permasalahan itu dapat diselesaikan dengan berbagai macam solusi, yang terpenting peserta didik tetap dapat melaksanakan aktivitas belajarnya. Diantaranya penggunaan dana BOS yang lebih fleksibel, adanya system luring (TVRI dan RRI), adanya guru kunjung dan paket data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk guru dan peserta didik.

            Kebijakan pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat pandemi Covid-19 untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), menuntut guru berupaya lebih dari biasanya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini merupakan kombinasi dari pembelajaran tatap muka dan online/dalam jaringan. Ada beberapa satuan Pendidikan yang salah paham tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang beranggapan bahwa PJJ adalah pembelajaran online. Akibatnya ada beberapa peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi dan infrastruktur tidak dapat mendapatkan hak yang sama dengan teman-temannya yang tergolong mampu. Padahal mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan materi dan layanan dari sekolah. Guru atau pihak sekolah dapat melakukan kunjungan ke rumah (home visit) atau yang lebih popular saat pandemi ini adalah guru kunjung. Namun kegiatan guru kunjung ini sangat banyak menyita waktu guru, di mana guru harus melakukan perjalanan yang menantang dengan medan tempuh yang tidak seperti biasanya dan peserta didik yang dikunjungi tersebar di wilayah yang berjauhan.

Saya sebagai orangtua sekaligus guru, sangat merasakan betapa beratnya menjalankan kedua profesi itu di masa pandemi ini. Saya harus melakukan pembelajaran online yang persiapannya jauh melebihi persiapan dari pembelajaran tatap muka. Disamping pembelajaran online, beberapa peserta didik yang menginginkan untuk guru kunjung juga harus dilayani. Demikian juga sebagai orangtua yang memiliki putra putri juga sedang mengikuti pembelajaran online dari sekolah masing-masing.

Awal-awal melakukan pembelajaran online, guru kunjung dan mendampingi anak sendiri di rumah begitu sangat menyenangkan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan kami lalui dengan perjuangan yang sungguh luar biasa. Dengan berbagai macam tantangan dan hambatan kami atasi bersama menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa pembelajaran online seperti saat ini tidak maksimal. Menyampaikan materi dan menkondisikan peserta didik saat online, jauh dari harapan. Saya tidak dapat melihat langsung bahasa tubuh mereka, respon mereka bisa menerima atau tidak materi yang diajarkan sangat sulit, akibatnya sebagai guru harus menerima hasil apapun yang dicapai peserta didik. Guru harus percaya atas apapun usaha yang dilakukan peserta didik baik saat proses belajar online maupun saat penilaian.

Sebagai orangtua yang mendampingi anak belajar online semua mata pelajaran, sungguh luar biasa. Saat profesi guru menuntut belajar online atau saat berkunjung ke rumah peserta didik, sementara anak sendiri membutuhkan pendampingan maka kepentingan yang lebih besar yang didahulukan. Banyak orangtua saat ini baru menyadari, betapa luar biasanya profesi seorang guru yang harus memahami berbagai macam karakter anak. Jika satu kelas terdiri dari 36 peserta didik maka bapak ibu guru harus sabar mendampingi dan menuntaskan materi untuk anak sebanyak itu. Sebagian besar guru SMA atau SMK mengajar 3 – 12 kelas dalam seminggu.

Bagi orangtua yang awam, mereka tidak dibekali ilmu pedagogic, bagaimana cara mengajar yang baik, bagaimana menuntaskan materi-materi pelajaran yang beragam karena mereka berasal dari berbagai profesi yang beragam. Bulan-bulan di akhir semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 adalah bulan yang begitu menjenuhkan bagi para orangtua dan peserta didik. Anak-anak merindukan teman-temannya, guru-gurunya dan lingkungan sekolahnya, demikian juga dengan guru-guru yang begitu merindukan berkumpul lagi dengan peserta didik.

Seiring dengan pengetahuan tentang pandemi Covid-19 ini, maka pemerintah sedikit melonggarkan aktivitas sosial dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat seperti 3 M yaitu Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Memakai masker. Beberapa daerah yang merupakan zona orange, kuning dan hijau dapat melaksanakan tatap muka dengan menerapkan aturan shift/blok dan tetap mentaati protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagi sekolah-sekolah yang dapat melakukan pembelajaran tatap muka, ini merupakan momen melepaskan kerinduan dengan peserta didik yang selama ini hanya ditemui melalui dunia maya. Dengan segala kemampuan dan batasan, guru memanfaatkan waktu yang sangat terbatas dalam layanan tatap muka ini.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini kita menyadari, bahwa anak-anak kembali ke madrasah pertamanya yaitu rumah. Anak-anak kembali bersama dengan guru pertamanya yaitu ibu, yang mengajarkan bagaimana belajar makan yang awalnya dengan pertolongan kemudian harus mandiri, belajar berbicara secara berulang-ulang, belajar berjalan yang awalnya dibimbing, jatuh bangun secara berulang, kemudian harus dilakukan sendiri, yang mengajarkan kepada anak untuk tidak berputus asa. Semua itu adalah naluri seorang ibu yang diajarkan secara turun temurun oleh kakek neneknya dengan kondisi lingkungan yang ada. Untuk pembelajaran yang bersifat akademik, tidak semua orangtua memiliki bekal ilmu pedagogic kecuali mereka yang melanjutkan pendidikan tinggi di fakultas keguruan.

Selama ini, sebelum Covid-19 merebak, selama 7 – 8 jam anak-anak berada di lingkungan sekolah, mereka belajar pembentukan karakter bersama guru dan lingkungan sekolahnya. Pandemi Covid-19 ini memberikan kesempatan kepada semua orangtua untuk kembali menanamkan karakter kepada anak-anak mereka, menebus semua kealpaan selama ini. Orangtua dapat menciptakan kebiasaan positif bersama anak-anaknya selama masa pandemi ini. Contoh kegiatan yang menghasilkan kebiasaan positif ini dapat berupa makan bersama, sholat berjamaah, mengaji dengan saling menyimak, membersihkan rumah dan pekarangan secara bersama-sama, olahraga dan kegiatan-kegiatan lain yang positif yang dilakukan bersama. Kebiasaan ini dapat menjadi bekal anak untuk menghadapi masa depannya dengan berbagai macam tantangan dan hambatan.

Dalam masa pandemi ini, tidak membuat guru menyerah begitu saja. Sebagai guru harus tetap menggali pengetahuan dan keterampilan untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan akses layanan belajar bagi guru dalam masa pandemi ini baik itu program guru belajar, guru berbagi maupun webinar-webinar. Banyaknya webinar yang diadakan oleh berbagai macam Lembaga atau instansi membuat guru harus pandai memilah dan memilih dengan tetap menjalankan tugas utamanya.

 Resolusi 2021

            Untuk membangun kehidupan sosial, beragama, berbangsa dan bernegara, dasarnya adalah Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses bimbingan yang tidak akan pernah berakhir dan selalu mengikuti denyut nadi kehidupan manusia. Dengan Pendidikan manusia akan memiliki kecerdasan, baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ) maupun kecerdasan spiritual (SQ), sehingga tercipta kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai dan tertata rapi. Pendidikan mampu mengubah dan merekontruksi pola pikir anak manusia menjadi lebih baik. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari segala upaya yang digunakan untuk mengembangkan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dilihat dari pendidikan yang digelutinya.

            Masa depan Bangsa Indonesia ditentukan oleh generasi mudanya. Generasi muda ini dibentuk dari mulai pendidikan dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Untuk membentuk generasi muda yang kuat maka harus dimulai dari pendidikan dasar, sebagai pondasi dalam menanamkan pendidikan karakter yang merupakan suatu keharusan. Banyak peristiwa di dunia pendidikan yang menguras energi para ahli untuk diselesaikan, antara lain perundungan (Bullying), perkelahian antar pelajar baik di sekolah sendiri maupun di luar sekolah, pernikahan dini, pergaulan bebas antar pelajar dan masih banyak lagi masalah lainnya.

Penanaman pendidikan karakter dapat dimulai dengan menanamkan kearifan local daerahnya. Semenjak kecil ditanamkan kecintaan dan kebanggan terhadap keunggulan local daerahnya. Tentang cerita rakyat, legenda, cerita religi atau biografi tentang tokoh daerah, yang memberikan motivasi mereka akan mimpi-mimpi mereka di masa depan.

Berikut harapan ditahun 2021 :

1.     Kelas bawah setiap jenjang pendidikan (Kls 1, 7 dan 10) diajarkan oleh guru hebat DIKI (Dedikasi, Inovatif, Kreatif dan Inspiratif).

Pada jenjang SD kelas 1, 2 dan 3 disebut kelas rendah. Di jenjang inilah dasar Pendidikan kita. Berawal dari sinilah pendidikan anak Indonesia dimulai. Mempersiapkan peserta didik di kelas rendah dengan baik maka akan memudahkan untuk mempersiapkan jenjang Pendidikan berikutnya.  Begitu juga dengan jenjang SMP dan SMA/SMK, kelas bawah yaitu kelas 7 di jenjang SMP dan kelas 10 di jenjang SMA/SMK merupakan awal pembentukan karakter di jenjang itu, karena peserta didik baru cenderung berubah mengikuti kondisi lingkungan barunya.

Kelas bawah inilah yang harus diajar oleh guru-guru hebat yang memiliki dedikasi tinggi. Guru yang memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan, memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan peserta didiknya secara akademik, selalu berinovasi dalam proses belajar mengajar, kreatif dan selalu menginspirasi peserta didik maupun rekan sejawatnya. Di bawah bimbingan guru-guru hebat inilah akan terlahir anak-anak yang luar biasa. Seperti anak-anak yang belum lancar membaca dan menulis atau belum lancar berhitung, bukan merupakan masalah bagi guru-guru hebat, namun itu sebuah tantangan yang harus dicarikan solusi pemecahannya. Sehingga akan terbiasa mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah.

Demikian juga pada kelas bawah SMP dan SMA/SMK. Kelas ini merupakan kelas pembentukan pada jenjang masing-masing. Karena pada jenjang ini anak sudah harus memikirkan kelanjutan Pendidikannya yang lebih tinggi. Pengaruh lingkungan sosial begitu besar di jenjang ini, maka diperlukan sosok guru hebat yang mendampingi dan membimbing mereka sepenuh hati.

Pada jenjang SMA/SMK, peserta didik mulai kelas X harus mempersiapkan diri untuk memikirkan kelanjutan Pendidikan ke perguruan tinggi. Pada kelas bawah inilah diperlukan sosok guru-guru hebat yang menginspirasi mereka untuk menggapai mimpi-mimpinya. Sehingga pada kelas selanjutnya mereka akan memperbaiki diri dan terus meningkatkan prestasi demi masa depannya.

2.     Pengurangan struktur kurikulum.

Padatnya struktur kurikulum SMA saat ini membuat peserta didik tidak dapat belajar secara maksimal. Kelompok wajib A terdiri dari 6 mata pelajaran, kelompok wajib B terdiri dari 3 mata pelajaran, kelompok peminatan terdiri dari 6 mata pelajaran di kelas X dan 5 mata pelajaran di kelas XI dan XII. Beban belajar kelompok wajib A dan B adalah 24 JP, kelompok peminatan dan lintas minat adalah 18 JP di kelas X dan 20 JP di kelas XI dan XII. Ditambah lagi dengan muatan local daerah yang masing-masing kelas 2 JP, sehingga beban belajar kelas X adalah 44 JP, kelas XI dan XII adalah 46 JP.

Pada kelompok peminatan, adanya mata pelajaran lintas minat juga menambah beban tersendiri bagi sekolah. Mata pelajaran lintas minat yang seyogyanya diberikan sesuai dengan minat peserta didik, namun karena sekolah terkendala juga dengan jumlah tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan permintaan peserta didik terhadap mata pelajaran lintas minat tersebut, akhirnya mata pelajaran lintas minat diberikan kepada peserta didik berdasarkan jumlah tenaga pengajar yang tersedia.

Selain itu kebutuhan tenaga pendidik juga sangat berpengaruh terhadap mata pelajaran yang ganda. Misalnya pada mata pelajaran sejarah dan matematika. Pada kedua mata pelajaran itu terpecah lagi menjadi sejarah indonesia sebagai mata pelajaran wajib dan sejarah pada kelompok peminatan IPS. Demikian juga mata pelajaran matematika, ada matematika di kelompok wajib dan ada matematika di kelompok peminatan MIPA. Sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peminatan IPS dan atau MIPA yang lebih banyak, maka akan kekurangan tenaga pengajar pada kedua mata pelajaran tersebut.

Struktur kurikulum untuk SMA perlu ditinjau ulang terutama jumlah beban belajar yang banyak dengan adanya mata pelajaran ganda (matematika dan sejarah). Sebaiknya kedua mata pelajaran itu dijadikan mata pelajaran wajib saja untuk seluruh peminatan tanpa harus menjadi mata pelajaran peminatan. Untuk mata pelajaran lintas minat, pada kelas X dan kelas selanjutnya, cukup dengan satu mata pelajaran dengan beban belajar yang sama dengan mata pelajaran peminatan. Jumlah jam pada mata pelajaran peminatan kelas X dan kelas selanjutnya sebaiknya disamakan sehingga waktu belajar seluruh kelas menjadi sama.

3.     Membangun iklim sekolah negeri seperti iklim di pesantren.

Suasana sekolah yang tenang dan nyaman adalah dambaan semua orang. Dengan suasana yang tenang dan nyaman, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan hati yang damai. Kedamaian ini akan dirasakan oleh seluruh warga sekolah, baik peserta didik, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikannya. Untuk menciptakan suasana yang tenang dan nyaman ini diperlukan sebuah penciptaan iklim dari seluruh warga sekolah layaknya suasana iklim di pesantren.

Pembiasaan praktik-praktik baik di pesantren bisa diadopsi untuk diterapkan di sekolah negeri. Misalnya, pembiasaan bersalaman dan mengucap salam kepada warga sekolah, pembiasaan sebelum memulai dan saat mengakhiri pembelajaran dengan membaca do’a dan surat-surat pendek yang dipandu oleh guru saat jam tersebut, sholat berjamaah, imtaq setiap hari jum’at dengan pembacaan Asma’ul Husna secara rutin, adanya program tahfidz yang dimotori oleh guru yang berkompeten di bidang itu di setiap kelas dan secara berkala dilakukan uji public dengan disaksikan oleh seluruh warga sekolah dan orangtua/wali, atau program-program lain yang bisa diterapkan melalui program pembiasaan.

Untuk sekolah-sekolah yang memiliki peserta didik beragama selain Islam, kegiatan-kegiatan keagamaan disesuaikan dengan praktik-praktik baik yang ada pada agama masing-masing dengan melibatkan guru-guru yang beragama sama.

Jika pembiasaan itu diterapkan di sekolah, akan berimbas pada pembentukan karakter peserta didik dan suasana iklim yang tenang dan nyaman di sekolah. Iklim inilah yang akan membawa suasana tenang untuk belajar mengajar dan akan terbawa juga saat peserta didik berada di lingkungan rumah dan masyarakat. Pembentukan karakter yang demikian di sekolah maupun di rumah dapat mengurangi permasalahan yang terjadi di dunia pelajar, misalnya perundungan (Bullying), perkelahihan, pergaulan bebas, dll.

4.     Tersedianya bahan bacaan kearifan dan keunggulan daerah secara elektronik.

Koleksi bacaan di perpustakaan yang itu-itu saja atau tidak up to date membuat peserta didik malas untuk mengunjunginya. Terlebih lagi sekarang semua peserta didik memiliki akses internet yang tidak terbatas. Harapan saya di tahun ini adalah adanya bahan bacaan buku cerita dari semua daerah di Indonesia yang di klasifikasikan berdasarkan usia. Bahan bacaan itu dapat berupa cerita religi, legenda, cerita tokoh pahlawan daerah atau cerita-cerita menarik lainnya yang mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia.

