Ibu dalam Irama Gadget
Oleh : Siti Dhomroh
Siapa
yang tidak kenal benda yang satu ini. Bendanya kecil, pintar, simple bisa
dibawa kemanapun dan bisa menyimpan data seperti memori otak manusia. Anak
belum genap berumur satu tahun saja sudah mengenal benda ini melalui ibunya.
Iya…betul…gadget. Sebuah alat komunikasi yang memiliki banyak fungsi dengan
dilengkapi berbagai macam fitur yang berbeda. Gadget ini selalu mengalami
perubahan seiring dengan perkembangan zaman saat ini.
Gadget
bisa mengakses informasi yang dibutuhkan dengan tak terbatas. Dengan adanya
alat ini, kita didekatkan dari yang jauh, namun juga dijauhkan dari yang dekat.
Bagaimana tidak? Jika kita telah asyik dengan gadget maka kita akan lupa dengan
sekitar kita, lupa dengan waktu yang telah menjadi prioritas hidup kita. Kita
mampu berjam-jam bersama dengan gadget, namun kita tidak mampu berlama-lama
dengan Sang Pemilik Hari.
Seorang
suami atau istri, jika sedang berada dalam dunia gadgetnya maka mereka tidak
memperdulikan satu dengan yang lain. Akibatnya sering terjadi pertengkaran
antara suami dan istri, karena merasa sudah tidak lagi dipedulikan, tidak lagi
diperhatikan, mereka lebih mementingkan gadget. Demikian juga anak dan
orangtua, jika mereka sudah memegang gadget, maka perhatian keduanya semakin
berkurang. Sering terjadi, anak asyik dalam dunianya sendiri, begitupun
orangtuanya. Mereka tidak lagi harmonis dalam keluarga, tidak ada lagi canda
tawa, senda gurau yang saling membahagiakan.
Saat
ada kegiatan berkumpul, rapat resmi ataupun pertemuan-pertemuan tidak resmi,
kadang kita tidak focus lagi tentang apa yang sedang dibahas dalam kegiatan
itu, dikarenakan masing-masing orang asyik sendiri dengan gadgetnya. Saat salah
seorang berbicara, maka sikap yang terlihat adalah tetap asyik melihat gadget.
Karakter inilah yang sekarang tumbuh di semua lapisan masyarakat.
Seorang
ibu jika melihat anaknya sedang rewel menangis, saat diberikan gadget, maka
saat itu akan langsung terdiam, mereka berfikir bahwa dengan diberikannya
gadget ini akan menjadikan solusi bagi si anak. Jika seorang ibu paham betul
tentang bahaya gadget, maka langkah itu tidak akan diambil. Gadget akan
mengurangi fungsi syaraf motorik anak dan akan mengganggu fungsi organ-organ
lain anak yang masih normal. Anak akan mengalami gangguan tumbuh kembangnya
secara normal.
Gadget…oohhh….gadget,
engkau begitu penting, melebihi pentingnya dompet. Buktinya saat gadget kita
ketinggalan atau hilang, maka kita akan kebingungan seperti orang yang
kehilangan identitas. Begitulah efek penggunaan gadget yang sungguh luar biasa
di semua kalangan.
Sebagai
seorang ibu dan sekaligus guru bagi anak-anak, seharusnya memberikan contoh
penggunaan gadget saat di rumah maupun saat berkumpul bersama. Sebagai awal
pondasi pendidikan seorang anak adalah keluarga, di mana seorang ibu adalah
guru pertama bagi anak. Bahasa yang dikenal anak pertama kali adalah bahasa
ibu. Oleh karena itu, begitu besar peran ibu dalam masa tumbuh kembang anak
sampai anak itu mengenal lingkungan luarnya. Ibulah yang memberikan pendidikan
dasar pada anak agar anak tumbuh sesuai kodrat alam dan zamannya. Karena
sejatinya pendidikan itu adalah tuntunan untuk keselamatan dan kebahagiaan
hidup.
Irama
zaman saat ini begitu gegap gempita dengan berbagai macam jenis gadget dan
perangkatnya. Kita dan anak-anak kita tidak bisa lepas dari irama itu. Ditambah
lagi dengan kondisi lingkungan anak yang juga sangat mempengaruhinya. Di
sinilah peran seorang ibu sangat dibutuhkan. Kontrol penggunaan gadget saat di
rumah ataupun saat berkumpul bersama sangat diperlukan. Namun demikian seorang
ibu terlebih dahulu harus memberikan contoh teladan dalam penggunaan gadget.
Hal-hal
yang harus dilakukan sebagai seorang ibu dalam membatasi dan mengontrol
penggunaan gadget pada anak antara lain :
1.
Meluangkan waktu
bersama
Seorang anak sejatinya tidak membutuhkan orangtua yang kaya harta,
namun mereka lebih membutuhkan orangtua yang kaya dengan waktu. Dalam irama
zaman sekarang, bagi orangtua juga berat, dengan banyaknya tuntutan hidup. Meluangkan
waktu bersama keluarga adalah hal yang sangat mahal untuk kondisi saat ini.
Mengingat anak dan orangtua memiliki kesibukan sendiri-sendiri, dunia mereka
sendiri-sendiri akibat pengaruh gadget saat ini.
Sejatinya kebersamaan bersama dengan keluarga sangat dinantikan oleh
anak. Apalagi saat orangtua mengajak anak untuk bermain bersama, makan minum
bersama, pergi bersama, mandi bersama, mengobrol dan bercerita bersama tentang
kegiatan mereka sehari-hari. Begitu indah kebersamaan ini jika dilakukan rutin
antara anak dan orangtua.
2.
Membuat kesepakatan
jadwal penggunaan gadget
Orangtua harus membuat kesepakatan jadwal dalam penggunaan gadget
bersama anak. Terutama bagi anak-anak yang masih usia sekolah. Kesepakatan
jadwal ini bertujuan agar anak dapat memanfaatkan waktu sesuai dengan
aktivitasnya. Kesepakatan ini melibatkan anak, karena mereka akan berfikir
mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Terutama saat waktu belajar, makan,
aktivitas fisik lain, berkumpul bersama dan beribadah. Waktu-waktu ini tidak
diperbolehkan dilakukan bersamaan dengan aktivitas penggunaan gadget. Namun
demikian orangtua juga harus melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan.
3.
Memberitahu bahaya
penggunaan gadget
Sebagai orangtua tentu sangat menyayangi buah hati belahan jiwanya. Saat
berkumpul bersama itulah momen yang tepat untuk memberitahu sang buah hati
tentang bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan gadget yang berlebih. Tentu
dengan bahasa seorang ibu dengan menyesuaikan umur anak. Tidak perlu sampai
menakut-nakuti, tapi kita ajak anak untuk sedikit berfikir dengan menunjukkan
bukti-bukti ilmiahnya.
4.
Mengajak anak untuk
beraktivitas fisik
Anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan kegiatan fisik.
Dengan kegiatan fisik inilah saatnya anak untuk melupakan gadget sejenak. Saat
anak asyik dengan gadgetnya, perlu diingatkan bahwa temannya sedang menunggu
untuk beraktivitas di luar. Ini penting dilakukan agar ada keseimbangan dalam
semua organ anak. Aktivitas fisik ini antara lain olahraga, bermain ataupun
aktivitas lainnya yang berhubungan dengan gerak motorik.
5.
Bersikap disiplin
dan tegas
Bersikap disiplin dan tegas dilakukan tidak hanya pada anak, namun
juga untuk diri sendiri bahkan pada pasangan. Tegas pada diri sendiri dan
pasangan ini penting sekali untuk memberikan contoh pada anak bahwa aturan itu
berlaku untuk semua anggota keluarga. Saat salah satu anggota keluarga
melanggar aturan, maka sanksi tetap harus diberlakukan pada anggota yang
melanggar. Sebagai pioneer dalam keluarga adalah orangtua.
6.
Memberikan permainan
atau tugas alternatif
Memberikan permainan atau tugas alternatif pada anak adalah salah satu
cara untuk melepaskan gadget dari tangan anak. Meski itu hanya sementara waktu,
namun waktu yang sedikit itu akan membuat anak melupakan gadgetnya. Jika anak
masih usia sekolah dasar maka permainan semisal ulat tangga, dakon, puzzle,
tebak kata atau permainan lain seusia mereka adalah alternatif pengganti
gadget. Namun untuk anak-anak usia sekolah menengah, maka orangtua harus
memberikan tugas harian sebagai target belajar mereka. Target tugas di sini
bukan tugas sekolah, melainkan life skill pekerjaan rumah yang harus
mereka selesaikan dan diberikan reward sebagai bentuk penilaiannya.
Contohnya, tugas untuk merapikan kamar, merapikan ruangan lain, membersihkan
halaman, membersihkan kamar mandi, membersihkan dapur dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar