Rabu, 16 Maret 2022

DIBALIK MIE SIAP SAJI

 DIBALIK MIE SIAP SAJI

Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini bermacam-macam dengan aroma yang sedap menggoda. Hanya saja, dibalik sifat praktis dan rasanya yang sedap ini, mie instan ternyata memiliki sejumlah resiko, jika dikonsumsi secara terus menerus. Menurut sejumlah hasil penelitian, terlalu sering mengonsumsi mie instan dapat meningkatkan resiko munculnya penyakit kanker, ginjal dan usus buntu. Pada beberapa kasus, mengonsumsi mie instan berlebihan juga dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas.



Jika Anda biasanya mengonsumsi mie instan tiap hari, belajarlah untuk mulai menguranginya dengan kisaran waktu dua sampai tiga hari dan lakukan sampai Anda tidak lagi mengonsumsi mie instan sama sekali. Menurut beberapa penelitian, ternyata di dalam mie instan terdapat kandungan lilin yang membahayakan kesehatan. Kandungan lilin dalam mie instan berguna agar pada saat mie direbus maka mie tidak lengket satu dengan lainnya. Jika kita sering mengonsumsi mie instan berarti kita juga sudah memasukkan banyak kandungan lilin ke dalam tubuh kita. Kandungan lilin tersebut dapat merusak sistem kerja pencernaan dalam tubuh karena mie instan baru dapat dicerna dalam waktu minimal 2 hari.

Selain kandungan lilin, di dalam mie instan juga mengandung natrium yang dapat memicu timbulnya penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan maag. Jika mie instan dikonsumsi berlebihan dalam waktu yang cukup lama, kandungan natrium ini tentu secara signifikan dapat memunculkan penyakit-penyakit itu. Mie instan juga memiliki kandungan zat-zat lain yang dapat membahayakan kesehatan tubuh kita, seperti MSG dan penguat rasa. 

Jika Anda masih ingin mengonsumsi mie instan, namun ingin tetap sehat, maka Anda harus mengikuti saran penyajian. Dalam membuat mie instan, jangan memasak bumbu mie instan secara bersamaan dengan mienya, karena jika bumbu mie instan dimasak di atas suhu120 oC dapat memicu terjadinya sel kanker.

Sabtu, 05 Maret 2022

Teknik "LaCAk" saat Pandemi

 

Teknik Penilaian “LaCAk” saat Pandemi

Oleh :

Siti Dhomroh, S. Pd

 

Latar Belakang

Saat pandemic Covid-19 melanda negeri tahun 2020, sektor pendidikan sangat terdampak luar biasa. Semua aktivitas di sekolah terhenti dan berpindah tempat ke rumah masing-masing dengan pembelajaran online. Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa pembelajaran online ini tidak maksimal. Menyampaikan materi dan menkondisikan peserta didik saat online, jauh dari harapan. Saya tidak dapat melihat langsung bahasa tubuh mereka, respon mereka bisa menerima atau tidak terhadap materi yang diajarkan sangat sulit, akibatnya sebagai guru harus menerima hasil apapun yang dicapai peserta didik. Guru harus percaya atas apapun usaha yang dilakukan peserta didik baik saat proses belajar online maupun saat penilaian.

Hilangnya kesempatan peserta didik untuk memperoleh pendidikan secara efektif di sekolah menyebabkan penurunan penguasaan kompetensi, meskipun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merancang perubahan Kompetensi Dasar di saat kondisi darurat ini. Penilaianpun dilakukan dengan menyesuiakan keadaan.

Kondisi ini diperburuk dengan kebiasaan baru anak yang harus selalu beraktivitas dengan gadgetnya. Aktivitas melalui gadget memiliki godaan yang luar biasa, karena anak bebas mengakses semua informasi yang mereka sukai. Tak jarang mereka lalai dengan tugas sekolahnya.

Seiring dengan berjalannya waktu penurunan angka Covid-19, pemerintah memberikan ijin untuk melaksanakan PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas). Dimulai dari diperbolehkannya melakukan program “guru kunjung” sampai dengan tatap muka dengan sistem shift atau block, namun proses pembelajaran ini memiliki waktu yang sangat terbatas. Guru harus dapat menyesuaikan pembelajaran dalam keadaan dan kondisi apapun.