Dengan adanya cerita-cerita yang mengangkat kearifan local daerah-daerah di Indonesia, maka anak akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya dan bangga terhadap keberagaman Indonesia. Mereka akan termotivasi untuk menggapai mimpinya untuk membangun daerahnya. Bahan bacaan cerita yang menarik ini dapat dibuat secara elektronik, sehingga dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat.

Selasa, 14 September 2021

AKSI NYATA MODUL 3.1

 

AKSI NYATA MODUL 3.1

Oleh : SITI DHOMROH

CGP SMAN 1 Gerung Kab. Lombok Barat

 

PEMANFAATAN KESEMPATAN PENGIMBASAN PADA FORUM KOMUNITAS KECIL DAN BESAR

1.     Peristiwa

a.     Latar belakang

Pengetahuan yang saya peroleh dari Program Guru Penggerak sungguh sangat bermanfaat untuk kepentingan saya sebagai seorang guru. Keinginan untuk mentransfer pengetahuan itu kepada rekan sejawat membuat saya berfikir tentang bagaimana menyampaikan secara lebih efektif dan efisien. Kesempatan secara personal memang lebih banyak, namun jika ada kesempatan dalam forum, maka akan lebih efektif dan efisien. Komunitas praktisi yang lebih besar akan memberikan dampak yang lebih besar juga.

Tidak sedikit dari rekan sejawat dan siswa yang belum mengaktifkan akun belajar.id yang diberikan secara gratis oleh kemendikbud. Inilah saatnya saya memberikan sosialisasi tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh akun belajar.id dan bagaimana memanfaatkannya.

Beberapa guru juga meminta saya untuk mengajari bagaimana membuat presentasi yang lebih menarik dengan aplikasi CANVA.

 

b.     Alasan melakukan

      Kesempatan untuk berkumpul semua guru di sekolah sulit dilakukan pada hari efektif. Semua guru memiliki kesibukan di ruang kelas dan kegiatan lain sesuai dengan tupoksinya. Kesempatan yang paling memungkinkan adalah pada saat rapat dinas bulanan bersama semua warga sekolah. Kesempatan inilah yang saya gunakan untuk pengimbasan PGP dengan meminta ijin kepala sekolah. Kesempatan sehari-hari untuk memperdalam pengetahuan bersama rekan sejawat, saya lakukan secara personal.

 

c.      Hasil

      Hasil yang saya peroleh saat melakukan pengimbasan, sejumlah 20 orang guru dan puluhan siswa telah mengaktifkan dan memanfaatkan akun belajar.id untuk pembelajaran dan aktivitas lainnya. Beberapa guru yang mengikuti sesi komunitas kecil dapat membuat presentasi yang menarik dengan aplikasi CANVA.

 

2.     Perasaan

Saya merasa senang bisa melakukan pengimbasan dan mentrasfer pengetahuan kepada rekan sejawat baik melalui komunitas kecil maupun besar. Saya juga berterima kasih kepada kepala sekolah yang telah mengijinkan saya untuk melakukan beberapa kegiatan guru penggerak ini dengan menggabungkan pada kegiatan-kegiatan sekolah.

Namun saya juga merasa sedih jika melihat rekan sejawat yang masih diam dalam zona nyamannya. Ini salah satu dilemma etika yang saya alami. Mengajak rekan sejawat yang diam dalam zona nyaman.

3.     Pembelajaran

Tidak semua yang saya lakukan memberikan hasil yang memuaskan. Ini semua memberikan pembelajaran pada saya bahwa dalam melakukan segala sesuatu tidak harus berharap sempurna. Jika sesuatu itu sudah mencapai tujuan maka apa yang kita lakukan telah berhasil. Namun di tengah perjalanan menuju keberhasilan itu, akan melewati banyak rintangan yang tetap harus dilalui. Dilemma etika terjadi dalam proses ini, namun harus tetap terselesaikan dengan pengambilan keputusan melalui Langkah-langkah yang tepat.

 

4.     Penerapan ke Depan

Perbaikan akan terus saya lakukan dengan mengevaluasi setiap kegiatan. Terutama mencari Teknik-teknik yang menarik agar rekan sejawat yang masih diam dalam zona nyamannya tergerak untuk mengikuti.

 

5.     Foto kegiatan

 





DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...