Selasa, 06 April 2021

FISIKA oh Fisika

 Fisika oh Fisika

Apa yang terlintas dalam benak kita saat disebut kata fisika? Banyak orang mengatakan bahwa fisika adalah mata pelajaran yang sulit dan banyak rumus. Jawaban itu bisa saja benar dan bisa saja tidak benar. Menurut sebagian orang yang telah mendalami ilmu fisika, maka fisika adalah ilmu yang mengasyikan, membuat kehidupan serba mudah, karena fisika erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Namun sebagian yang lain mengatakan bahwa fisika itu sulit, terlalu banyak rumus yang harus diingat. Fisika ooohhh fisika, nasibmu ....

Pada kenyataannya banyak anak lulusan SMA mengambil jurusan fisika di perguruan tinggi dengan berbagai program studi peminatan. Baik itu Pendidikan fisika maupun fisika murni dengan berbagai peminatannya, misalnya fisika nuklir dan partikel, fisika material, fisika instrumentasi, geofisika, fisika medis maupun fisika zat dan masih banyak lagi peminatan lain yang  bisa dipilih.

Belajar memang membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Seorang anak yang asalnya tidak menyukai fisika, dikarenakan tetap belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh, maka lama kelamaan akan menyukai. Belajar memang harus dipaksakan, karena jika tidak dipaksakan maka pikiran dan hati akan memilih hal yang ringan. Seorang anak akan memperoleh hasil belajar maksimal jika mereka mendapat tempaan yang memberikan pengalaman tersendiri.

Ayo....belajar, fisika itu mudah.

PANTUN SPONTAN

 Pergi berlayar mencari ikan.

Ikan kecil dibuang-buang.

Hari ini tidak ada yang bisa dimakan.

Mau belanja tidak ada uang.

 

Memakai sarung berbenang emas.

Emas disimpan di kotak besi.

Hari ini terasa lemas.

Ternyata perut belum terisi nasi.

 

Melihat pemuda tampan rupawan.

Pergi ke masjid menunaikan panggilan.

Bu kepala memang dermawan.

Mohon bayar kami yg tiga bulan.

 

Jalan-jalan ke pasar Legi.

Jangan lupa membeli terasi.

Bulan April tiba sebentar lagi.

Semoga cair sertifikasi.

 

Jalan-jalan ke Australia.

Sampai di hutan bertemu kangguru.

Kangen sekali sama Bu Hj. Marlia.

Lebih-lebih dengan Bapak Ibu guru.

 

Melihat matahari berpola difraksi

Saat itu terdengar intensitas bunyi

Hidup tidak perlu ditangisi

Tambahkan sujud diwaktu sunyi

 

Gelombang tali gelombang transversal

Tali diikat menjadi simpul-simpul

Akhirat bukan tempat orang menyesal

Padang mahsyar tempat kita berkumpul

CERPEN VONIS KEMATIAN

VONIS KEMATIAN

            Kuterbaring tak berdaya di atas kasur ini 3 tahun lamanya. Sejak dokter memvonis tumor otak dan di kepalaku ada cairan berlebih yang tidak dapat dikeluarkan. Dokter memprediksi kehidupanku yang akan lebih singkat dari hitungan manusia. Sejak saat itu, seluruh raga dan jiwaku lunglai tak berdaya. Bayangan kematian selalu di depan mata. Tapi semua sudah kupersiapkan untuk menghadap ilahi, secara lahir dan batin.

            Aku seorang suami dari istri yang sangat kuat menurutku. Rustiyah namanya. Aku dikaruniai 2 anak perempuan, Wiya dan Eta biasa kupanggil. Pekerjaanku wiraswasta yang menurut teman-temanku aku tergolong sukses. Tapi entah kenapa, kesuksesanku membawaku ke dunia malam yang tidak ada batasnya.

Hampir setiap hari aku pulang pagi dengan kondisi badan lusuh akibat kehidupan malam di club atau café. Tapi dengan setia Rusti istriku membukakan pintu dan langsung membawaku ke tempat tidur, sambil dia berbisik lirih, “Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk membasuh kaki Bapak”.

Seperti biasa sekitar jam 9 aku sudah selesai mandi pagi dengan air hangat yang selalu disiapkan sang istri. Setelah sarapan, aku berangkat bekerja. Istriku selalu berpesan kepadaku, “Hati-hati ya Pak…”. Anak-anakku juga selalu berteriak saat aku pergi kerja, “Bapak cepat pulang ya…”. Tapi aku hanya berlalu saja, seakan tak mendengar ucapan mereka.

Suatu ketika, saat aku pulang pagi dalam kondisi sempoyongan bersama seorang perempuan, istriku dengan cekatan langsung meraihku dan mempersilahkan perempuan itu langsung pergi, tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu. Aku langsung dibawanya ke kamar. Dengan cekatan, pakaianku digantinya dan dibaringkannya aku di tempat tidur. Seperti biasa, dia berucap lirih, “ Bapak istirahat dulu ya…Ibu siapin air hangat untuk membasuh kaki Bapak”.

Saat aku bangun sekitar jam 9, terasa kepalaku pusing tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku. “Rusti….”, panggilku kepada istri. Rupanya dia tidak mendengar, mungkin saat itu masih di dapur atau di kamar mandi. “Rusti…”, panggilku kembali. Ternyata Wiya anakku sulung yang datang. “Bapak kenapa? Bapak tidak pergi kerja?”. “Panggilkan Ibumu, cepat”. Sambil aku meringis menahan sakit kepalaku. Wiya berlari sambil teriak-teriak memanggil ibunya. Rustipun datang sambil membawa teh hangat untukku. “Bapak kenapa?”. Sapanya kepadaku saat masuk kamar. “Antarkan aku ke dokter. Kepalaku sakit sekali tidak seperti biasanya”.

Setelah diperiksa dokter di rumah sakit, aku dipersilahkan istirahat di pembaringan. Istriku memandangku dengan tatapan sayu. Menatapku tanpa kedip, melihatku dengan rasa iba. “Pak…Bapak yang sabar ya..”. Ucapnya dengan halus kepadaku. Seperti biasa, istriku memang orang yang lemah lembut. Tapi aku yang selama ini membuat dia biasa saja. “Bagaimana dengan hasil pemeriksaan kepalaku?”, aku bertanya dengan nada lemah. “Bapak boleh pulang kok…tapi nunggu resep obat dulu dari dokter”.

Malam ini aku tidak keluar ke club atau café seperti hari-hari yang lalu. Aku di rumah saja karena badanku terasa lemah akibat kepalaku yang pusing berat. Pagi hari aku tetap pergi bekerja. Hari itu di tempat kerja aku pingsan, oleh rekan kerjaku aku diantar pulang. Istriku kaget, melihat aku lemas sambil memegangi kepalaku. Kembali aku diantar ke dokter. Kuberanikan diri untuk bertanya ke dokter tentang kepalaku. Dokter dengan tenang menjelaskan penyakit yang kuderita. Aku terkena tumor otak selain itu ada cairan di kepalaku yang sulit untuk dikeluarkan. Itu yang menyebabkan sakit sekali kepalaku.

Sejak vonis dokter itu, aku sering pingsan. Entah kenapa, sakit di kepalaku bertambah, seperti dunia akan runtuh. Sejak saat itu kehidupanku berubah 180o. Sekarang bisnisku ku serahkan rekan kerjaku dengan kesepakatan hasil.

Istriku membawaku ke rumahsakit. Dokter menyarankan aku operasi. Tapi aku tidak menuruti saran dokter. Bayangan operasi membuat aku tambah drop, kepalaku akan di belah seperti digergaji. Mungkin semua ini akibat kesalahanku masa lalu terhadap istri dan anak-anakku terutama tuhan yang telah memberiku segalanya. Aku melupakanNya.

Aku lebih banyak di rumah, pekerjaanku hanya berbaring sambil meringis memegangi kepala yang semakin sakit. Kepalaku yang sakit tapi kenapa semua badanku juga terasa sakit dan lemas. Seakan memang hidupku tinggal sesaat. Kubayangkan semua kesalahan dalam hidupku membuat semakin sakit kepalaku. Kehidupan malam dengan minuman keras, perempuan malam dan barang haram lainnya. Kuabaikan istri dan anakku, mereka hanya aku anggap sebagai pelengkap penderita saja. Memang istri dan anakku tak pernah mengeluh kepadaku, tak pernah melarang apa yang aku lakukan. Mungkin mereka memendam marah kepadaku, tapi tidak berani mengungkapkan. Istriku adalah wanita yang pandai dalam mendidik anak dan pandai memendam rasa, sehingga semua dapat terkontrol dengan baik. Tapi kenapa aku hanya menganggap dia wanita biasa saja?.

Tak terasa sudah satu tahun aku sakit, badanku tidak lagi seperkasa dulu. Sakitku datang dan pergi, jika sakit itu datang rasanya kepala mau pecah, dunia mau ambruk, sakit sekali, hanya bayangan kematian saat itu. Ternyata prediksi dokter meleset, aku masih diberi kehidupan satu tahun setelah dokter memvonisku dulu. Aku hanya mengandalkan resep obat dari dokter untuk mengurangi rasa sakit. Kehidupan ekonomiku sedikit menurun, akibat harus terus menerus membeli resep obat ke apotik. Tapi sedikitpun istriku tak pernah mengeluh.

Suatu ketika, aku memberanikan diri. “Rusti….maafkan aku, mungkin ini balasan Tuhan kepadaku, karena salahku di masa lalu padamu dan anak-anak”. Sambil kupegang tangannya dan ku cium mesra. Aku baru merasakan memperlakukan istriku semesra ini. “Bapak tidak perlu meminta maaf, aku sudah maafin Bapak sejak lama, aku ikhlas kok Pak”. Katanya sambil berlinang airmata. Kuusap airmata yang menetes di pipinya lalu kupeluk erat dia sambil kubisikan berkali-kali kalimat permintaan maaf. Sejak saat itu serasa hati ini tenang dan nyaman. Rasanya ada kehidupan baru dalam jiwaku, meski tetap aku menahan sakit di kepalaku.

Suatu ketika rusti berbicara lembut. “Bapak sholat yukk….biar Allah juga maafin Bapak”. Aku malu rasanya, sudah lama kutinggalkan kewajiban itu. Aku mengikuti ajakan istriku, meski aku belum bisa jadi imam untuk keluargaku. Sakit sekali kepalaku saat kupakai sujud. Saking sakitnya aku pernah pingsan saat sholat. Setelah kejadian itu, istriku menyarankan aku sholat dalam posisi duduk atau berbaring saja. Posisi ini aku rasakan lebih nyaman. Seusai sholat kupanjatkan pertaubatanku dan tak lupa aku memohon do’a perlindungan dan petunjukNya.

Sore itu ada tetangga, namanya Ummi Anne yang menjengukku. Aku malu, karena aku tergolong warga yang jarang bersilaturahim ke tetangga, tapi untung istriku tetap melakukan itu. Ummi Anne menyarankan agar aku berobat alternatif dan melakukan amalan shodaqoh sebanyak-banyaknya yang diniatkan khusus untuk kesembuhanku. Istriku menyarankan aku mengikuti saram ummi anne.

Sejak saat itu, aku mengikuti saja apa yang dilakukan istriku. Dia mengajak aku berobat alternatif. Di tempat alternatif, aku hanya diminta untuk hening menenangkan diri, memusatkan pikiran dan focus hanya pada sang pencipta. Seraya berdo’a memohon pertolongan Sang Pencipta. Pulangnya aku diberikan ramuan yang harus diminum 2 hari sekali. Aku pergi ke alternatif  2 minggu sekali.

Istriku meminta ijin untuk menjual mobil dan motor yang memang sudah lama tidak kupakai akibat sakit ini. Cukuplah satu motor yang digunakan istri sebagai alat transportasi harian. Istriku juga akan menjual seluruh perhiasannya. Ternyata uang yang kuberikan tidak semua digunakan untuk kebutuhan harian, dia membelikan perhiasan dan menyimpannya. Memang istriku tidak banyak menggunakan perhiasan, hanya sebuah kalung dan cincin yang dulu aku berikan saat menikahinya.

“Pak…aku pergi dulu ke beberapa yayasan yatim piatu dan beberapa masjid untuk memberikan shodaqoh hasil penjualan mobil dan perhiasan, Bapak baik-baik di rumah ya…ada wiya dan eta jika Bapak perlu apa-apa”. Ucapnya sebelum meninggalkan rumah. “Mohonkan do’a kepada anak-anak itu untuk kesembuhanku”, pesanku kepadanya sebelum dia berlalu. Aku lupa, aku masih punya simpanan tabungan yang istriku sendiri tidak tahu. Segera ku hubungi teman-temanku untuk mencari anak-anak yatim dan fakir miskin dari langganan usahaku. Kuserahkan semua simpanan tabunganku untuk shodaqoh kepada anak yatim dan fakir miskin.

Tahun kedua dan ketiga masa sakitku ku isi dengan mendekatkan diri kepada Yang Kuasa dan shodaqoh tiada henti. Kembali, ternyata Tuhan masih memberiku kehidupan. Suatu hal yang tidak mungkin jika mendengar vonis dokter saat itu. Aku merasa punya kehidupan yang lebih baik, meski secara ekonomi berkurang, tapi kenikmatan dan kenyamanan hidup kurasakan berbeda dengan sebelumnya. Istriku juga terlihat berbeda, wajahnya begitu berseri setiap melihat perubahanku. Akupun demikian, ku perlakukan dia dan anak-anak secara lemah lembut, aku lebih perhatian.

Dalam sholatku selalu kupanjatkan do’a perlindungan, kuminta kepada Allah, jika memang aku harus dipanggil menghadapNya lebih cepat, aku pasrahkan diri, aku telah siap menghadap Ilahi. Kupanggil anak dan istriku, aku ungkapkan semua itu, mereka semua terdiam sambil menatapku. “Bapak harus tetap optimis, kami semua selalu mendo’akan untuk kesembuhan Bapak, kami sangat sayang Bapak”. Kalimat istriku membuat mataku berkaca-kaca.

Akhir tahun ketiga dari vonis dokter, sakit di kepalaku sudah tidak aku rasakan lagi. Kembali aku bisa beraktivitas bekerja seperti dulu. Tapi ada perbedaan padaku saat ini. Selesai bekerja aku langsung pulang, sholat dan kewajiban lain tak pernah kutinggalkan. Shodaqoh tiap hari di waktu pagi tak kulewatkan. Alhamdulillah, usahaku semakin lancar, istri dan anak-anakku semakin senang melihat perubahanku.

Suatu ketika, kuajak istriku menemani pergi ke dokter untuk kontrol, setelah lama aku tidak melakukan itu karena merasa tidak lagi sakit di kepalaku. Dokter memintaku untuk menunggu hasil pemeriksaan beberapa hari lagi. Aku Kembali ke dokter untuk melihat hasil pemeriksaan, dokter menjelaskan dengan terheran-heran. “Tumor yang ada di kepala Bapak dan cairan yang dulu terdeteksi tidak ada sama sekali, bersih …”, kalimat dokter yang membuat aku dan istriku menganga keheranan. “Benarkah dok…tidak ada yang salahkah dalam pemeriksaan??”, aku meragukan tim medis rumah sakit ternama itu. “Apa yang Bapak amalkan selama sakit, sehingga bapak diberikan keajaiban oleh Tuhan?”. Kembali dokter bertanya, langsung mengingatkanku pada amalan shodaqoh.

Kuhabiskan hartaku untuk shodaqoh dengan niat ihlas memohon kesembuhan atas diriku. “Ya Allah…terima kasih engkau telah mengembalikanku pada kehidupan yang lebih baik”, ucapku saat meninggalkan rumah sakit sambil ku pegang erat tangan istriku seakan tak ingin kulepaskan tangan ini. Tangan inilah yang selama ini merawatku, tangan inilah yang selalu menadah pada Yang Kuasa untuk mendo’akanku dan tangan inilah yang merawat anak-anakku dengan sabar dan tak kenal lelah.

Ku undang semua saudara, teman dan tetangga ke rumahku sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhanku. Tak lupa kusisihkan shodaqoh untuk anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitarku. Semua merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan saat ini. Bahagia yang tak terhingga, syukur yang tiada tara.

 

 

 

 

 

CERPEN KETIKA AKU JATUH CINTA

 KETIKA AKU JATUH CINTA

Aku biasa dipanggil Julian. Anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku bernama Abid dan adik bungsuku yang paling cantik dipanggil Vivi. Aku tinggal bersama orangtua yang hidup dalam ekonomi berkecukupan. Aku dibesarkan di lingkungan orangtua yang beda keyakinan. Ayahku pemeluk Islam taat dan Ibuku katolik yang juga taat, karena beberapa saudara ibuku menjadi pendeta. Aku menempuh pendidikan menengah atas di sekolah Kristen yang terkenal di kotaku.

Meski aku dibesarkan dalam lingkungan yang beda agama, namun tak pernah kujumpai Ayah dan Ibuku terlibat pertengkaran karena beda keyakinan. Mereka sama-sama saling menghormati dan menjunjung tinggi arti toleransi. Ibuku orangnya sangat keras dalam mendidik anak, sehingga pendidikan di rumah dominan melewati ibu. Sementara ayahku focus pada mencari nafkah mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Karena kami lebih dekat dengan ibu, maka secara otomatis keyakinan kami mengikuti keyakinan ibu. Meski demikian, ayahku tidak mempersoalkan masalah itu. Seperti biasa, setiap hari minggu kami ke Gereja untuk mengikuti kebaktian bersama ibu dengan diantar oleh ayah. Demikian juga dalam acara-acara keagamaan islam. Pada saat ayah melaksanakan ibadah puasa ramadhan, ibu selalu menyiapkan menu buka puasa bersama, meski kami tak ikut puasa dan ibu tetap menyiapkan hidangan untuk makan sahur. Pada saat hari raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha ibu selalu menyiapkan hidangan special menyambut hari raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha untuk ayah.

Seperti biasa, aku pulang sore setelah main basket di sekolah. Sesampai di rumah kuhidupkan televisi sambil santai sejenak. Saat adzan maghrib di TV terdengar, kupindahkan canel TV mencari acara lain selain adzan. Entah mengapa setiap aku mendengar suara adzan, ada rasa jengkel dalam hati. Suara yang mengganggu keasyikan orang yang lagi santai, mengganggu orang yang sedang asyik nonton tiba-tiba berhenti gara-gara adzan. Demikian seterusnya, setiap aku mendengar adzan, aku ganti canel atau aku matikan TV dan masuk kamar dengan hati mendongkol. Ingin aku mengumpat, marah dan teriak, tapi pelajaran toleransi ibuku sangat kuat di rumah ini.

Suatu ketika, saat sore hari pulang dari bermain basket, seperti biasa aku nonton TV, kebetulan adikku yang bungsu sedang nonton film kartun. Tiba-tiba ibuku memanggil, “Vivi … waktunya belajar, masuk kamar!”. Vivipun berlari masuk kamar tanpa mengindahkanku. Vivi tahu sifat ibuku, orangnya keras, jika tidak menurut kata-katanya, bakalan kena marah. Tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib dari televisi. Aku berniat memindahkan canel TV, namun kucari remote control itu tidak ada. Di dekat TV, di bawah bantal kursi, di karpet, kubolak-balik bantal kursi berkali-kali tidak kutemukan benda hitam yang berfungsi memindahkan canel dan mematikan TV itu. Ingin rasanya langsung mematikan TV itu, tapi tak kutemukan alat itu.

Namun tiba-tiba secara tersentak hati ini ingin mendengar suara adzan di TV itu. Saat  kulihat lafadz serta terjemahan yang ada, ditambah lagi kalimat-kalimat tambahan dari stasiun TV itu, hati ini serasa bergetar. Getaran itu bertambah kencang dan mendadak serasa dingin sekujur tubuhku saat ku dengar kalimat “Hayya Alas Sholah – Hayya Alal Falah”, “marilah mendirikan sholat – marilah menuju keberuntungan dan keselamatan”. Belum pernah aku merasakan kedinginan seperti ini. Kutuntaskan aku mendengar suara adzan dan kucermati tulisan-tulisan itu sampai selesai, tiba-tiba kedinginan yang kurasakan tadi berubah menjadi kehangatan yang tak pernah kurasakan selama ini.

Sejak saat itu, setiap kudengar adzan, sejuk menyelimuti jiwaku, tenang serasa hatiku, tidak pernah kurasakan sedamai ini hatiku. Aku bingung, biasanya aku begitu benci dengan suara itu. Entah itu yang terdengar melalui toa-toa masjid ataupun yang terdengar di TV, aku selalu mengejeknya, meski dalam hati.

Sekarang, setiap pulang bermain basket, aku selalu duduk manis di depan TV menanti adzan maghrib. Entah mengapa, sejak kejadian itu, keinginan mendengar suara adzan sangat kuat. Meski kadang-kadang ibuku dengan sengaja mematikan TV secara tiba-tiba dengan berkata, “ayo cepetan mandi, keburu malam airnya semakin dingin”. Dengan berat hati, aku langsung masuk kamar dengan rasa kecewa. Kejadian aku dimarah ibuku saat menonton adzan maghrib ini hampir setiap hari.

Suatu hari aku bercerita pada adikku Abid yang kebetulan sekamar denganku. Kuceritakan peristiwa yang menimpa diriku dan perubahan dalam hatiku. Abid ternyata juga diam-diam melihat perubahan yang terjadi pada diriku, lebih tenang dan lebih bersahaja. Kelontarkan ideku untuk mencoba belajar tentang Islam secara diam-diam mendapat respon positif dari Abid.

Aku pergi ke toko buku bersama Abid. Kucari di rak-rak itu buku bertuliskan tuntunan sholat. Uang jatah sekolahku dan Abid kugunakan untuk membeli buku itu. Mampir juga ke toko peralatan sholat. Kubeli satu saja sajadah sebagai alas sholat untuk berdua. Aku tidak membeli sarung, karena kulihat, di sekolahku, saat sholat tetap menggunakan celana panjang, takut ketahuan oleh ibuku. Sampai di rumah, kami pelajari buku sholat itu berdua sambil mempelajari gerakannya. Saat tidak digunakan, buku dan sajadah itu kami simpan di laci yang tidak mungkin dibuka oleh ibuku.

Suatu ketika, saat kami sedang belajar sholat di kamar, ibuku memanggil-manggil, “Juli…Abid…ayo makan…cepat keluar!”. Saat itu kami tidak langsung keluar kamar. Ibuku mendekati kamar kami dengan mengetuk kamar keras-keras. “Juli… Abid… kenapa kalian sekarang selalu kunci kamar?, ada yang kalian sembunyikan ya?”, Tanya ibuku dengan heran. Kami sedikit takut saat ibu membuka pintu, tiba-tiba ibuku langsung menerobos ke dalam kamar. Untungnya semua peralatan sudah kami simpan rapat-rapat, sehingga ibuku tak menemukan apapun di kamar kecuali buku-buku pelajaran dan baju-baju kami yang berantakan. Biasalah kamar laki-laki tidak seperti kamar perempuan yang selalu rapi. Vivipun berlarian ke kamarku. Tapi untungnya Vivi segera mengajak ibu keluar dari kamar menuju meja makan.

Saat di meja makan, ibu berkata, “jangan suka mengunci kamar, ibu gak suka anak laki-laki mengunci kamar”. Kemudian ayah menyahut dengan tenangnya, “biarlah Bu, namanya anak ingin menjaga privasinya, yang penting tidak berbuat macam-macam. Bukan begitu para jagoan Ayah?”. Sambil mengerlingkan dahinya ayah melirik ke kami. Kami berdua senyum-senyum merasa lega.

Setiap hari, kami tak melewatkan sholat lima waktu, meski kami melakukannya secara diam-diam. Sampai akhirnya bulan Ramadhan itu datang. Aku dan Abid tak ingin melewatkan bulan itu begitu saja. Kami juga ingin menikmati seperti umat islam lain. Saat Ayah makan sahur, kami ikut nimbrung dengan alasan ikut menemani ayah. Awal-awal ibuku selalu menyuruh kami melanjutkan tidur, tidak perlu menemani ayah, cukup ibu yang menemani. Namun karena kami laki-laki, kami beralasan kalau lihat menu makan sahur ayah menambah rasa lapar. Lama kelamaan ibuku tak kuasa juga menolak.

Saat kami mau berangkat sekolah, ibu menyuruh kami sarapan. Namun dengan sopan kami menjawab masih terasa kenyang dengan makan sahur bersama ayah tadi. Kami sengaja pulang sekolah lebih sore dari biasanya dengan alasan ada kegiatan tambahan di sekolah. Saat ibu meminta kami makan duluan, berbagai alasan kami ungkapkan untuk bisa berbuka bersama dengan ayah. Entah itu dengan mandi berlama-lama, sudah kenyang karena ditraktir teman di sekolah, sengaja belum mandi sampai mendekati maghrib. Banyak alasan yang kami kemukakan hanya ingin melaksanakan puasa Ramadhan.

Pada saat sholat isya’ tiba, kami lebih sering sholat tarawih di kamar. Pernah sekali waktu, kami berdua pergi ke suatu masjid yang lumayan jauh dari rumah. Kami mencari masjid yang sekiranya tidak ada orang yang mengenali kami. Kami melaksanakan sholat Isya’ dan Tarawih di sana. Meski kami tidak tenang melaksanakannya, tapi kami lega bisa melaksanakannya di masjid. Pulang-pulang hari sudah malam, tak heran ibuku memarahiku. tapi kami beralasan akan ada even basket yang akan segera digelar di sekolah. Tapi lagi-lagi ayah menyelamatkan kami dari marah ibuku.

Satu bulan sudah kujalani puasa ramadhan ini. Tak terasa Iedul Fitri tiba. Sengaja kami bangun sebelum subuh, sebelum ayah dan ibuku bangun. Kami berdua bersiap-siap pergi sholat ied. Kami menyiapkan satu tas berisi baju basket lengkap, sepatu dan sajadah. Perlengkapan basket ini ku bawa, untuk memberikan alasan saat pulang sholat Ied nanti. Pelan-pelan ku keluarkan motor itu tanpa suara, Abid dengan segera menutup pagar rumah setelah kami berhasil mengeluarkan motor dari garasi.

Adzan subuh berkumandang, kami berhenti di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah, kami merapikan baju dan celana yang kami pakai. Saat kami memasuki masjid, beberapa orang yang mengenal kami, sempat menegur dengan kalimat, “ini khusus muslim, apa kalian sudah masuk islam?”, kami tersenyum ramah tanpa kata-kata. Seseorang menimbali dengan kalimat, ”biarlah… kita do’akan semoga mendapat hidayah”. Setelah sholat subuh selesai, panitia sholat Ied langsung merapikan dan membersihkan kembali masjid itu yang sebentar lagi akan digunakan untuk sholat Iedul Fitri. Kami ikut membantu panitia. Beberapa anak muda langsung mengumandangkan takbir. Saya pun diam-diam mengikuti. Sholat Iedul Fitri berlangsung lancar tanpa halangan.

Pulang dari masjid, kami telah berganti kostum basket lengkap. Saat kami masuk rumah, tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu memanggilku. Hatiku berdebar, kalau-kalau ibuku tahu dan marah. Benar juga, ibuku marah karena aku pergi tanpa pamit. Kuberikan alasan kepergianku tadi pagi tanpa pamit karena melihat kamar ibuku masih tertutup, tidak tega membangunkannya. Aku pasrah jika ibu tahu mengenai kepergianku sesungguhnya. Tiba-tiba kali ini kemarahan ibu mereda dengan sendirinya. Disuruhnya kami langsung menuju meja makan dengan hidangan opor ayam lebaran. Senangnya hatiku dan Abid tak terkira. Kenikmatan yang tak pernah kami alami seumur hidup. Puasa Ramadhan dan sholat Iedul Fitri.

Hari-hari terus kulalui dengan menyembunyikan ketertarikanku pada Islam. Aku sedih saat tidak bisa ikut berjamaah sholat di masjid. Aku dan Abid jarang keluar kamar setelah tekad kami belajar islam. Banyak buku-buku tentang islam yang kupinjam dari perpustakaan sekolah menghiasi meja belajarku. Ibuku tidak mengetahui hal itu. Beliau hanya tahu yang penting kami di kamar buka buku untuk belajar, tanpa mengetahui buku apa yang kami baca.

Suatu ketika, saat kami pulang sekolah, tiba-tiba ibu memanggilku dengan tatapan matanya yang tidak biasa. Dengan nada marah ibu berkata, “Julian…ibu tadi mendengar cerita dari ibu-ibu kompleks, bahwa kamu ternyata Iedul Fitri kemarin sholat di Masjid mereka, Benarkah ? Jawab Julian… Apa maksudnya semua ini ?”. Sambil memandang kami dengan mata terbelalak, ibu berkata lagi, “jangan main-main dengan agama Julian…”. Melihat kemarahan ibuku, entah kenapa keberanianku untuk berbicara mengalir begitu saja dengan tenangnya. Kuakui semua yang kulakukan dan kuakui bahwa selama ini aku telah belajar banyak tentang Islam dan hatiku telah terpaut dengan Islam. Tak bisa kupungkiri hati ini dan tidak bisa lagi menerima keyakinan lain. Seketika itu juga ibuku marah dengan berkata, “tidak bisa Julian… kamu dan Abid sudah dibaptis sejak kecil”. Kuceritakan peristiwa yang kualami sampai pada akhirnya aku seperti ini. Kembali ibuku bertanya, “apakah kamu sudah melakukan syahadat di depan kyai?”, kujawab, “belum bu…, tapi aku sudah ucapkan dan meyakini dalam hati”. Setelah mendengar jawabanku itu ibuku pergi berlalu masuk kamar tanpa menghiraukanku dan Abid.

Berhari-hari ibu tak menyapaku, beliau sering keluar rumah tanpa pemberitahuan seperti biasanya. Kubiarkan itu, yang penting kemarahan yang terjadi waktu itu tidak terulang. Setelah kejadian itu, aku lebih tenang menjalani, saat adzan Maghrib berkumandang, aku pergi ke masjid dekat rumah bersama Abid sampai sholat Isya’.

Suatu sore, aku melihat Ibu meneteskan air mata sendiri di teras rumah. Kudekati ibu sambil kupegang tangannya dan kucium meminta maaf. Melihat aku, ibu bertambah menangis, kemudian mengusap kepalaku sambil berkata, “Julian…sudah bulatkah kamu pindah keyakinan?”, kujawab dengan singkat, “sudah Bu”, ibuku melanjutkan kata-katanya, “jika kamu memang sudah benar-benar yakin akan keputusanmu, kamu harus total, tidak boleh setengah-setengah, besok kamu dan Abid ikut Ibu”.

Aku dan Abid di bawa oleh ayah dan ibu ke rumah kyai yang tinggal di kompleks kami. Kulihat mata ayah dan ibu berkaca-kaca mendengar penjelasan kami. Setelah kami ngobrol tentang keputusan kami, Kyai itu membawa kami ke masjid saat sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur, kami dituntun untuk mengucap dua kalimat syahadat disaksikan oleh para jamaah sholat dhuhur saat itu. Secara bergantian ayah dan ibu memeluk kami, mereka meneteskan air mata haru, kamipun ikut menangis dipelukan mereka. Aku meminta maaf kepada ibu, karena selama ini banyak berbohong menutupi ketertarikanku pada Islam.

Dalam beberapa hari yang lalu, saat ibu tidak menyapaku dalam waktu yang lama, ternyata secara diam-diam, ibuku pergi ke beberapa teman-temannya untuk berkonsultasi tentang aku dan abid. Dalam konsultasinya, ibu banyak mendapatkan pencerahan dan nasehat sehingga ibu mau membuka pintu hatinya untuk menerima keputusanku. Suatu hari, ibu mengetuk pintu kamarku dengan membawa sebuah bungkusan besar. “Julian…Ibu tidak bisa membimbingmu lagi seperti dulu, Ibu hanya bisa memberikan ini (dengan menyodorkan bungkusan itu)”, ucapan ibu lirih. Aku menerima bungkusan itu dengan banyak tanda tanya. Sambil berlinang air mata ibu melanjutkan kalimatnya, “bukalah nak… semoga ini bisa bermanfaat”. Kubuka bungkusan itu, ternyata isinya diluar dugaanku. Selama ini ibu keluar rumah tanpa pamit, ternyata mencari perlengkapan ibadahku dan bahan bacaan islam. Sarung, sajadah, peci, baju koko, Al-Qur’an terjemahan dan beberapa buku bacaan islam. Ibu berkata lagi, “kamu dan Abid harus pindah sekolah, Ibu sudah memilihkan sekolah terbaik untukmu”, aku menimpali kalimat ibu, “kenapa harus pindah sekolah Bu, aku sudah nyaman di sekolah yang sekarang”, kembali ibu menegaskan, “Ibu sudah mendaftarkanmu di sekolah Islam terbaik, kamu tidak cocok lagi di sekolah Kristen”. 

Aku terharu dengan semua yang aku terima dari ibu. Dibalik sifat kerasnya ibuku yang beda keyakinan, menyimpan rasa sayang kepadaku yang begitu besar. Aku menghamburkan diri dipelukan ibuku dengan menangis tiada henti.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa aku telah lulus dari sekolah menengah atas. Kulanjutkan pendidikan tinggiku sampai pada akhirnya keinginan untuk mengajak ibu menggapai hidayah tiba. Dengan segala usaha kulakukan untuk membujuk ibuku, namun tak juga berhasil. Akhirnya kupasrahkan semua pada Allah SWT untuk membuka hati ibuku.

PUISI RINDU KU SAAT DILARANG MUDIK

RINDUKU DI TEPI PELABUHAN

Rinduku tergeletak di sela wangi malam

Terpapar pandemi virus kesedihan

Rintihan dedaunan layu berirama

Penuh kesenduan

 

Aku lelah meniti jalan pulang

Cerobong asap kapal itu membuat ingatanku melayang

Hilang diterpa khayalan

Mimpiku pun terkecoh diantara himpitan dermaga dan kapal

 

Cintamu begitu rumit

Hingga kuterpasung pada rindu yang tak menentu

 

Sungguh aku telah lelah merampas waktu

Merobek khayalan yang berbalut kenangan rindu

Apakah aku tembus saja

Layar rindu yang dihempas angin itu?

Atau...

Aku biarkan saja rindu ini terlena di tepi pelabuhan?

 

Sungguh...

Terpenjara dalam kerinduan itu sangat menyedihkan

PUISI RUMAH KEDUA

 RUMAH KEDUA

Alam hangat mentari pagi

Aku menatap ke segala penjuru

Asri tak pernah berubah

Alangkah indah dipandang

            Di sinilah tempatku mendapat rizki

            Di sinilah tempatku mengais pahala

            Di sinilah tempatku menuangkan karya

            Di sinilah tempatku menjadi mulia

Engkau insan terunikku

Engkau inspirasiku

Engkau semangatku

Engkau ladang pahalaku

            Semua ilmu kutorehkan

Semua waktu kucurahkan

Semua tenaga kukorbankan

Semua harapan kusandarkan

Keluarga besar tanpa ikatan

Hidup dalam tautan emosi

Berkumpul tanpa ada rencana

Di rumah kedua

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...