Proses pembelajaran pada masa transisi dan kebiasaan baru ini, peserta didik belajar kembali menyesuaikan dengan kondisi barunya. Keterbatasan waktu dan kurangnya motivasi peserta didik menuntut guru mencari cara atau solusi agar pembelajaran berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Asesmen berasal dari kata latin “Assidere” yang artinya duduk bersama atau bersebelahan. Jadi ini merupakan sesuatu yang kita lakukan bersama dengan dan untuk peserta didik. (Wiggins, Cites in Green 1998)

Seringnya peserta didik tidak mengerjakan tugas rumah saat dilakukan pemeriksaan oleh guru, menyebabkan guru berfikir untuk melakukan penilaian formatif secara langsung setelah proses pembelajaran dengan teknik “LaCAk”.

Teknik penilaian “LaCAk” atau Langsung Cepat dan Akurat merupakan cara penilaian yang dilakukan secara langsung dan segera saat pembelajaran yang berpatokan pada ketepatan hasil dan kecepatan waktu. Karena berpacu dengan waktu maka peserta didik akan berusaha aktif mencari solusi penyelesaian soal itu. Dalam penilaian ini, peserta didik berlomba untuk menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat. Peserta didik yang menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat akan mendapatkan nilai 100 dan akan berkurang nilainya seiring dengan pertambahan waktu.

Langkah-langkah

1.     Perencanaan

a.      Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang meliputi meteri yang akan dipelajari, metode yang digunakan, instrumen penilaian yang digunakan, cara penilaian dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal-soal.

b.     Menetapkan indikator rentang waktu penilaian.

 

Tingkat Kesukaran Soal

Waktu (menit)

Nilai

Mudah

0 – 1

1 – 2

2 – 3

3 – 4

4 – 5

100

90

80

70

60

Sedang

1 – 2

2 – 3

3 – 4

4 – 5

5 – 6

100

90

80

70

60

Sukar

1 – 3

3 – 4

4 – 5

5 – 6

6 – 7

100

90

80

70

60

TabTabel 1. Indikator penilaian terhadap tingkat kesulitan dan waktu

 

2.     Pelaksanaan

a.    Setelah guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan, maka sebagai tahap akhirnya adalah proses penilaian.

b.    Penilaian ini dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok (maks. 2 orang) sesuai dengan materi yang sedang berlangsung.

c.      Guru menginformasikan tata cara penilaian yang akan dilakukan.

d.    Guru memberikan soal dengan 3 kategori, yaitu mudah, sedang dan sukar. Pemberian soal dimulai dari yang paling mudah ke yang sukar secara bergantian.

e.   Soal diberikan dengan memanfaatkan smartphone yaitu melalui Quizizz, WhatsApp atau Google Forms.

f.  Melalui Quizizz, peserta didik berpacu dengan sesama temannya untuk mendapatkan peringkat teratas.

g.   Jika melalui WhatsApp, maka peserta didik dapat mengumpulkan langsung di meja guru atau di tempel di papan tulis sesuai dengan kategori waktu sesuai dengan materi saat itu.

h.     Jika melalui Google Forms, maka guru akan mengolah hasilnya berdasarkan kategori waktu pengerjaan.

i.       Penilaian ini sebagai penilaian harian yang digunakan untuk perhitungan dalam pengolahan nilai rapor.



                                         Gb.1 Pelaksanaan Penilaian LaCAk


Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan dalam menggunakan teknik penilaian “LaCAk”, antara lain :

1.     Peserta didik termotivasi untuk belajar fisika.

2.     Peserta didik lebih aktif dan cekatan menyelesaikan soal-soal fisika.

3.     Peserta didik lebih mandiri dan percaya diri dengan kemampuannya.

4.     Guru menghargai hasil belajar peserta didik karena usahanya.

Sedangkan kelemahan menggunakan teknik penilaian “LaCAk”, antara lain:

1. Peserta didik yang memiliki kemampuan rendah, terlihat gugup dalam menyelesaikan soal.

2. Peserta didik yang malas, berusaha mencari contekan temannya agar cepat selesai.

3. Memerlukan waktu untuk penilaian.

 

Respon Peserta Didik

Untuk mengetahui tanggapan peserta didik tentang teknik penilaian “LaCAk” ini, penulis menyebarkan survei angket dengan menggunakan Google Forms dan meminta beberapa peserta didik memberikan testimoninya.

Hasil survey angket diperoleh 87% peserta didik menyukai proses pembelajaran dengan penilaian langsung dan cepat, 98% peserta didik termotivasi dengan teknik “LaCAK” dan 92% peserta didik menginginkan teknik penilaian ini digunakan untuk semua materi.


  

                                                    Gb.2 Testimoni Penilaian LaCAk

Dari testimoni peserta didik mengatakan bahwa teknik penilaian langsung dan cepat, membuat mereka termotivasi untuk belajar dan menyegerakan untuk menyelesaikan soal.

