KETIKA AKU JATUH CINTA
Aku biasa dipanggil Julian. Anak
pertama dari tiga bersaudara. Adikku bernama Abid dan adik bungsuku yang paling
cantik dipanggil Vivi. Aku tinggal bersama orangtua yang hidup dalam ekonomi berkecukupan.
Aku dibesarkan di lingkungan orangtua yang beda keyakinan. Ayahku pemeluk Islam
taat dan Ibuku katolik yang juga taat, karena beberapa saudara ibuku menjadi
pendeta. Aku menempuh pendidikan menengah atas di sekolah Kristen yang terkenal
di kotaku.
Meski aku dibesarkan dalam lingkungan
yang beda agama, namun tak pernah kujumpai Ayah dan Ibuku terlibat pertengkaran
karena beda keyakinan. Mereka sama-sama saling menghormati dan menjunjung
tinggi arti toleransi. Ibuku orangnya sangat keras dalam mendidik anak,
sehingga pendidikan di rumah dominan melewati ibu. Sementara ayahku focus pada
mencari nafkah mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Karena kami lebih dekat dengan ibu,
maka secara otomatis keyakinan kami mengikuti keyakinan ibu. Meski demikian, ayahku
tidak mempersoalkan masalah itu. Seperti biasa, setiap hari minggu kami ke
Gereja untuk mengikuti kebaktian bersama ibu dengan diantar oleh ayah. Demikian
juga dalam acara-acara keagamaan islam. Pada saat ayah melaksanakan ibadah
puasa ramadhan, ibu selalu menyiapkan menu buka puasa bersama, meski kami tak
ikut puasa dan ibu tetap menyiapkan hidangan untuk makan sahur. Pada saat hari
raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha ibu selalu menyiapkan hidangan special
menyambut hari raya Iedul Fitri ataupun Iedul Adha untuk ayah.
Seperti biasa, aku pulang sore
setelah main basket di sekolah. Sesampai di rumah kuhidupkan televisi sambil
santai sejenak. Saat adzan maghrib di TV terdengar, kupindahkan canel TV
mencari acara lain selain adzan. Entah mengapa setiap aku mendengar suara
adzan, ada rasa jengkel dalam hati. Suara yang mengganggu keasyikan orang yang
lagi santai, mengganggu orang yang sedang asyik nonton tiba-tiba berhenti
gara-gara adzan. Demikian seterusnya, setiap aku mendengar adzan, aku ganti canel
atau aku matikan TV dan masuk kamar dengan hati mendongkol. Ingin aku
mengumpat, marah dan teriak, tapi pelajaran toleransi ibuku sangat kuat di
rumah ini.
Suatu ketika, saat sore hari pulang
dari bermain basket, seperti biasa aku nonton TV, kebetulan adikku yang bungsu
sedang nonton film kartun. Tiba-tiba ibuku memanggil, “Vivi … waktunya belajar, masuk kamar!”. Vivipun berlari masuk kamar
tanpa mengindahkanku. Vivi tahu sifat ibuku, orangnya keras, jika tidak menurut
kata-katanya, bakalan kena marah. Tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib dari
televisi. Aku berniat memindahkan canel TV, namun kucari remote control itu
tidak ada. Di dekat TV, di bawah bantal kursi, di karpet, kubolak-balik bantal
kursi berkali-kali tidak kutemukan benda hitam yang berfungsi memindahkan canel
dan mematikan TV itu. Ingin rasanya langsung mematikan TV itu, tapi tak
kutemukan alat itu.
Namun tiba-tiba secara tersentak hati
ini ingin mendengar suara adzan di TV itu. Saat
kulihat lafadz serta terjemahan yang ada, ditambah lagi kalimat-kalimat
tambahan dari stasiun TV itu, hati ini serasa bergetar. Getaran itu bertambah
kencang dan mendadak serasa dingin sekujur tubuhku saat ku dengar kalimat “Hayya Alas Sholah – Hayya Alal Falah”, “marilah mendirikan sholat – marilah menuju
keberuntungan dan keselamatan”. Belum pernah aku merasakan kedinginan
seperti ini. Kutuntaskan aku mendengar suara adzan dan kucermati
tulisan-tulisan itu sampai selesai, tiba-tiba kedinginan yang kurasakan tadi
berubah menjadi kehangatan yang tak pernah kurasakan selama ini.
Sejak saat itu, setiap kudengar
adzan, sejuk menyelimuti jiwaku, tenang serasa hatiku, tidak pernah kurasakan
sedamai ini hatiku. Aku bingung, biasanya aku begitu benci dengan suara itu.
Entah itu yang terdengar melalui toa-toa masjid ataupun yang terdengar di TV,
aku selalu mengejeknya, meski dalam hati.
Sekarang, setiap pulang bermain
basket, aku selalu duduk manis di depan TV menanti adzan maghrib. Entah
mengapa, sejak kejadian itu, keinginan mendengar suara adzan sangat kuat. Meski
kadang-kadang ibuku dengan sengaja mematikan TV secara tiba-tiba dengan
berkata, “ayo cepetan mandi, keburu malam
airnya semakin dingin”. Dengan berat hati, aku langsung masuk kamar dengan
rasa kecewa. Kejadian aku dimarah ibuku saat menonton adzan maghrib ini hampir
setiap hari.
Suatu hari aku bercerita pada adikku
Abid yang kebetulan sekamar denganku. Kuceritakan peristiwa yang menimpa diriku
dan perubahan dalam hatiku. Abid ternyata juga diam-diam melihat perubahan yang
terjadi pada diriku, lebih tenang dan lebih bersahaja. Kelontarkan ideku untuk
mencoba belajar tentang Islam secara diam-diam mendapat respon positif dari
Abid.
Aku pergi ke toko buku bersama Abid.
Kucari di rak-rak itu buku bertuliskan tuntunan sholat. Uang jatah sekolahku
dan Abid kugunakan untuk membeli buku itu. Mampir juga ke toko peralatan
sholat. Kubeli satu saja sajadah sebagai alas sholat untuk berdua. Aku tidak
membeli sarung, karena kulihat, di sekolahku, saat sholat tetap menggunakan
celana panjang, takut ketahuan oleh ibuku. Sampai di rumah, kami pelajari buku
sholat itu berdua sambil mempelajari gerakannya. Saat tidak digunakan, buku dan
sajadah itu kami simpan di laci yang tidak mungkin dibuka oleh ibuku.
Suatu ketika, saat kami sedang
belajar sholat di kamar, ibuku memanggil-manggil, “Juli…Abid…ayo makan…cepat keluar!”. Saat itu kami tidak langsung
keluar kamar. Ibuku mendekati kamar kami dengan mengetuk kamar keras-keras. “Juli… Abid… kenapa kalian sekarang selalu
kunci kamar?, ada yang kalian sembunyikan ya?”, Tanya ibuku dengan heran.
Kami sedikit takut saat ibu membuka pintu, tiba-tiba ibuku langsung menerobos
ke dalam kamar. Untungnya semua peralatan sudah kami simpan rapat-rapat,
sehingga ibuku tak menemukan apapun di kamar kecuali buku-buku pelajaran dan
baju-baju kami yang berantakan. Biasalah kamar laki-laki tidak seperti kamar
perempuan yang selalu rapi. Vivipun berlarian ke kamarku. Tapi untungnya Vivi
segera mengajak ibu keluar dari kamar menuju meja makan.
Saat di meja makan, ibu berkata, “jangan suka mengunci kamar, ibu gak suka
anak laki-laki mengunci kamar”. Kemudian ayah menyahut dengan tenangnya, “biarlah Bu, namanya anak ingin menjaga
privasinya, yang penting tidak berbuat macam-macam. Bukan begitu para jagoan
Ayah?”. Sambil mengerlingkan dahinya ayah melirik ke kami. Kami berdua
senyum-senyum merasa lega.
Setiap hari, kami tak melewatkan
sholat lima waktu, meski kami melakukannya secara diam-diam. Sampai akhirnya
bulan Ramadhan itu datang. Aku dan Abid tak ingin melewatkan bulan itu begitu
saja. Kami juga ingin menikmati seperti umat islam lain. Saat Ayah makan sahur,
kami ikut nimbrung dengan alasan ikut menemani ayah. Awal-awal ibuku selalu
menyuruh kami melanjutkan tidur, tidak perlu menemani ayah, cukup ibu yang
menemani. Namun karena kami laki-laki, kami beralasan kalau lihat menu makan
sahur ayah menambah rasa lapar. Lama kelamaan ibuku tak kuasa juga menolak.
Saat kami mau berangkat sekolah, ibu
menyuruh kami sarapan. Namun dengan sopan kami menjawab masih terasa kenyang dengan
makan sahur bersama ayah tadi. Kami sengaja pulang sekolah lebih sore dari
biasanya dengan alasan ada kegiatan tambahan di sekolah. Saat ibu meminta kami
makan duluan, berbagai alasan kami ungkapkan untuk bisa berbuka bersama dengan
ayah. Entah itu dengan mandi berlama-lama, sudah kenyang karena ditraktir teman
di sekolah, sengaja belum mandi sampai mendekati maghrib. Banyak alasan yang
kami kemukakan hanya ingin melaksanakan puasa Ramadhan.
Pada saat sholat isya’ tiba, kami
lebih sering sholat tarawih di kamar. Pernah sekali waktu, kami berdua pergi ke
suatu masjid yang lumayan jauh dari rumah. Kami mencari masjid yang sekiranya
tidak ada orang yang mengenali kami. Kami melaksanakan sholat Isya’ dan Tarawih
di sana. Meski kami tidak tenang melaksanakannya, tapi kami lega bisa
melaksanakannya di masjid. Pulang-pulang hari sudah malam, tak heran ibuku
memarahiku. tapi kami beralasan akan ada even basket yang akan segera digelar
di sekolah. Tapi lagi-lagi ayah menyelamatkan kami dari marah ibuku.
Satu bulan sudah kujalani puasa
ramadhan ini. Tak terasa Iedul Fitri tiba. Sengaja kami bangun sebelum subuh,
sebelum ayah dan ibuku bangun. Kami berdua bersiap-siap pergi sholat ied. Kami
menyiapkan satu tas berisi baju basket lengkap, sepatu dan sajadah. Perlengkapan
basket ini ku bawa, untuk memberikan alasan saat pulang sholat Ied nanti.
Pelan-pelan ku keluarkan motor itu tanpa suara, Abid dengan segera menutup
pagar rumah setelah kami berhasil mengeluarkan motor dari garasi.
Adzan subuh berkumandang, kami berhenti
di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah, kami merapikan baju dan celana
yang kami pakai. Saat kami memasuki masjid, beberapa orang yang mengenal kami,
sempat menegur dengan kalimat, “ini
khusus muslim, apa kalian sudah masuk islam?”, kami tersenyum ramah tanpa
kata-kata. Seseorang menimbali dengan kalimat, ”biarlah… kita do’akan semoga mendapat hidayah”. Setelah sholat
subuh selesai, panitia sholat Ied langsung merapikan dan membersihkan kembali
masjid itu yang sebentar lagi akan digunakan untuk sholat Iedul Fitri. Kami
ikut membantu panitia. Beberapa anak muda langsung mengumandangkan takbir. Saya
pun diam-diam mengikuti. Sholat Iedul Fitri berlangsung lancar tanpa halangan.
Pulang dari masjid, kami telah
berganti kostum basket lengkap. Saat kami masuk rumah, tiba-tiba terdengar
suara teriakan ibu memanggilku. Hatiku berdebar, kalau-kalau ibuku tahu dan
marah. Benar juga, ibuku marah karena aku pergi tanpa pamit. Kuberikan alasan
kepergianku tadi pagi tanpa pamit karena melihat kamar ibuku masih tertutup,
tidak tega membangunkannya. Aku pasrah jika ibu tahu mengenai kepergianku
sesungguhnya. Tiba-tiba kali ini kemarahan ibu mereda dengan sendirinya.
Disuruhnya kami langsung menuju meja makan dengan hidangan opor ayam lebaran.
Senangnya hatiku dan Abid tak terkira. Kenikmatan yang tak pernah kami alami
seumur hidup. Puasa Ramadhan dan sholat Iedul Fitri.
Hari-hari terus kulalui dengan
menyembunyikan ketertarikanku pada Islam. Aku sedih saat tidak bisa ikut
berjamaah sholat di masjid. Aku dan Abid jarang keluar kamar setelah tekad kami
belajar islam. Banyak buku-buku tentang islam yang kupinjam dari perpustakaan
sekolah menghiasi meja belajarku. Ibuku tidak mengetahui hal itu. Beliau hanya
tahu yang penting kami di kamar buka buku untuk belajar, tanpa mengetahui buku
apa yang kami baca.
Suatu ketika, saat kami pulang
sekolah, tiba-tiba ibu memanggilku dengan tatapan matanya yang tidak biasa.
Dengan nada marah ibu berkata, “Julian…ibu
tadi mendengar cerita dari ibu-ibu kompleks, bahwa kamu ternyata Iedul Fitri
kemarin sholat di Masjid mereka, Benarkah ? Jawab Julian… Apa maksudnya semua
ini ?”. Sambil memandang kami dengan mata terbelalak, ibu berkata lagi, “jangan main-main dengan agama Julian…”.
Melihat kemarahan ibuku, entah kenapa keberanianku untuk berbicara mengalir
begitu saja dengan tenangnya. Kuakui semua yang kulakukan dan kuakui bahwa
selama ini aku telah belajar banyak tentang Islam dan hatiku telah terpaut
dengan Islam. Tak bisa kupungkiri hati ini dan tidak bisa lagi menerima
keyakinan lain. Seketika itu juga ibuku marah dengan berkata, “tidak bisa Julian… kamu dan Abid sudah
dibaptis sejak kecil”. Kuceritakan peristiwa yang kualami sampai pada
akhirnya aku seperti ini. Kembali ibuku bertanya, “apakah kamu sudah melakukan syahadat di depan kyai?”, kujawab, “belum bu…, tapi aku sudah ucapkan dan
meyakini dalam hati”. Setelah mendengar jawabanku itu ibuku pergi berlalu
masuk kamar tanpa menghiraukanku dan Abid.
Berhari-hari ibu tak menyapaku,
beliau sering keluar rumah tanpa pemberitahuan seperti biasanya. Kubiarkan itu,
yang penting kemarahan yang terjadi waktu itu tidak terulang. Setelah kejadian
itu, aku lebih tenang menjalani, saat adzan Maghrib berkumandang, aku pergi ke
masjid dekat rumah bersama Abid sampai sholat Isya’.
Suatu sore, aku melihat Ibu meneteskan
air mata sendiri di teras rumah. Kudekati ibu sambil kupegang tangannya dan
kucium meminta maaf. Melihat aku, ibu bertambah menangis, kemudian mengusap
kepalaku sambil berkata, “Julian…sudah
bulatkah kamu pindah keyakinan?”, kujawab dengan singkat, “sudah Bu”, ibuku melanjutkan
kata-katanya, “jika kamu memang sudah
benar-benar yakin akan keputusanmu, kamu
harus total, tidak boleh setengah-setengah, besok kamu dan Abid ikut Ibu”.
Aku dan Abid di bawa oleh ayah dan
ibu ke rumah kyai yang tinggal di kompleks kami. Kulihat mata ayah dan ibu
berkaca-kaca mendengar penjelasan kami. Setelah kami ngobrol tentang keputusan
kami, Kyai itu membawa kami ke masjid saat sholat dhuhur. Setelah sholat
dhuhur, kami dituntun untuk mengucap dua kalimat syahadat disaksikan oleh para
jamaah sholat dhuhur saat itu. Secara bergantian ayah dan ibu memeluk kami,
mereka meneteskan air mata haru, kamipun ikut menangis dipelukan mereka. Aku
meminta maaf kepada ibu, karena selama ini banyak berbohong menutupi
ketertarikanku pada Islam.
Dalam beberapa hari yang lalu, saat
ibu tidak menyapaku dalam waktu yang lama, ternyata secara diam-diam, ibuku
pergi ke beberapa teman-temannya untuk berkonsultasi tentang aku dan abid.
Dalam konsultasinya, ibu banyak mendapatkan pencerahan dan nasehat sehingga ibu
mau membuka pintu hatinya untuk menerima keputusanku. Suatu hari, ibu mengetuk
pintu kamarku dengan membawa sebuah bungkusan besar. “Julian…Ibu tidak bisa membimbingmu lagi seperti dulu, Ibu hanya bisa
memberikan ini (dengan menyodorkan bungkusan itu)”, ucapan ibu lirih. Aku
menerima bungkusan itu dengan banyak tanda tanya. Sambil berlinang air mata ibu
melanjutkan kalimatnya, “bukalah nak…
semoga ini bisa bermanfaat”. Kubuka bungkusan itu, ternyata isinya diluar
dugaanku. Selama ini ibu keluar rumah tanpa pamit, ternyata mencari
perlengkapan ibadahku dan bahan bacaan islam. Sarung, sajadah, peci, baju koko,
Al-Qur’an terjemahan dan beberapa buku bacaan islam. Ibu berkata lagi, “kamu dan Abid harus pindah sekolah, Ibu sudah memilihkan sekolah terbaik
untukmu”, aku menimpali kalimat ibu, “kenapa
harus pindah sekolah Bu, aku sudah nyaman di sekolah yang sekarang”, kembali
ibu menegaskan, “Ibu sudah mendaftarkanmu
di sekolah Islam terbaik, kamu tidak cocok lagi di sekolah Kristen”.
Aku terharu dengan semua yang aku
terima dari ibu. Dibalik sifat kerasnya ibuku yang beda keyakinan, menyimpan
rasa sayang kepadaku yang begitu besar. Aku menghamburkan diri dipelukan ibuku
dengan menangis tiada henti.
Hari berganti hari,
minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa aku telah lulus dari sekolah
menengah atas. Kulanjutkan pendidikan tinggiku sampai pada akhirnya keinginan
untuk mengajak ibu menggapai hidayah tiba. Dengan segala usaha kulakukan untuk
membujuk ibuku, namun tak juga berhasil. Akhirnya kupasrahkan semua pada Allah
SWT untuk membuka hati ibuku.