Selasa, 06 April 2021

CERPEN KETIKA AKU JATUH CINTA

 KETIKA AKU JATUH CINTA

Aku biasa dipanggil Julian. Anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku bernama Abid dan adik bungsuku yang paling cantik dipanggil Vivi. Aku tinggal bersama orangtua yang hidup dalam ekonomi berkecukupan. Aku dibesarkan di lingkungan orangtua yang beda keyakinan. Ayahku pemeluk Islam taat dan Ibuku katolik yang juga taat, karena beberapa saudara ibuku menjadi pendeta. Aku menempuh pendidikan menengah atas di sekolah Kristen yang terkenal di kotaku.

Meski aku dibesarkan dalam lingkungan yang beda agama, namun tak pernah kujumpai Ayah dan Ibuku terlibat pertengkaran karena beda keyakinan. Mereka sama-sama saling menghormati dan menjunjung tinggi arti toleransi. Ibuku orangnya sangat keras dalam mendidik anak, sehingga pendidikan di rumah dominan melewati ibu. Sementara ayahku focus pada mencari nafkah mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Karena kami lebih dekat dengan ibu, maka secara otomatis keyakinan kami mengikuti keyakinan ibu. Meski demikian, ayahku tidak mempersoalkan masalah itu. Seperti biasa, setiap hari minggu kami ke Gereja untuk mengikuti kebaktian bersama ibu dengan diantar oleh ayah. Demikian juga dalam acara-acara keagamaan islam. Pada saat ayah melaksanakan ibadah puasa ramadhan, ibu selalu menyiapkan menu buka puasa bersama, meski kami tak ikut puasa dan ibu tetap menyiapkan hidangan untuk makan sahur. Pada saat hari raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha ibu selalu menyiapkan hidangan special menyambut hari raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha untuk ayah.

Seperti biasa, aku pulang sore setelah main basket di sekolah. Sesampai di rumah kuhidupkan televisi sambil santai sejenak. Saat adzan maghrib di TV terdengar, kupindahkan canel TV mencari acara lain selain adzan. Entah mengapa setiap aku mendengar suara adzan, ada rasa jengkel dalam hati. Suara yang mengganggu keasyikan orang yang lagi santai, mengganggu orang yang sedang asyik nonton tiba-tiba berhenti gara-gara adzan. Demikian seterusnya, setiap aku mendengar adzan, aku ganti canel atau aku matikan TV dan masuk kamar dengan hati mendongkol. Ingin aku mengumpat, marah dan teriak, tapi pelajaran toleransi ibuku sangat kuat di rumah ini.

Suatu ketika, saat sore hari pulang dari bermain basket, seperti biasa aku nonton TV, kebetulan adikku yang bungsu sedang nonton film kartun. Tiba-tiba ibuku memanggil, “Vivi … waktunya belajar, masuk kamar!”. Vivipun berlari masuk kamar tanpa mengindahkanku. Vivi tahu sifat ibuku, orangnya keras, jika tidak menurut kata-katanya, bakalan kena marah. Tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib dari televisi. Aku berniat memindahkan canel TV, namun kucari remote control itu tidak ada. Di dekat TV, di bawah bantal kursi, di karpet, kubolak-balik bantal kursi berkali-kali tidak kutemukan benda hitam yang berfungsi memindahkan canel dan mematikan TV itu. Ingin rasanya langsung mematikan TV itu, tapi tak kutemukan alat itu.

Namun tiba-tiba secara tersentak hati ini ingin mendengar suara adzan di TV itu. Saat  kulihat lafadz serta terjemahan yang ada, ditambah lagi kalimat-kalimat tambahan dari stasiun TV itu, hati ini serasa bergetar. Getaran itu bertambah kencang dan mendadak serasa dingin sekujur tubuhku saat ku dengar kalimat “Hayya Alas Sholah – Hayya Alal Falah”, “marilah mendirikan sholat – marilah menuju keberuntungan dan keselamatan”. Belum pernah aku merasakan kedinginan seperti ini. Kutuntaskan aku mendengar suara adzan dan kucermati tulisan-tulisan itu sampai selesai, tiba-tiba kedinginan yang kurasakan tadi berubah menjadi kehangatan yang tak pernah kurasakan selama ini.

Sejak saat itu, setiap kudengar adzan, sejuk menyelimuti jiwaku, tenang serasa hatiku, tidak pernah kurasakan sedamai ini hatiku. Aku bingung, biasanya aku begitu benci dengan suara itu. Entah itu yang terdengar melalui toa-toa masjid ataupun yang terdengar di TV, aku selalu mengejeknya, meski dalam hati.

Sekarang, setiap pulang bermain basket, aku selalu duduk manis di depan TV menanti adzan maghrib. Entah mengapa, sejak kejadian itu, keinginan mendengar suara adzan sangat kuat. Meski kadang-kadang ibuku dengan sengaja mematikan TV secara tiba-tiba dengan berkata, “ayo cepetan mandi, keburu malam airnya semakin dingin”. Dengan berat hati, aku langsung masuk kamar dengan rasa kecewa. Kejadian aku dimarah ibuku saat menonton adzan maghrib ini hampir setiap hari.

Suatu hari aku bercerita pada adikku Abid yang kebetulan sekamar denganku. Kuceritakan peristiwa yang menimpa diriku dan perubahan dalam hatiku. Abid ternyata juga diam-diam melihat perubahan yang terjadi pada diriku, lebih tenang dan lebih bersahaja. Kelontarkan ideku untuk mencoba belajar tentang Islam secara diam-diam mendapat respon positif dari Abid.

Aku pergi ke toko buku bersama Abid. Kucari di rak-rak itu buku bertuliskan tuntunan sholat. Uang jatah sekolahku dan Abid kugunakan untuk membeli buku itu. Mampir juga ke toko peralatan sholat. Kubeli satu saja sajadah sebagai alas sholat untuk berdua. Aku tidak membeli sarung, karena kulihat, di sekolahku, saat sholat tetap menggunakan celana panjang, takut ketahuan oleh ibuku. Sampai di rumah, kami pelajari buku sholat itu berdua sambil mempelajari gerakannya. Saat tidak digunakan, buku dan sajadah itu kami simpan di laci yang tidak mungkin dibuka oleh ibuku.

Suatu ketika, saat kami sedang belajar sholat di kamar, ibuku memanggil-manggil, “Juli…Abid…ayo makan…cepat keluar!”. Saat itu kami tidak langsung keluar kamar. Ibuku mendekati kamar kami dengan mengetuk kamar keras-keras. “Juli… Abid… kenapa kalian sekarang selalu kunci kamar?, ada yang kalian sembunyikan ya?”, Tanya ibuku dengan heran. Kami sedikit takut saat ibu membuka pintu, tiba-tiba ibuku langsung menerobos ke dalam kamar. Untungnya semua peralatan sudah kami simpan rapat-rapat, sehingga ibuku tak menemukan apapun di kamar kecuali buku-buku pelajaran dan baju-baju kami yang berantakan. Biasalah kamar laki-laki tidak seperti kamar perempuan yang selalu rapi. Vivipun berlarian ke kamarku. Tapi untungnya Vivi segera mengajak ibu keluar dari kamar menuju meja makan.

Saat di meja makan, ibu berkata, “jangan suka mengunci kamar, ibu gak suka anak laki-laki mengunci kamar”. Kemudian ayah menyahut dengan tenangnya, “biarlah Bu, namanya anak ingin menjaga privasinya, yang penting tidak berbuat macam-macam. Bukan begitu para jagoan Ayah?”. Sambil mengerlingkan dahinya ayah melirik ke kami. Kami berdua senyum-senyum merasa lega.

Setiap hari, kami tak melewatkan sholat lima waktu, meski kami melakukannya secara diam-diam. Sampai akhirnya bulan Ramadhan itu datang. Aku dan Abid tak ingin melewatkan bulan itu begitu saja. Kami juga ingin menikmati seperti umat islam lain. Saat Ayah makan sahur, kami ikut nimbrung dengan alasan ikut menemani ayah. Awal-awal ibuku selalu menyuruh kami melanjutkan tidur, tidak perlu menemani ayah, cukup ibu yang menemani. Namun karena kami laki-laki, kami beralasan kalau lihat menu makan sahur ayah menambah rasa lapar. Lama kelamaan ibuku tak kuasa juga menolak.

Saat kami mau berangkat sekolah, ibu menyuruh kami sarapan. Namun dengan sopan kami menjawab masih terasa kenyang dengan makan sahur bersama ayah tadi. Kami sengaja pulang sekolah lebih sore dari biasanya dengan alasan ada kegiatan tambahan di sekolah. Saat ibu meminta kami makan duluan, berbagai alasan kami ungkapkan untuk bisa berbuka bersama dengan ayah. Entah itu dengan mandi berlama-lama, sudah kenyang karena ditraktir teman di sekolah, sengaja belum mandi sampai mendekati maghrib. Banyak alasan yang kami kemukakan hanya ingin melaksanakan puasa Ramadhan.

Pada saat sholat isya’ tiba, kami lebih sering sholat tarawih di kamar. Pernah sekali waktu, kami berdua pergi ke suatu masjid yang lumayan jauh dari rumah. Kami mencari masjid yang sekiranya tidak ada orang yang mengenali kami. Kami melaksanakan sholat Isya’ dan Tarawih di sana. Meski kami tidak tenang melaksanakannya, tapi kami lega bisa melaksanakannya di masjid. Pulang-pulang hari sudah malam, tak heran ibuku memarahiku. tapi kami beralasan akan ada even basket yang akan segera digelar di sekolah. Tapi lagi-lagi ayah menyelamatkan kami dari marah ibuku.

Satu bulan sudah kujalani puasa ramadhan ini. Tak terasa Iedul Fitri tiba. Sengaja kami bangun sebelum subuh, sebelum ayah dan ibuku bangun. Kami berdua bersiap-siap pergi sholat ied. Kami menyiapkan satu tas berisi baju basket lengkap, sepatu dan sajadah. Perlengkapan basket ini ku bawa, untuk memberikan alasan saat pulang sholat Ied nanti. Pelan-pelan ku keluarkan motor itu tanpa suara, Abid dengan segera menutup pagar rumah setelah kami berhasil mengeluarkan motor dari garasi.

Adzan subuh berkumandang, kami berhenti di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah, kami merapikan baju dan celana yang kami pakai. Saat kami memasuki masjid, beberapa orang yang mengenal kami, sempat menegur dengan kalimat, “ini khusus muslim, apa kalian sudah masuk islam?”, kami tersenyum ramah tanpa kata-kata. Seseorang menimbali dengan kalimat, ”biarlah… kita do’akan semoga mendapat hidayah”. Setelah sholat subuh selesai, panitia sholat Ied langsung merapikan dan membersihkan kembali masjid itu yang sebentar lagi akan digunakan untuk sholat Iedul Fitri. Kami ikut membantu panitia. Beberapa anak muda langsung mengumandangkan takbir. Saya pun diam-diam mengikuti. Sholat Iedul Fitri berlangsung lancar tanpa halangan.

Pulang dari masjid, kami telah berganti kostum basket lengkap. Saat kami masuk rumah, tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu memanggilku. Hatiku berdebar, kalau-kalau ibuku tahu dan marah. Benar juga, ibuku marah karena aku pergi tanpa pamit. Kuberikan alasan kepergianku tadi pagi tanpa pamit karena melihat kamar ibuku masih tertutup, tidak tega membangunkannya. Aku pasrah jika ibu tahu mengenai kepergianku sesungguhnya. Tiba-tiba kali ini kemarahan ibu mereda dengan sendirinya. Disuruhnya kami langsung menuju meja makan dengan hidangan opor ayam lebaran. Senangnya hatiku dan Abid tak terkira. Kenikmatan yang tak pernah kami alami seumur hidup. Puasa Ramadhan dan sholat Iedul Fitri.

Hari-hari terus kulalui dengan menyembunyikan ketertarikanku pada Islam. Aku sedih saat tidak bisa ikut berjamaah sholat di masjid. Aku dan Abid jarang keluar kamar setelah tekad kami belajar islam. Banyak buku-buku tentang islam yang kupinjam dari perpustakaan sekolah menghiasi meja belajarku. Ibuku tidak mengetahui hal itu. Beliau hanya tahu yang penting kami di kamar buka buku untuk belajar, tanpa mengetahui buku apa yang kami baca.

Suatu ketika, saat kami pulang sekolah, tiba-tiba ibu memanggilku dengan tatapan matanya yang tidak biasa. Dengan nada marah ibu berkata, “Julian…ibu tadi mendengar cerita dari ibu-ibu kompleks, bahwa kamu ternyata Iedul Fitri kemarin sholat di Masjid mereka, Benarkah ? Jawab Julian… Apa maksudnya semua ini ?”. Sambil memandang kami dengan mata terbelalak, ibu berkata lagi, “jangan main-main dengan agama Julian…”. Melihat kemarahan ibuku, entah kenapa keberanianku untuk berbicara mengalir begitu saja dengan tenangnya. Kuakui semua yang kulakukan dan kuakui bahwa selama ini aku telah belajar banyak tentang Islam dan hatiku telah terpaut dengan Islam. Tak bisa kupungkiri hati ini dan tidak bisa lagi menerima keyakinan lain. Seketika itu juga ibuku marah dengan berkata, “tidak bisa Julian… kamu dan Abid sudah dibaptis sejak kecil”. Kuceritakan peristiwa yang kualami sampai pada akhirnya aku seperti ini. Kembali ibuku bertanya, “apakah kamu sudah melakukan syahadat di depan kyai?”, kujawab, “belum bu…, tapi aku sudah ucapkan dan meyakini dalam hati”. Setelah mendengar jawabanku itu ibuku pergi berlalu masuk kamar tanpa menghiraukanku dan Abid.

Berhari-hari ibu tak menyapaku, beliau sering keluar rumah tanpa pemberitahuan seperti biasanya. Kubiarkan itu, yang penting kemarahan yang terjadi waktu itu tidak terulang. Setelah kejadian itu, aku lebih tenang menjalani, saat adzan Maghrib berkumandang, aku pergi ke masjid dekat rumah bersama Abid sampai sholat Isya’.

Suatu sore, aku melihat Ibu meneteskan air mata sendiri di teras rumah. Kudekati ibu sambil kupegang tangannya dan kucium meminta maaf. Melihat aku, ibu bertambah menangis, kemudian mengusap kepalaku sambil berkata, “Julian…sudah bulatkah kamu pindah keyakinan?”, kujawab dengan singkat, “sudah Bu”, ibuku melanjutkan kata-katanya, “jika kamu memang sudah benar-benar yakin akan keputusanmu, kamu harus total, tidak boleh setengah-setengah, besok kamu dan Abid ikut Ibu”.

Aku dan Abid di bawa oleh ayah dan ibu ke rumah kyai yang tinggal di kompleks kami. Kulihat mata ayah dan ibu berkaca-kaca mendengar penjelasan kami. Setelah kami ngobrol tentang keputusan kami, Kyai itu membawa kami ke masjid saat sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur, kami dituntun untuk mengucap dua kalimat syahadat disaksikan oleh para jamaah sholat dhuhur saat itu. Secara bergantian ayah dan ibu memeluk kami, mereka meneteskan air mata haru, kamipun ikut menangis dipelukan mereka. Aku meminta maaf kepada ibu, karena selama ini banyak berbohong menutupi ketertarikanku pada Islam.

Dalam beberapa hari yang lalu, saat ibu tidak menyapaku dalam waktu yang lama, ternyata secara diam-diam, ibuku pergi ke beberapa teman-temannya untuk berkonsultasi tentang aku dan abid. Dalam konsultasinya, ibu banyak mendapatkan pencerahan dan nasehat sehingga ibu mau membuka pintu hatinya untuk menerima keputusanku. Suatu hari, ibu mengetuk pintu kamarku dengan membawa sebuah bungkusan besar. “Julian…Ibu tidak bisa membimbingmu lagi seperti dulu, Ibu hanya bisa memberikan ini (dengan menyodorkan bungkusan itu)”, ucapan ibu lirih. Aku menerima bungkusan itu dengan banyak tanda tanya. Sambil berlinang air mata ibu melanjutkan kalimatnya, “bukalah nak… semoga ini bisa bermanfaat”. Kubuka bungkusan itu, ternyata isinya diluar dugaanku. Selama ini ibu keluar rumah tanpa pamit, ternyata mencari perlengkapan ibadahku dan bahan bacaan islam. Sarung, sajadah, peci, baju koko, Al-Qur’an terjemahan dan beberapa buku bacaan islam. Ibu berkata lagi, “kamu dan Abid harus pindah sekolah, Ibu sudah memilihkan sekolah terbaik untukmu”, aku menimpali kalimat ibu, “kenapa harus pindah sekolah Bu, aku sudah nyaman di sekolah yang sekarang”, kembali ibu menegaskan, “Ibu sudah mendaftarkanmu di sekolah Islam terbaik, kamu tidak cocok lagi di sekolah Kristen”. 

Aku terharu dengan semua yang aku terima dari ibu. Dibalik sifat kerasnya ibuku yang beda keyakinan, menyimpan rasa sayang kepadaku yang begitu besar. Aku menghamburkan diri dipelukan ibuku dengan menangis tiada henti.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa aku telah lulus dari sekolah menengah atas. Kulanjutkan pendidikan tinggiku sampai pada akhirnya keinginan untuk mengajak ibu menggapai hidayah tiba. Dengan segala usaha kulakukan untuk membujuk ibuku, namun tak juga berhasil. Akhirnya kupasrahkan semua pada Allah SWT untuk membuka hati ibuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...