VONIS
KEMATIAN
Kuterbaring tak berdaya di atas kasur ini 3 tahun lamanya. Sejak dokter memvonis tumor otak dan di kepalaku ada cairan berlebih yang tidak dapat dikeluarkan. Dokter memprediksi kehidupanku yang akan lebih singkat dari hitungan manusia. Sejak saat itu, seluruh raga dan jiwaku lunglai tak berdaya. Bayangan kematian selalu di depan mata. Tapi semua sudah kupersiapkan untuk menghadap ilahi, secara lahir dan batin.
Aku
seorang suami dari istri yang sangat kuat menurutku. Rustiyah namanya. Aku
dikaruniai 2 anak perempuan, Wiya dan Eta biasa kupanggil. Pekerjaanku
wiraswasta yang menurut teman-temanku aku tergolong sukses. Tapi entah kenapa,
kesuksesanku membawaku ke dunia malam yang tidak ada batasnya.
Hampir setiap hari aku pulang pagi dengan kondisi
badan lusuh akibat kehidupan malam di club atau café. Tapi dengan setia Rusti
istriku membukakan pintu dan langsung membawaku ke tempat tidur, sambil dia
berbisik lirih, “Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk membasuh
kaki Bapak”.
Seperti biasa sekitar jam 9 aku sudah selesai mandi
pagi dengan air hangat yang selalu disiapkan sang istri. Setelah sarapan, aku
berangkat bekerja. Istriku selalu berpesan kepadaku, “Hati-hati ya Pak…”. Anak-anakku
juga selalu berteriak saat aku pergi kerja, “Bapak cepat pulang ya…”. Tapi aku
hanya berlalu saja, seakan tak mendengar ucapan mereka.
Suatu ketika, saat aku pulang pagi dalam kondisi
sempoyongan bersama seorang perempuan, istriku dengan cekatan langsung meraihku
dan mempersilahkan perempuan itu langsung pergi, tak lupa dia mengucapkan
terima kasih kepada perempuan itu. Aku langsung dibawanya ke kamar. Dengan
cekatan, pakaianku digantinya dan dibaringkannya aku di tempat tidur. Seperti
biasa, dia berucap lirih, “ Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk
membasuh kaki Bapak”.
Saat aku bangun sekitar jam 9, terasa kepalaku
pusing tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku.
“Rusti….”, panggilku kepada istri. Rupanya dia tidak mendengar, mungkin saat
itu masih di dapur atau di kamar mandi. “Rusti…”, panggilku kembali. Ternyata
Wiya anakku sulung yang datang. “Bapak kenapa? Bapak tidak pergi kerja?”.
“Panggilkan Ibumu, cepat”. Sambil aku meringis menahan sakit kepalaku. Wiya
berlari sambil teriak-teriak memanggil ibunya. Rustipun datang sambil membawa
teh hangat untukku. “Bapak kenapa?”. Sapanya kepadaku saat masuk kamar.
“Antarkan aku ke dokter. Kepalaku sakit sekali tidak seperti biasanya”.
Setelah diperiksa dokter di rumah sakit, aku
dipersilahkan istirahat di pembaringan. Istriku memandangku dengan tatapan
sayu. Menatapku tanpa kedip, melihatku dengan rasa iba. “Pak…Bapak yang sabar
ya..”. Ucapnya dengan halus kepadaku. Seperti biasa, istriku memang orang yang
lemah lembut. Tapi aku yang selama ini membuat dia biasa saja. “Bagaimana
dengan hasil pemeriksaan kepalaku?”, aku bertanya dengan nada lemah. “Bapak
boleh pulang kok…tapi nunggu resep obat dulu dari dokter”.
Malam ini aku tidak keluar ke club atau café seperti
hari-hari yang lalu. Aku di rumah saja karena badanku terasa lemah akibat
kepalaku yang pusing berat. Pagi hari aku tetap pergi bekerja. Hari itu di
tempat kerja aku pingsan, oleh rekan kerjaku aku diantar pulang. Istriku kaget,
melihat aku lemas sambil memegangi kepalaku. Kembali aku diantar ke dokter.
Kuberanikan diri untuk bertanya ke dokter tentang kepalaku. Dokter dengan
tenang menjelaskan penyakit yang kuderita. Aku terkena tumor otak selain itu
ada cairan di kepalaku yang sulit untuk dikeluarkan. Itu yang menyebabkan sakit
sekali kepalaku.
Sejak vonis dokter itu, aku sering pingsan. Entah
kenapa, sakit di kepalaku bertambah, seperti dunia akan runtuh. Sejak saat itu
kehidupanku berubah 180o. Sekarang bisnisku ku serahkan rekan kerjaku
dengan kesepakatan hasil.
Istriku membawaku ke rumahsakit. Dokter menyarankan
aku operasi. Tapi aku tidak menuruti saran dokter. Bayangan operasi membuat aku
tambah drop, kepalaku akan di belah seperti digergaji. Mungkin semua ini akibat
kesalahanku masa lalu terhadap istri dan anak-anakku terutama tuhan yang telah
memberiku segalanya. Aku melupakanNya.
Aku lebih banyak di rumah, pekerjaanku hanya
berbaring sambil meringis memegangi kepala yang semakin sakit. Kepalaku yang
sakit tapi kenapa semua badanku juga terasa sakit dan lemas. Seakan memang
hidupku tinggal sesaat. Kubayangkan semua kesalahan dalam hidupku membuat
semakin sakit kepalaku. Kehidupan malam dengan minuman keras, perempuan malam
dan barang haram lainnya. Kuabaikan istri dan anakku, mereka hanya aku anggap
sebagai pelengkap penderita saja. Memang istri dan anakku tak pernah mengeluh
kepadaku, tak pernah melarang apa yang aku lakukan. Mungkin mereka memendam
marah kepadaku, tapi tidak berani mengungkapkan. Istriku adalah wanita yang
pandai dalam mendidik anak dan pandai memendam rasa, sehingga semua dapat
terkontrol dengan baik. Tapi kenapa aku hanya menganggap dia wanita biasa
saja?.
Tak terasa sudah satu tahun aku sakit, badanku tidak
lagi seperkasa dulu. Sakitku datang dan pergi, jika sakit itu datang rasanya
kepala mau pecah, dunia mau ambruk, sakit sekali, hanya bayangan kematian saat
itu. Ternyata prediksi dokter meleset, aku masih diberi kehidupan satu tahun
setelah dokter memvonisku dulu. Aku hanya mengandalkan resep obat dari dokter
untuk mengurangi rasa sakit. Kehidupan ekonomiku sedikit menurun, akibat harus
terus menerus membeli resep obat ke apotik. Tapi sedikitpun istriku tak pernah
mengeluh.
Suatu ketika, aku memberanikan diri. “Rusti….maafkan
aku, mungkin ini balasan Tuhan kepadaku, karena salahku di masa lalu padamu dan
anak-anak”. Sambil kupegang tangannya dan ku cium mesra. Aku baru merasakan
memperlakukan istriku semesra ini. “Bapak tidak perlu meminta maaf, aku sudah
maafin Bapak sejak lama, aku ikhlas kok Pak”. Katanya sambil berlinang airmata.
Kuusap airmata yang menetes di pipinya lalu kupeluk erat dia sambil kubisikan
berkali-kali kalimat permintaan maaf. Sejak saat itu serasa hati ini tenang dan
nyaman. Rasanya ada kehidupan baru dalam jiwaku, meski tetap aku menahan sakit
di kepalaku.
Suatu ketika rusti berbicara lembut. “Bapak sholat
yukk….biar Allah juga maafin Bapak”. Aku malu rasanya, sudah lama kutinggalkan
kewajiban itu. Aku mengikuti ajakan istriku, meski aku belum bisa jadi imam
untuk keluargaku. Sakit sekali kepalaku saat kupakai sujud. Saking sakitnya aku
pernah pingsan saat sholat. Setelah kejadian itu, istriku menyarankan aku
sholat dalam posisi duduk atau berbaring saja. Posisi ini aku rasakan lebih
nyaman. Seusai sholat kupanjatkan pertaubatanku dan tak lupa aku memohon do’a
perlindungan dan petunjukNya.
Sore itu ada tetangga, namanya Ummi Anne yang
menjengukku. Aku malu, karena aku tergolong warga yang jarang bersilaturahim ke
tetangga, tapi untung istriku tetap melakukan itu. Ummi Anne menyarankan agar
aku berobat alternatif dan melakukan amalan shodaqoh sebanyak-banyaknya yang
diniatkan khusus untuk kesembuhanku. Istriku menyarankan aku mengikuti saram
ummi anne.
Sejak saat itu, aku mengikuti saja apa yang
dilakukan istriku. Dia mengajak aku berobat alternatif. Di tempat alternatif,
aku hanya diminta untuk hening menenangkan diri, memusatkan pikiran dan focus
hanya pada sang pencipta. Seraya berdo’a memohon pertolongan Sang Pencipta.
Pulangnya aku diberikan ramuan yang harus diminum 2 hari sekali. Aku pergi ke
alternatif 2 minggu sekali.
Istriku meminta ijin untuk menjual mobil dan motor
yang memang sudah lama tidak kupakai akibat sakit ini. Cukuplah satu motor yang
digunakan istri sebagai alat transportasi harian. Istriku juga akan menjual
seluruh perhiasannya. Ternyata uang yang kuberikan tidak semua digunakan untuk
kebutuhan harian, dia membelikan perhiasan dan menyimpannya. Memang istriku
tidak banyak menggunakan perhiasan, hanya sebuah kalung dan cincin yang dulu
aku berikan saat menikahinya.
“Pak…aku pergi dulu ke beberapa yayasan yatim piatu
dan beberapa masjid untuk memberikan shodaqoh hasil penjualan mobil dan
perhiasan, Bapak baik-baik di rumah ya…ada wiya dan eta jika Bapak perlu
apa-apa”. Ucapnya sebelum meninggalkan rumah. “Mohonkan do’a kepada anak-anak
itu untuk kesembuhanku”, pesanku kepadanya sebelum dia berlalu. Aku lupa, aku
masih punya simpanan tabungan yang istriku sendiri tidak tahu. Segera ku
hubungi teman-temanku untuk mencari anak-anak yatim dan fakir miskin dari
langganan usahaku. Kuserahkan semua simpanan tabunganku untuk shodaqoh kepada
anak yatim dan fakir miskin.
Tahun kedua dan ketiga masa sakitku ku isi dengan
mendekatkan diri kepada Yang Kuasa dan shodaqoh tiada henti. Kembali, ternyata
Tuhan masih memberiku kehidupan. Suatu hal yang tidak mungkin jika mendengar vonis
dokter saat itu. Aku merasa punya kehidupan yang lebih baik, meski secara
ekonomi berkurang, tapi kenikmatan dan kenyamanan hidup kurasakan berbeda
dengan sebelumnya. Istriku juga terlihat berbeda, wajahnya begitu berseri
setiap melihat perubahanku. Akupun demikian, ku perlakukan dia dan anak-anak
secara lemah lembut, aku lebih perhatian.
Dalam sholatku selalu kupanjatkan do’a perlindungan,
kuminta kepada Allah, jika memang aku harus dipanggil menghadapNya lebih cepat,
aku pasrahkan diri, aku telah siap menghadap Ilahi. Kupanggil anak dan istriku,
aku ungkapkan semua itu, mereka semua terdiam sambil menatapku. “Bapak harus
tetap optimis, kami semua selalu mendo’akan untuk kesembuhan Bapak, kami sangat
sayang Bapak”. Kalimat istriku membuat mataku berkaca-kaca.
Akhir tahun ketiga dari vonis dokter, sakit di
kepalaku sudah tidak aku rasakan lagi. Kembali aku bisa beraktivitas bekerja
seperti dulu. Tapi ada perbedaan padaku saat ini. Selesai bekerja aku langsung
pulang, sholat dan kewajiban lain tak pernah kutinggalkan. Shodaqoh tiap hari
di waktu pagi tak kulewatkan. Alhamdulillah, usahaku semakin lancar, istri dan
anak-anakku semakin senang melihat perubahanku.
Suatu ketika, kuajak istriku menemani pergi ke
dokter untuk kontrol, setelah lama aku tidak melakukan itu karena merasa tidak
lagi sakit di kepalaku. Dokter memintaku untuk menunggu hasil pemeriksaan
beberapa hari lagi. Aku Kembali ke dokter untuk melihat hasil pemeriksaan,
dokter menjelaskan dengan terheran-heran. “Tumor yang ada di kepala Bapak dan
cairan yang dulu terdeteksi tidak ada sama sekali, bersih …”, kalimat dokter
yang membuat aku dan istriku menganga keheranan. “Benarkah dok…tidak ada yang
salahkah dalam pemeriksaan??”, aku meragukan tim medis rumah sakit ternama itu.
“Apa yang Bapak amalkan selama sakit, sehingga bapak diberikan keajaiban oleh
Tuhan?”. Kembali dokter bertanya, langsung mengingatkanku pada amalan shodaqoh.
Kuhabiskan hartaku untuk shodaqoh dengan niat ihlas
memohon kesembuhan atas diriku. “Ya Allah…terima kasih engkau telah mengembalikanku
pada kehidupan yang lebih baik”, ucapku saat meninggalkan rumah sakit sambil ku
pegang erat tangan istriku seakan tak ingin kulepaskan tangan ini. Tangan
inilah yang selama ini merawatku, tangan inilah yang selalu menadah pada Yang
Kuasa untuk mendo’akanku dan tangan inilah yang merawat anak-anakku dengan
sabar dan tak kenal lelah.
Ku undang semua saudara, teman dan tetangga ke
rumahku sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhanku. Tak lupa kusisihkan shodaqoh
untuk anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitarku. Semua merasakan
kebahagiaan seperti yang kurasakan saat ini. Bahagia yang tak terhingga, syukur
yang tiada tara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar