Selasa, 06 April 2021

CERPEN VONIS KEMATIAN

VONIS KEMATIAN

            Kuterbaring tak berdaya di atas kasur ini 3 tahun lamanya. Sejak dokter memvonis tumor otak dan di kepalaku ada cairan berlebih yang tidak dapat dikeluarkan. Dokter memprediksi kehidupanku yang akan lebih singkat dari hitungan manusia. Sejak saat itu, seluruh raga dan jiwaku lunglai tak berdaya. Bayangan kematian selalu di depan mata. Tapi semua sudah kupersiapkan untuk menghadap ilahi, secara lahir dan batin.

            Aku seorang suami dari istri yang sangat kuat menurutku. Rustiyah namanya. Aku dikaruniai 2 anak perempuan, Wiya dan Eta biasa kupanggil. Pekerjaanku wiraswasta yang menurut teman-temanku aku tergolong sukses. Tapi entah kenapa, kesuksesanku membawaku ke dunia malam yang tidak ada batasnya.

Hampir setiap hari aku pulang pagi dengan kondisi badan lusuh akibat kehidupan malam di club atau café. Tapi dengan setia Rusti istriku membukakan pintu dan langsung membawaku ke tempat tidur, sambil dia berbisik lirih, “Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk membasuh kaki Bapak”.

Seperti biasa sekitar jam 9 aku sudah selesai mandi pagi dengan air hangat yang selalu disiapkan sang istri. Setelah sarapan, aku berangkat bekerja. Istriku selalu berpesan kepadaku, “Hati-hati ya Pak…”. Anak-anakku juga selalu berteriak saat aku pergi kerja, “Bapak cepat pulang ya…”. Tapi aku hanya berlalu saja, seakan tak mendengar ucapan mereka.

Suatu ketika, saat aku pulang pagi dalam kondisi sempoyongan bersama seorang perempuan, istriku dengan cekatan langsung meraihku dan mempersilahkan perempuan itu langsung pergi, tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu. Aku langsung dibawanya ke kamar. Dengan cekatan, pakaianku digantinya dan dibaringkannya aku di tempat tidur. Seperti biasa, dia berucap lirih, “ Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk membasuh kaki Bapak”.

Saat aku bangun sekitar jam 9, terasa kepalaku pusing tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku. “Rusti….”, panggilku kepada istri. Rupanya dia tidak mendengar, mungkin saat itu masih di dapur atau di kamar mandi. “Rusti…”, panggilku kembali. Ternyata Wiya anakku sulung yang datang. “Bapak kenapa? Bapak tidak pergi kerja?”. “Panggilkan Ibumu, cepat”. Sambil aku meringis menahan sakit kepalaku. Wiya berlari sambil teriak-teriak memanggil ibunya. Rustipun datang sambil membawa teh hangat untukku. “Bapak kenapa?”. Sapanya kepadaku saat masuk kamar. “Antarkan aku ke dokter. Kepalaku sakit sekali tidak seperti biasanya”.

Setelah diperiksa dokter di rumah sakit, aku dipersilahkan istirahat di pembaringan. Istriku memandangku dengan tatapan sayu. Menatapku tanpa kedip, melihatku dengan rasa iba. “Pak…Bapak yang sabar ya..”. Ucapnya dengan halus kepadaku. Seperti biasa, istriku memang orang yang lemah lembut. Tapi aku yang selama ini membuat dia biasa saja. “Bagaimana dengan hasil pemeriksaan kepalaku?”, aku bertanya dengan nada lemah. “Bapak boleh pulang kok…tapi nunggu resep obat dulu dari dokter”.

Malam ini aku tidak keluar ke club atau café seperti hari-hari yang lalu. Aku di rumah saja karena badanku terasa lemah akibat kepalaku yang pusing berat. Pagi hari aku tetap pergi bekerja. Hari itu di tempat kerja aku pingsan, oleh rekan kerjaku aku diantar pulang. Istriku kaget, melihat aku lemas sambil memegangi kepalaku. Kembali aku diantar ke dokter. Kuberanikan diri untuk bertanya ke dokter tentang kepalaku. Dokter dengan tenang menjelaskan penyakit yang kuderita. Aku terkena tumor otak selain itu ada cairan di kepalaku yang sulit untuk dikeluarkan. Itu yang menyebabkan sakit sekali kepalaku.

Sejak vonis dokter itu, aku sering pingsan. Entah kenapa, sakit di kepalaku bertambah, seperti dunia akan runtuh. Sejak saat itu kehidupanku berubah 180o. Sekarang bisnisku ku serahkan rekan kerjaku dengan kesepakatan hasil.

Istriku membawaku ke rumahsakit. Dokter menyarankan aku operasi. Tapi aku tidak menuruti saran dokter. Bayangan operasi membuat aku tambah drop, kepalaku akan di belah seperti digergaji. Mungkin semua ini akibat kesalahanku masa lalu terhadap istri dan anak-anakku terutama tuhan yang telah memberiku segalanya. Aku melupakanNya.

Aku lebih banyak di rumah, pekerjaanku hanya berbaring sambil meringis memegangi kepala yang semakin sakit. Kepalaku yang sakit tapi kenapa semua badanku juga terasa sakit dan lemas. Seakan memang hidupku tinggal sesaat. Kubayangkan semua kesalahan dalam hidupku membuat semakin sakit kepalaku. Kehidupan malam dengan minuman keras, perempuan malam dan barang haram lainnya. Kuabaikan istri dan anakku, mereka hanya aku anggap sebagai pelengkap penderita saja. Memang istri dan anakku tak pernah mengeluh kepadaku, tak pernah melarang apa yang aku lakukan. Mungkin mereka memendam marah kepadaku, tapi tidak berani mengungkapkan. Istriku adalah wanita yang pandai dalam mendidik anak dan pandai memendam rasa, sehingga semua dapat terkontrol dengan baik. Tapi kenapa aku hanya menganggap dia wanita biasa saja?.

Tak terasa sudah satu tahun aku sakit, badanku tidak lagi seperkasa dulu. Sakitku datang dan pergi, jika sakit itu datang rasanya kepala mau pecah, dunia mau ambruk, sakit sekali, hanya bayangan kematian saat itu. Ternyata prediksi dokter meleset, aku masih diberi kehidupan satu tahun setelah dokter memvonisku dulu. Aku hanya mengandalkan resep obat dari dokter untuk mengurangi rasa sakit. Kehidupan ekonomiku sedikit menurun, akibat harus terus menerus membeli resep obat ke apotik. Tapi sedikitpun istriku tak pernah mengeluh.

Suatu ketika, aku memberanikan diri. “Rusti….maafkan aku, mungkin ini balasan Tuhan kepadaku, karena salahku di masa lalu padamu dan anak-anak”. Sambil kupegang tangannya dan ku cium mesra. Aku baru merasakan memperlakukan istriku semesra ini. “Bapak tidak perlu meminta maaf, aku sudah maafin Bapak sejak lama, aku ikhlas kok Pak”. Katanya sambil berlinang airmata. Kuusap airmata yang menetes di pipinya lalu kupeluk erat dia sambil kubisikan berkali-kali kalimat permintaan maaf. Sejak saat itu serasa hati ini tenang dan nyaman. Rasanya ada kehidupan baru dalam jiwaku, meski tetap aku menahan sakit di kepalaku.

Suatu ketika rusti berbicara lembut. “Bapak sholat yukk….biar Allah juga maafin Bapak”. Aku malu rasanya, sudah lama kutinggalkan kewajiban itu. Aku mengikuti ajakan istriku, meski aku belum bisa jadi imam untuk keluargaku. Sakit sekali kepalaku saat kupakai sujud. Saking sakitnya aku pernah pingsan saat sholat. Setelah kejadian itu, istriku menyarankan aku sholat dalam posisi duduk atau berbaring saja. Posisi ini aku rasakan lebih nyaman. Seusai sholat kupanjatkan pertaubatanku dan tak lupa aku memohon do’a perlindungan dan petunjukNya.

Sore itu ada tetangga, namanya Ummi Anne yang menjengukku. Aku malu, karena aku tergolong warga yang jarang bersilaturahim ke tetangga, tapi untung istriku tetap melakukan itu. Ummi Anne menyarankan agar aku berobat alternatif dan melakukan amalan shodaqoh sebanyak-banyaknya yang diniatkan khusus untuk kesembuhanku. Istriku menyarankan aku mengikuti saram ummi anne.

Sejak saat itu, aku mengikuti saja apa yang dilakukan istriku. Dia mengajak aku berobat alternatif. Di tempat alternatif, aku hanya diminta untuk hening menenangkan diri, memusatkan pikiran dan focus hanya pada sang pencipta. Seraya berdo’a memohon pertolongan Sang Pencipta. Pulangnya aku diberikan ramuan yang harus diminum 2 hari sekali. Aku pergi ke alternatif  2 minggu sekali.

Istriku meminta ijin untuk menjual mobil dan motor yang memang sudah lama tidak kupakai akibat sakit ini. Cukuplah satu motor yang digunakan istri sebagai alat transportasi harian. Istriku juga akan menjual seluruh perhiasannya. Ternyata uang yang kuberikan tidak semua digunakan untuk kebutuhan harian, dia membelikan perhiasan dan menyimpannya. Memang istriku tidak banyak menggunakan perhiasan, hanya sebuah kalung dan cincin yang dulu aku berikan saat menikahinya.

“Pak…aku pergi dulu ke beberapa yayasan yatim piatu dan beberapa masjid untuk memberikan shodaqoh hasil penjualan mobil dan perhiasan, Bapak baik-baik di rumah ya…ada wiya dan eta jika Bapak perlu apa-apa”. Ucapnya sebelum meninggalkan rumah. “Mohonkan do’a kepada anak-anak itu untuk kesembuhanku”, pesanku kepadanya sebelum dia berlalu. Aku lupa, aku masih punya simpanan tabungan yang istriku sendiri tidak tahu. Segera ku hubungi teman-temanku untuk mencari anak-anak yatim dan fakir miskin dari langganan usahaku. Kuserahkan semua simpanan tabunganku untuk shodaqoh kepada anak yatim dan fakir miskin.

Tahun kedua dan ketiga masa sakitku ku isi dengan mendekatkan diri kepada Yang Kuasa dan shodaqoh tiada henti. Kembali, ternyata Tuhan masih memberiku kehidupan. Suatu hal yang tidak mungkin jika mendengar vonis dokter saat itu. Aku merasa punya kehidupan yang lebih baik, meski secara ekonomi berkurang, tapi kenikmatan dan kenyamanan hidup kurasakan berbeda dengan sebelumnya. Istriku juga terlihat berbeda, wajahnya begitu berseri setiap melihat perubahanku. Akupun demikian, ku perlakukan dia dan anak-anak secara lemah lembut, aku lebih perhatian.

Dalam sholatku selalu kupanjatkan do’a perlindungan, kuminta kepada Allah, jika memang aku harus dipanggil menghadapNya lebih cepat, aku pasrahkan diri, aku telah siap menghadap Ilahi. Kupanggil anak dan istriku, aku ungkapkan semua itu, mereka semua terdiam sambil menatapku. “Bapak harus tetap optimis, kami semua selalu mendo’akan untuk kesembuhan Bapak, kami sangat sayang Bapak”. Kalimat istriku membuat mataku berkaca-kaca.

Akhir tahun ketiga dari vonis dokter, sakit di kepalaku sudah tidak aku rasakan lagi. Kembali aku bisa beraktivitas bekerja seperti dulu. Tapi ada perbedaan padaku saat ini. Selesai bekerja aku langsung pulang, sholat dan kewajiban lain tak pernah kutinggalkan. Shodaqoh tiap hari di waktu pagi tak kulewatkan. Alhamdulillah, usahaku semakin lancar, istri dan anak-anakku semakin senang melihat perubahanku.

Suatu ketika, kuajak istriku menemani pergi ke dokter untuk kontrol, setelah lama aku tidak melakukan itu karena merasa tidak lagi sakit di kepalaku. Dokter memintaku untuk menunggu hasil pemeriksaan beberapa hari lagi. Aku Kembali ke dokter untuk melihat hasil pemeriksaan, dokter menjelaskan dengan terheran-heran. “Tumor yang ada di kepala Bapak dan cairan yang dulu terdeteksi tidak ada sama sekali, bersih …”, kalimat dokter yang membuat aku dan istriku menganga keheranan. “Benarkah dok…tidak ada yang salahkah dalam pemeriksaan??”, aku meragukan tim medis rumah sakit ternama itu. “Apa yang Bapak amalkan selama sakit, sehingga bapak diberikan keajaiban oleh Tuhan?”. Kembali dokter bertanya, langsung mengingatkanku pada amalan shodaqoh.

Kuhabiskan hartaku untuk shodaqoh dengan niat ihlas memohon kesembuhan atas diriku. “Ya Allah…terima kasih engkau telah mengembalikanku pada kehidupan yang lebih baik”, ucapku saat meninggalkan rumah sakit sambil ku pegang erat tangan istriku seakan tak ingin kulepaskan tangan ini. Tangan inilah yang selama ini merawatku, tangan inilah yang selalu menadah pada Yang Kuasa untuk mendo’akanku dan tangan inilah yang merawat anak-anakku dengan sabar dan tak kenal lelah.

Ku undang semua saudara, teman dan tetangga ke rumahku sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhanku. Tak lupa kusisihkan shodaqoh untuk anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitarku. Semua merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan saat ini. Bahagia yang tak terhingga, syukur yang tiada tara.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...