 

Tindak Lanjut

Pada masa PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas), teknik penilaian ini dapat mengatasi masalah learning loss dan rendahnya motivasi belajar peserta didik akibat pandemik Covid-19. Teknik penilaian ini dapat juga digunakan oleh guru mata pelajaran lain dengan menggunakan variasi soal berdasarkan kekhasan mata pelajaran itu. Untuk peserta didik yang memiliki motivasi rendah, Teknik penilaian “LaCAk” ini dapat digunakan sebagai solusi penilaian kapan saja dan di mana saja dengan menggunakan teknologi komunikasi.

Ibu dalam Irama Gadget

 

Ibu dalam Irama Gadget

Oleh : Siti Dhomroh

 

Siapa yang tidak kenal benda yang satu ini. Bendanya kecil, pintar, simple bisa dibawa kemanapun dan bisa menyimpan data seperti memori otak manusia. Anak belum genap berumur satu tahun saja sudah mengenal benda ini melalui ibunya. Iya…betul…gadget. Sebuah alat komunikasi yang memiliki banyak fungsi dengan dilengkapi berbagai macam fitur yang berbeda. Gadget ini selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman saat ini.

Gadget bisa mengakses informasi yang dibutuhkan dengan tak terbatas. Dengan adanya alat ini, kita didekatkan dari yang jauh, namun juga dijauhkan dari yang dekat. Bagaimana tidak? Jika kita telah asyik dengan gadget maka kita akan lupa dengan sekitar kita, lupa dengan waktu yang telah menjadi prioritas hidup kita. Kita mampu berjam-jam bersama dengan gadget, namun kita tidak mampu berlama-lama dengan Sang Pemilik Hari.

Seorang suami atau istri, jika sedang berada dalam dunia gadgetnya maka mereka tidak memperdulikan satu dengan yang lain. Akibatnya sering terjadi pertengkaran antara suami dan istri, karena merasa sudah tidak lagi dipedulikan, tidak lagi diperhatikan, mereka lebih mementingkan gadget. Demikian juga anak dan orangtua, jika mereka sudah memegang gadget, maka perhatian keduanya semakin berkurang. Sering terjadi, anak asyik dalam dunianya sendiri, begitupun orangtuanya. Mereka tidak lagi harmonis dalam keluarga, tidak ada lagi canda tawa, senda gurau yang saling membahagiakan.

Saat ada kegiatan berkumpul, rapat resmi ataupun pertemuan-pertemuan tidak resmi, kadang kita tidak focus lagi tentang apa yang sedang dibahas dalam kegiatan itu, dikarenakan masing-masing orang asyik sendiri dengan gadgetnya. Saat salah seorang berbicara, maka sikap yang terlihat adalah tetap asyik melihat gadget. Karakter inilah yang sekarang tumbuh di semua lapisan masyarakat.

Seorang ibu jika melihat anaknya sedang rewel menangis, saat diberikan gadget, maka saat itu akan langsung terdiam, mereka berfikir bahwa dengan diberikannya gadget ini akan menjadikan solusi bagi si anak. Jika seorang ibu paham betul tentang bahaya gadget, maka langkah itu tidak akan diambil. Gadget akan mengurangi fungsi syaraf motorik anak dan akan mengganggu fungsi organ-organ lain anak yang masih normal. Anak akan mengalami gangguan tumbuh kembangnya secara normal.

Gadget…oohhh….gadget, engkau begitu penting, melebihi pentingnya dompet. Buktinya saat gadget kita ketinggalan atau hilang, maka kita akan kebingungan seperti orang yang kehilangan identitas. Begitulah efek penggunaan gadget yang sungguh luar biasa di semua kalangan.

Sebagai seorang ibu dan sekaligus guru bagi anak-anak, seharusnya memberikan contoh penggunaan gadget saat di rumah maupun saat berkumpul bersama. Sebagai awal pondasi pendidikan seorang anak adalah keluarga, di mana seorang ibu adalah guru pertama bagi anak. Bahasa yang dikenal anak pertama kali adalah bahasa ibu. Oleh karena itu, begitu besar peran ibu dalam masa tumbuh kembang anak sampai anak itu mengenal lingkungan luarnya. Ibulah yang memberikan pendidikan dasar pada anak agar anak tumbuh sesuai kodrat alam dan zamannya. Karena sejatinya pendidikan itu adalah tuntunan untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Irama zaman saat ini begitu gegap gempita dengan berbagai macam jenis gadget dan perangkatnya. Kita dan anak-anak kita tidak bisa lepas dari irama itu. Ditambah lagi dengan kondisi lingkungan anak yang juga sangat mempengaruhinya. Di sinilah peran seorang ibu sangat dibutuhkan. Kontrol penggunaan gadget saat di rumah ataupun saat berkumpul bersama sangat diperlukan. Namun demikian seorang ibu terlebih dahulu harus memberikan contoh teladan dalam penggunaan gadget.

Hal-hal yang harus dilakukan sebagai seorang ibu dalam membatasi dan mengontrol penggunaan gadget pada anak antara lain :

1.     Meluangkan waktu bersama

Seorang anak sejatinya tidak membutuhkan orangtua yang kaya harta, namun mereka lebih membutuhkan orangtua yang kaya dengan waktu. Dalam irama zaman sekarang, bagi orangtua juga berat, dengan banyaknya tuntutan hidup. Meluangkan waktu bersama keluarga adalah hal yang sangat mahal untuk kondisi saat ini. Mengingat anak dan orangtua memiliki kesibukan sendiri-sendiri, dunia mereka sendiri-sendiri akibat pengaruh gadget saat ini.

Sejatinya kebersamaan bersama dengan keluarga sangat dinantikan oleh anak. Apalagi saat orangtua mengajak anak untuk bermain bersama, makan minum bersama, pergi bersama, mandi bersama, mengobrol dan bercerita bersama tentang kegiatan mereka sehari-hari. Begitu indah kebersamaan ini jika dilakukan rutin antara anak dan orangtua.

2.     Membuat kesepakatan jadwal penggunaan gadget

Orangtua harus membuat kesepakatan jadwal dalam penggunaan gadget bersama anak. Terutama bagi anak-anak yang masih usia sekolah. Kesepakatan jadwal ini bertujuan agar anak dapat memanfaatkan waktu sesuai dengan aktivitasnya. Kesepakatan ini melibatkan anak, karena mereka akan berfikir mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Terutama saat waktu belajar, makan, aktivitas fisik lain, berkumpul bersama dan beribadah. Waktu-waktu ini tidak diperbolehkan dilakukan bersamaan dengan aktivitas penggunaan gadget. Namun demikian orangtua juga harus melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan.



3.     Memberitahu bahaya penggunaan gadget

Sebagai orangtua tentu sangat menyayangi buah hati belahan jiwanya. Saat berkumpul bersama itulah momen yang tepat untuk memberitahu sang buah hati tentang bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan gadget yang berlebih. Tentu dengan bahasa seorang ibu dengan menyesuaikan umur anak. Tidak perlu sampai menakut-nakuti, tapi kita ajak anak untuk sedikit berfikir dengan menunjukkan bukti-bukti ilmiahnya.

4.     Mengajak anak untuk beraktivitas fisik

Anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan kegiatan fisik. Dengan kegiatan fisik inilah saatnya anak untuk melupakan gadget sejenak. Saat anak asyik dengan gadgetnya, perlu diingatkan bahwa temannya sedang menunggu untuk beraktivitas di luar. Ini penting dilakukan agar ada keseimbangan dalam semua organ anak. Aktivitas fisik ini antara lain olahraga, bermain ataupun aktivitas lainnya yang berhubungan dengan gerak motorik.

5.     Bersikap disiplin dan tegas

Bersikap disiplin dan tegas dilakukan tidak hanya pada anak, namun juga untuk diri sendiri bahkan pada pasangan. Tegas pada diri sendiri dan pasangan ini penting sekali untuk memberikan contoh pada anak bahwa aturan itu berlaku untuk semua anggota keluarga. Saat salah satu anggota keluarga melanggar aturan, maka sanksi tetap harus diberlakukan pada anggota yang melanggar. Sebagai pioneer dalam keluarga adalah orangtua.

6.     Memberikan permainan atau tugas alternatif

Memberikan permainan atau tugas alternatif pada anak adalah salah satu cara untuk melepaskan gadget dari tangan anak. Meski itu hanya sementara waktu, namun waktu yang sedikit itu akan membuat anak melupakan gadgetnya. Jika anak masih usia sekolah dasar maka permainan semisal ulat tangga, dakon, puzzle, tebak kata atau permainan lain seusia mereka adalah alternatif pengganti gadget. Namun untuk anak-anak usia sekolah menengah, maka orangtua harus memberikan tugas harian sebagai target belajar mereka. Target tugas di sini bukan tugas sekolah, melainkan life skill pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan dan diberikan reward sebagai bentuk penilaiannya. Contohnya, tugas untuk merapikan kamar, merapikan ruangan lain, membersihkan halaman, membersihkan kamar mandi, membersihkan dapur dll.

DIBALIK MIE SIAP SAJI

  DIBALIK MIE SIAP SAJI Semua orang pasti mengenal makanan siap saji yang bernama mie instan. Selain mudah didapat, varian makanan ini ber...